Friday, December 25, 2015

Merajut Konsistensi




Saat akan mengikuti lomba menulis artikel dengan tema "Merajut Kekikinian", maka otak saya yang sudah FC alert langsung terkoneksi dengan sub tema pola makan sehat. Pola makan yang sudah saya jalani sekitar 1,5 tahun hingga saat ini. Merajut kekinian saya konotasikan sebagai usaha melakukan suatu kegiatan positif yang menjadi gaya hidup saat ini.

Merajut merupakan kegiatan yang butuh kesabaran dan ketekunan. Butuh konsistensi. Tidak mudah dilakukan bagi orang yang ingin sesuatu yang serba instant dan segera terwujud. Pekerjaan-pekerjaan kecil akan terlihat hasilnya manakala dilakukan secara konsisten. Kuncinya jangan menyerah dan putus asa sebelum target tercapai. Karena kegagalan seringkali disebabkan ketidakkonsitenan kita dalam melakukan sesuatu. Coba perhatikan bagaimana semut atau laba-laba membuat sarang. Semua dilakukan dari nol, sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan sarang yang besar dan nyaman pun selesai. Semuanya tak lain akibat kerja keras dan konsistensi mereka.

Menuliskan artikel ini sama artinya dengan menasehati diri saya sendiri. Bagaimana saya bisa konsisten terhadap pola makan yang telah saya buktikan memberi efek positif bagi kesehatan tubuh saya. Bagaimana upaya saya agar konsisten pada pola makan ini sesungguhnya kelak akan terlihat hasilnya di masa mendatang. Bahkan seringkali di tengah jalan hasilnya sudah bisa dirasakan.

Menjalani konsistensi menjaga pola makan agar selalu di track yang benar memang bukan perkara mudah. Banyak sekali godaannya. Apalagi saat ini saya tinggal di negara di Eropa yang terkenal dengan kelezatan kue-kuenya. Bagaimana saya tidak terpesona dengan krim di dalam Marsipan Kake yang lembut, tidak menempel di langit-langit mulut dan rasanya tidak terlalu manis. Perfect! Harus dicari tau nih bagaimana cara membuatnya hehe

Menikmati Marsipan Kake ini termasuk perbuatan dosa dalam paham pola makan yang saya anut saat ini. Perbuatan dosa yang halal jika dilakukan hanya 2 kali dalam seminggu. Cheating istilahnya. Yang berat adalah menjaga agar cheating ini tidak lebih dari 2 kali saya lakukan. Melanggar aturan itu artinya memberi penderitaan pada tubuh saya. Maka saya pun demam minggu lalu hikss

Usaha merajut konsistensi alhamdulillah Allah berikan jalannya. Tiba-tiba ada teman yang menyampaikan informasi tentang suatu komunitas pola makan yang saya anut. When there's a will, there's away. Saya pun mendaftar bergabung. Semoga bisa terus menjaga konsistensi melakukan pola makan sehat seterusnya.

Melakukan konsistensi berpola makan sehat harus diawali dengan sebuah mind set yang benar. Bagi sebagian orang pola makan ini mungkin dianggap ribet, njelimet dan gak menikmati hidup. Padahal untuk pola makan sehat sebenarnya tidak sesulit dan seberat yang dibayangkan. Kesalahan informasi yang mengidentikkan pola makan sehat dengan membatasi asupan makanan atau diet ketat yang menyiksa dan membuat lapar pelakunya seringkali akhirnya membuat orang malas berusaha memperbaiki pola makannya.

Ragu-ragu atau khawatir adalah suatu sikap yang harus dihindari. Bila belum yakin, galilah informasi sedalam-dalamya dari berbagai sumber. Jangan malas. Bagaimana mau melangkah lebih jauh kalau mencari informasi saja kita malas. Setelah yakin dengan informasi yang kita terima, segera eksekusi. Lakukan sekarang dan saat ini. Jangan menunda-nunda lagi. Semakin lama menunda, semakin malas kita melakukannya.

Jangan berpikir semua yang dilakukan akan sia-sia. Sekecil apapun usaha memperbaiki pola makan, pasti kelak akan terlihat hasilnya. Asalkan konsisten. Namun jangan menyalahkan orang lain bila tidak berhasil. Pasti ada yang salah dari yang kita lakukan. Cermati lalu koreksi kesalahan yang terjadi.

Semoga kita selalu konsisten terhadap kegiatan positif bagi diri kita dan orang-orang di sekeliling kita. Salam sehat!

Wednesday, November 25, 2015

Yuk, Bermain Dampu!



Pagi itu, 9 November 2015, pukul 11.00, kami ada janji dengan pihak Kattem Skole, sekolah penyesuaian bahasa bagi anak-anak yang berasal dari luar negeri yang bersekolah di Norwegia. Mereka akan mempelajari bahasa Norsk, bahas asli Norwegia sebagai bahasa pengantar di sekolah inti. Tiba pukul 10.50, kami sengaja lewat pintu belakang sekolah, kerena itu jalan terdekat dari halte bis tempat kami turun. Halaman sekolahnya sendiri tidak diberi pagar, sehingga memudahkan anak-anak yang tinggal di lingkungan Kattem Skole untuk bermain di sana. Fasilitas permainan di halaman sekolah milik masyarakat umum. Begitulah nyamannya tinggal di negara ini, masyarakat benar-benar menikmati hasil pajak yang mereka bayarkan. 

Kami tiba di sana tepat jam istirahat. Anak-anak asyik bermain diawasi bapak-ibu guru yang memakai rompi khusus, rompi dari bahan parasut berwarna terang menyolok dan ada reflectornya (garis-garis yang bisa menyala bila tersorot sinar lampu). Di antara anak-anak itu ada yang bermain bola, ayunan, perosotan, jungkat jungkit, dan ada yang bermain dampu! Ya, dampu, saya terkejut melihat permainan itu dimainkan di sini. Saya pikir itu permainan asli dari Indonesia. Ternyata bukan ya. Agak sulit melihat hubungan permainan asli Indonesia yang dimainkan oleh anak-anak Norwegia.

Lalu saya pun tertarik untuk mengambil gambar dan menuliskan status tentang dompu ini di media sosial. Beragam reaksi disampaikan teman-teman saya. Saya pun tertarik untuk mencari informasi di internet tentang asal usul permainan dampu. Lalu bertemu link ini, tentang sejarah nama dampu. Salah seorang teman SMA saya yang sekarang menetap dan menjadi guru TK di Nigeria, namun sebelumnya pernah mengajar TK di sekolah internasional di Jakarta dan Paris dalam kolom komentar menulis bahwa permainan dampu ini adalah mainan yang sangat lazim di seluruh dunia, di Amerika, Eropa bahkan Afrika. Nama Inggrisnya Hopscotch. Terima kasih ya, Eta untuk linknya.

Waktu kecil, di usia antara 7 - 11 tahun saya pun sering memainkan dampu ini. Permainan yang dibuat dari garis kotak-kotak dan gunung yang dibuat berurutan, dari kotak kecil, kotak besar, kemudian gunung. Ditengah-tengah ada kotak kecil lagi, lalu besar lagi. Filosofi dari permainan ini dapat diartikan sebagai proses menjalani kehidupan. Untuk mencapai "puncak gunung" ada tahapan-tahapannya, tidak bisa langsung. Di tengah-tengah perjalanan, akan ditemui lagi masalah (kotak kecil), namun akhirnya perjalanan mencapai puncaknya. Selama bermain, kaki pemain tidak boleh menyentuh garis. Bila sampai menyentuh, maka pemain kalah dan harus bergantian dengan pemain lain. Ini bisa diartikan selama menjalani proses kehidupan, janganlah melanggar aturan, atau Anda akan "kalah".

Anak perempuan atau laki-laki bisa memainkan dampu, tapi yang sering biasanya anak perempuan. Cara memainkan dampu ini mudah saja. Alat yang digunakan pun cuma batu pipih. Media yang digunakan adalah lantai atau tanah datar. Buat terlebih dahulu garis kotak-kotak dan "gunung" dengan kapur atau torehan di tanah dengan batu runcing. Para pemain melempar batu ke area yang dibatasi garis. Pelempar batu terjauh berhak memulai duluan. 

Pemain harus berjalan engklek (berjalan dengan kaki diangkat sebelah) bila berada di kotak kecil. Bila berada di dua kotak besar, maka pemain boleh meletakkan ke dua kakinya di ke dua kotak itu. Pada kotak dimana terdapat batu yang tadi dilempar, maka pemain harus meloncat untuk melewatinya. Setelah melewati satu putaran, pemain kembali ke kotak start dengan sebelumnya mengambil batu pipih yang telah dilempar. Setelah selesai melewati satu putaran tersebut, pemain mendapatkan 1 poin. Poin-poin tersebut dikumpulkan. Pemenangnya adalah yang berhasil mengumpulkan poin terbanyak.

Ah senang rasanya menuliskan artikel ini sambil mengingat-ingat kenangan masa kecil saya. Masa kecil yang bahagia, ringan, tanpa masalah. Begitulah dunia anak-anak. What a nice flash back!




Tuesday, November 3, 2015

Arungi Dua Negara Demi Daging Halal


Selamat Datang di Coop Extra Storlien

Sore itu langit berawan. Agak mendung, tapi tidak terlalu gelap. Suhu sekitar 2°C. Dingin tentu saja. Diperlukan 3 lapis pakaian untuk melawan dingin di suhu tersebut. Tapi cuaca bukanlah halangan untuk beraktivitas. Di Trondheim, Norwegia, tempat tinggal saya sekarang, masyarakat biasa melakukan kegiatan di luar rumah pada malam hari, bahkan saat suhu menunjukkan angka 0°C. Ada orang tua yang jogging, anak-anak bermain bola, atau pasangan suami istri berjalan sambil mendorong kereta bayi. Suasana malam yang gelap membuat saya dengan mudah bisa melihat asap keluar dari mulut mereka saat bernafas. Saking dinginnya! Jadi kalau suhu 2°C, masih sore dan kami mengeluh, duh malu-maluin banget deh!

Sore itu, jam 3 tepat kami sekeluarga akan jalan-jalan ke Storlien, Swedia. Tujuannya bukan jalan-jalan rekreasi, tapi jalan-jalan beli daging halal. Sebenarnya kami belum perlu membeli daging  karena persediaan masih ada, tapi karena mengincar suasana akhir musim gugur, kami berharap masih bertemu warna warni daun di sepanjang jalan sebelum berguguran. Jadi ya diagendakan saja lah hari itu. Wah, beli daging saja ke luar negeri... gayaaa hihi... Nggak gaya juga sih, secara di sini sulit mendapatkan daging halal.  Maklumlah, jumlah penduduk Muslim di kota ini belum terlalu banyak. Menjual daging halal kemungkinan hanya menghasilkan sedikit keuntungan saja bagi pengusaha ritel. Sebenarnya ada toko milik orang Timur Tengah yang berjualan daging halal, namun harganya mahal sekali, bisa 2 - 3 kali lipat dari harga di Storlien. Jadi ya sudahlah, yuk ah jalan-jalan ke Storlien, jalan-jalan ke luar negeri hehe.

Kami naik bis menuju Storlien. Bisnya gratis. Disediakan oleh Coop Extra, perusahaan ritel yang menjual daging halal yang akan kami beli. Keren ya promosi jemput bolanya! Konon dulu harus belanja dulu minimal 500 SEK (Rp. 850 ribu) baru bisa naik bis gratis. Sekarang karena banyak saingan, maka Coop membuat terobosan lain. Dan ini efektif. Terlihat dari penuhnya bis berkapasitas sekitar 40 orang tersebut. Penyediaan jasa layanan antar jemput pelanggan ini dilakukan setiap hari kecuali hari Senin. Untuk bisa ikut bis gratis ini, pemesanan harus dilakukan sehari sebelumnya via telepon dengan mendaftarkan jumlah orang yang mau ikut dan lokasi halte penjemputan. Dalam sehari ada 2 kali keberangkatan, pagi dan sore. Namun bila permintaan pelanggan banyak, maka armada bis dan jam keberangkatan akan ditambah. Waktu kami ikut, ada 2 bis yang berangkat hanya berseling sekitar 30 menit saja.

Kami naik dari halte Nardo Senteret, halte terdekat dari apartemen kami. Cuma perlu waktu 2-3 menit saja berjalan kaki menuju halte itu. Baru ada 1 penumpang lain yang menunggu bis bersama kami, seorang ibu-ibu tua. Ia senyum-senyum melihat kami berfoto-foto di halte itu. Mungkin geli melihat tingkah polah kami atau sekedar teringat anak cucunya, entahlah. Tapi orang-orang tua di sini memang ramah-ramah. Saya seringkali mendapat senyum duluan.


Jalan kaki menuju halte bis Nardo Senteret
Foto-foto dulu di halte. Si sulung malah asyik membuat uap di kaca. Hadeh.

Tak lama bis datang dari arah selatan. Kami termasuk yang awal dijemput. Bis masih kosong. Baru ada sekitar 4-5 orang. Kami bisa memilih kursi yang tidak terlalu ke belakang supaya nyaman mengingat ini adalah perjalan yang cukup jauh. Jarak Trondheim - Storlien kurang lebih 100 Km dengan waktu tempuh 1,5 jam. Untung bisnya nyaman dan pemandangan sepanjang jalan sangat indah, sehingga waktu 1,5 jam itu tidak terasa.

Kali ini bis berhenti di 5 halte untuk mengambil penumpang. Yang terbanyak di Student Village, Moholt, ada sekitar 15-20 orang mahasiswa. Mahasiswa memang senang belanja ke Storlien karena harganya yang jauh lebih murah daripada di Trondheim. Apalagi menjelang pesta Halloween, wah pasti banyak yang harus disiapkan. Sepanjang jalan ceria sekali para mahasiswa itu. Mereka bercanda ketawa ketiwi. Ah, masa muda memang selalu menyenangkan ya!

Bis nyaman. Tambah nyaman karena gratis wkwkwk

Selesai menjemput semua penumpang di Trondheim, bis melaju menuju keluar kota dengan kecepatan sedang saja, antara 70 - 80 Km/jam. Termasuk pelan ya? Di sini saya tidak pernah melihat mobil melaju di atas 100 Km/jam. Itu pelanggaran. Semua warga taat aturan. Mereka paham betul saat melanggar aturan, pasti ada efek tidak baik bagi orang lain dan tentu saja bagi diri sendiri juga. Hukumannya pun tidak main-main. Polisi tidak bisa disogok. Maka tak heran jika kemudian  Norwegia dinobatkan UNDP sebagai negara yang memiliki Human Development Index (HDI) tertinggi Tahun 2014 . Negara yang paling diinginkan sebagai tempat tinggal di dunia. Ya, negara ini memang aman dan nyaman sekali.

Kembali ke perjalanan yang menyenangkan menuju Storlien, lagi-lagi kami disuguhkan pemandangan yang menyegarkan mata. Melewati jalan tol ke arah bandara, Stjørdal, Nord Trøndelag, menembus 2 terowongan panjang yang merupakan bagian dari jalan tol. Menyusuri fjord (laut), melewati ladang gandum yang baru selesai dipanen, sungai yang bersih dan jernih, rumah-rumah khas desa di Eropa, rumah pertanian tua, pohon-pohon yang daunnya mulai menguning, semua menjadi harmoni alam yang memukau saya. MasyaAllah indahnya.




Pemandangan sepanjang jalan

Mendekati Storlien, kami disuguhkan jejeran pohon-pohon besar. Dinding bukit batu yang memagari jalan, memantulkan sinar matahari. Cantik sekali. Tebing-tebing mengalirkan air terjun menjadi magnet tersendiri. Dari kejauhan nampak lingkaran bukit yang dilapisi salju. Kata suami saya, salju itu tidak mencair sepanjang tahun karena letaknya di gunung dan sinar matahari pun tidak mampu mencairkan salju yang telah membatu tersebut. Sayang kamera saya tidak semua merekam hasil jepretan yang bagus. Kebanyakan gambar yang goyang dan agak kabur. Maklum amatiran hehe.

Tiba di Storlien, hari sudah mulai gelap. Padahal baru pukul 16.30. Memasuki musim dingin, siang memang lebih singkat daripada malam. Penumpang turun dari bis dengan tas-tas besar mereka seperti koper. Kami sendiri membawa 1 tas besar. Sudah tentu yang pergi ke sini pasti akan memborong belanjaan. Jauh-jauh masa cuma beli satu kantong plastik? Rugi waktu dong. Untuk berbelanja, kami diberi waktu 1,5 jam. Cukup lah ya.


Baru tiba di Storlien. Latar belakang foto itu pegunungan yang dilapisi salju.

Storlien sendiri hanya merupakan kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 2000 jiwa saja, tapi memiliki toko ritel yang besar dan lengkap. Toko ini ditujukan bukan hanya untuk penduduk mereka sendiri melainkan penduduk dari Norwegia. Produk yang paling sering dibeli di sini adalah rokok dan alkohol. Maklum saja, di daerah dingin alkohol dan rokok dipandang cukup efektif memberi kehangatan pada tubuh. Kedua produk itu terkena pajak tinggi di Norwegia. Jadi selisih harga sangat lumayan. Nampaknya Storlien akan menjadi tempat favorit belanja keluarga kami nih heuheu. 

Kami sendiri membeli daging sapi potong, daging sapi cincang, ayam potong, berbagai daging olahan seperti sosis, schnitzel, kebab dan PERMEN kesukaan anak-anak. Kesukaan yang tidak baik sebenarnya. Pelan-pelan harus dicoba dikurangi nih. Anak-anak Norwegia termasuk yang dibatasi mengkonsumsi permen dan coklat. Okay noted, masuk daftar sesuatu yang harus berubah pasca tinggal di Norwegia ;)

Daging cincang

Jelas ditulis: HALAL

Si ayah udah jago belanja hihi

Melihat jejeran toples besar berisi permen dan coklat, anak-anak bukan main senangnya. Meskipun demikian, kehati-hatian tetap dinomorsatukan. Anak-anak boleh memilih permen atau coklat sesuka hati namun tetap harus seiizin ayahnya yang akan meneliti dulu apakah permen/coklat tersebut mengandung gelatin/rhum atau tidak. Yaiyalah, jangan sampai ada barang haram masuk ke tubuh anak-anak kan. Naudzubillahimindzalik...

Ada gelatin/rhum nya gak ya?

Yang halal saja untuk anakku

Tak terasa waktu berlalu. Ada yang menyesakkan dada saat menggesek kartu untuk membayar semua belanjaan. 2003,13 Kroner! Belum pernah beli daging sebanyak itu kecuali daging kurban hehe... Tapi suami saya santai saja, ya memang itu semua kebutuhan sekeluarga untuk 1 bulan. Memang sih tips supaya kepala tidak pusing tiap kali berbelanja adalah jangan selalu mengkonversikan nilai Kroner ke Rupiah, bisa sakit hati hihi

Untuk berbelanja di luar Norwegia sendiri ada batasan jumlah kuota barang yang boleh dibeli. Pembeli diperbolehkan belanja untuk konsumsi sendiri, bukan untuk dijual. Batas maksimal yang disyaratkan antara lain daging, susu dan produk turunannya seberat 10 kg, rokok maksimal 1 slot (200 batang), alkohol 1,5 liter dan lain-lain. Bila pembelian diatas batas yang telah ditetapkan, maka diasumsikan pembelian adalah untuk tujuan bukan konsumsi sendiri alias untuk berjualan. Ini ada pajaknya dan lumayan mahal. Biasanya ada pengecekan oleh petugas di perbatasan secara random. Bila kedapatan ada penumpang yang tidak mematuhi aturan tersebut, maka siap-siap saja menerima sangsinya. Suami sendiri sudah 5 kali belanja ke Storlien dan belum pernah bis yang ditumpanginya kena cek petugas. Padahal sekali waktu kena cek asyik juga ya, jadi punya pengalaman dan cerita untuk dibagi hehe...


Penumpang bis dan hasil belanjaannya

Belanjaan kami

Siap-siap mau pulang

Pulang ke rumah sudah jam 8 malam. Capek tapi senang karena punya pengalaman belanja daging halal yang unik. Siap-siap browsing resep untuk membuat aneka masakan daging yang lezat. Supaya selalu diulang kata-kata si bungsu seperti ini "Sejak Ummi gak kerja, kita kayak makan di restoran setiap hari. Makanannya enak terus". Hiksss... meleleh hati ini, cyiin^^


Trondheim, 27 Oktober 2015.



Wednesday, October 28, 2015

Berburu Winter Clothes Murah Meriah



Karena sesuatu dan lain hal, rencana kami berangkat ke negeri viking, Norwegia, terpaksa tertunda 4 bulan. Seharusnya pergi bulan Juni, jadi mundur ke bulan Oktober. Padahal Juni adalah musim semi, cuaca sedang bagus-bagusnya. Bunga bermekaran, suhu tidak terlalu dingin. Adaptasi cuaca tentu akan lebih mudah buat kami.

Tapi ya sudahlah. Kami baru bisa berangkat 7 oktober 2015. Sebelumnya suami sudah menjemput duluan ke Indonesia. Bukan karena saya manja minta dijemput, atau saya takut pergi sendiri ke luar negeri bersama anak-anak. Tapi suami memang ingin pulang, bertemu keluarga, orang tua, dan teman-teman. Selain ada urusan di kantor di Jakarta juga ada keinginan mengajak anak-anak berlibur ke pantai di Indonesia. Haha kambing hitam yang manis :p

Oktober artinya sudah mulai masuk musim gugur. Suhu berkisar 4 - 12°C. Cukup dingin untuk ukuran orang tropis. Maka mau tidak mau kami harus menyiapkan segala perlengkapan musim dingin. Kenapa gak beli disana aja sih? Ada teman yang bertanya begitu. Waduh, harga di sana bisa 3-4 kali harga di sini untuk kualitas barang yang sama. Harga long jhon misalnya, di Indonesia kita bisa mendapat harga Rp. 110.000, sementara di Norwegia dipatok harga Kr 250 (setara Rp.425.000). Sayang banget kan?

Sebelum berbelanja pada kesempatan kali ini, saya sudah mencicil beberapa coat, sweater dan sepatu buat saya dan anak-anak. Karena ini adalah kali ke dua berburu winter clothes, maka tidak terlalu sulit lagi. Kami sudah tau toko mana yang mau dituju.

Dulu, sekitar bulan November/Desember 2014 sebelum suami berangkat duluan, persiapannya lebih heboh. Ya maklum lah ya, namanya juga pergi ke Eropa pertama kali hehe... Untungnya informasi mencari winter clothes sudah banyak di internet. Berbekal alamat hasil googling, kami langsung menuju Pusat Pertokoan Pasar Pagi Mangga Dua. Tujuan kami adalah toko Djohan.



Toko yang beralamat di Lt. II Blok B No. 048 Pasar Pagi Mangga Dua ini tidak terlalu besar sebenarnya, tapi perlengkapan musim dingin yang dijualnya lengkap. Mulai dari long jhon (thermal under wear) sampai sepatu boot anti salju dijual di sana.

Perlengkapan musim dingin apa saja sih yang harus disiapkan? Yuk lihat listnya:

1. Long jhon (thermal under wear) adalah pakaian dalaman yang hangat, ketat, mengikuti bentuk tubuh. Terbuat dari campuran cotton dan nylon yang halus dan elastis. Harganya Rp. 110.000 per buah. Ada juga long jhon yang terbuat dari campuran wool. Tapi harganya mahal sekali yaitu Rp. 650.000. Wow!



2. Jaket bulu angsa. Jaket sangat hangat yang mampu melawan suhu dingin yang ekstrim. Modelnya bagus-bagus. Apalagi yang merk Zara. Harga paling murah Rp.600.000 sampai jutaan rupiah. Kualitasnya jangan ditanya. Bahannya bagus dan jahitannya rapih sekali. Ada rupa, ada harga lah yaa...




3. Kaos kaki wool. Kaos kaki tebal 100% terbuat dari wool. Harga Rp.50.000 per pasang.

4. Sarung tangan. Ada yang dari kulit, wool atau kaos katun. Ada juga yang khusus untuk touch screen sehingga tetap bisa browsing via HP dengan sarung tangan. Harga Rp. 75.000 - Rp. 125.000,- per pasang.

5. Ear muff (penutup kuping). Kali ini saya gak beli karena kata suami gak terlalu kepake. Ya sudah kalaupun nanti butuh, beli di sana aja deh.


6. Topi. Ini wajib beli. Kepala juga butuh dihangatkan supaya tetap bisa berpikir jernih wkwkwk... Harga Rp. 50.000 - Rp. 125.000,-

7. Syal. Buat menghangatkan leher. Bikin tampilan modis juga. Saya beli beberapa. Harga Rp. 50.000 - Rp. 125.000,-

8. Celana tebal. Celana ini hangat sekali. Gak perlu pake long jhon lagi sudah hangat. Harganya lumayan mahal yaitu Rp. 375.000,- tapi ya lagi-lagi daripada beli disana kan? Hehe

9. Vaseline dan lip gloss. Ini penting buat menjaga kelembaban kulit dan bibir supaya tidak kering dan pecah-pecah. Vaseline ini agak khusus untuk cuaca dingin ekstrem. Harganya Rp. 50.000,- per botol



Selesai berbelanja di toko Djohan, masih di dalam Pasar Pagi lurus menuju ke ITC Mangga Dua, kami menemukan beberapa toko winter clothes dengan harga bersaing. Salah satunya adalah toko Surika Garment. Tokonya lebih besar, model jaketnya lebih banyak, meskipun harganya bikin pusing kepala hehe.. Ohya untuk item no 7- 9 saya beli di toko ini. Alamatnya di Lantai 3 Blok C-47 Pasar Pagi Mangga Dua.



Di pasar pagi ini ternyata banyak toko winter clothes. Jadi kalau mau berburu perlengkapan musim dingin yang murah meriah tak perlu ke mall yang harganya selangit. Cukup ke pasar pagi aja. Tapi sesuai dengan namanya, lebih baik ke sini agak pagi di bawah jam 12 siang. Karena berdasarkan pengalaman saya, terkadang harganya lebih murah daripada kita membeli agak siang. Dicoba saja ya :)

Saturday, October 17, 2015

Maduku Asli Atau Palsu?



Sebagaimana Muslim yang lain, saya sangat mempercayai khasiat madu. Sangat menyakini bahwa madu sangat bermanfaat bagi kesehatan. Selain menjaga stamina tubuh agar tidak mudah terserang penyakit, madu juga bisa digunakan mengobati penyakit ringan seperti luka bakar atau alergi pada kulit.

Bagi para wanita tentu sudah tahu khasiat madu untuk kecantikan kulit. Waktu remaja saya sering menggunakan madu untuk maskeran. Rasanya kulit lebih segar dan bersih. Selain itu saya juga sering menggunakan madu untuk melembabkan bibir yang kering.

Sebelum menikah, saya tak pernah ambil pusing tentang persediaan madu di rumah. Semua sudah disiapkan ibu saya. Saya hanya tinggal pakai saja. Tentu saya percaya madu yang dipilihkan ibu adalah madu yang baik dan asli. Namun setelah menikah dan harus menyediakan sendiri madu di rumah, saya kebingungan. Seperti apa madu asli dan madu palsu. Bagaimana membedakannya?

Dari berbagai sumber di internet akhirya saya temukan caranya dan sudah saya praktekan yaitu sebagai berikut:

 1. Membakar madu. Letakkan madu di sendok lalu bakar di atas lilin.Madu yang asli akan mengeluarkan busa saat dibakar. Kurang lebih setahun yang lalu saya melakukan uji ini dan teryata madu saya palsu. Di sini uji bakar madu ini tidak bisa saya lakukan karena di rumah gak nemu korek api hehe



2. Teteskan madu dalam air putih. Madu asli tidak akan bercampur saat diteteskan ke dalam air putih. Dia akan tetap berbentuk butiran dan akan jatuh ke dasar gelas, tidak mengambang.




3. Masukkan madu ke dalam kulkas. Madu asli tidak akan beku saat dimasukkan lemari pendingin.



4. Uji coba dengan kertas. Basahi kertas dengan madu dan coba merobek kertas Madu asli tidak akan menembus kertas dan kertas akan sulit disobek. Sebaliknya madu palsu akan mudah menyerap kertas sehingga kertas mudah disobek.




Karena saat ini saya sedang tinggal di Norwegia, saya pun penasaran seperti apa rasa madunya. Ternyata rasa madunya sama saja dengan di Indonesia. Kirain madu yang dihasilkan oleh lebah "bule" akan beda rasanya hehe...

Dua-duanya jenis madu kuning. Namun tingkat warnanya saja yang berbeda. Yang satu warnanya lebih gelap. Alhamdulillah setelah melalui 3 uji coba di atas, madu yang ada di rumah sekarang adalah madu asli.

Yuk deh, makan salad buah atau sayuran dicampur madu, pasti tambah yummy rasanya ;)

Wednesday, October 14, 2015

Antara Jakarta dan Trondheim

7 Oktober 2015. Hari ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu sejak 13 tahun yang lalu. Hari dimana kami sekeluarga akan melakukan perjalanan panjang untuk menetap sementara di benua berbeda. Hari yang dulu hanya sekedar obrolan ngalor ngidul di awal pernikahan saya dan suami, akhirnya akan menjadi nyata. Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa, namun bagi kami itu luar biasa. Menjalani kehidupan di negara 4 musim, seperti apa rasanya ya?

Bersama keluarga tercinta yang mengantar di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Indonesia
Rencananya kami akan tinggal di Norwegia selama 3 tahun. Negara dimana suami saya tengah menempuh pendidikan S3 nya di kota Trondheim, kota pelajar seperti Jogjakarta-nya di Indonesia. Kota yang "ndeso" bila dibanding modern-nya ibukota negara ini yaitu Oslo. Meskipun ndeso, tapi saya suka suasana kota yang damai dan tenang ini. Maklumlah, di tanah air sehari-hari saya bergelut dengan kemacetan.

Ke Norwegia, kami akan menempuh perjalanan 30 jam. Wow selama itu? Ya maklumlah Norwegia terletak di benua Eropa bagia timur , dekat kutub utara. Perjalanan 30 jam itu sudah termasuk transit 2 jam di Singapura dan 8 jam di Amsterdam, Belanda.

Alhamdulillah sepanjang perjalanan cuaca sangat baik. Penerbangan berjalan mulus, pesawat tidak mengalami gangguan apapun. Kami sekeluarga tidur nyenyak. Perjalanan panjang yang semula saya kira akan berat bagi kami ternyata biasa-biasa saja. Tak heran saat saya mengajak suami untuk menyiapkan beberapa permainan sebelum kami berangkat, suami saya tidak terlalu merespon. Ya karena dia sudah tau perjalanan tidak seboring yang saya kira.

Apalagi, perjalanan panjang ke luar negeri biasanya malam, jadi waktu yang banyak terpakai ya untuk tidur hehe. Anak-anak saya yang berumur 11 dan 6 tahun asyik menonton film dan bermain game dari layar TV yang ada di depan bangku masing-masing. Asyik sekali. Tidak ada raut muka bosan apalagi kesal, yang ada ceria terus. Tentu saja, ini kan perjalanan yang sudah lama dinantikan.


Di pesawat Garuda Airline. Exciting dengan game dan filmnya hihi

Beberapa buku dan mainan yang sudah saya siapkan tidak tersentuh sama sekali. Saya sendiri selama perjalanan dari Singapore menuju Amsterdam menonton 2 film saja. Dua-duanya film Indonesia. Lagi ingin menonton film yang santai soalnya hehe... Selanjutnya saya banyak mendengarkan musik sambil membuat catatan-catatan kecil.

Kami tiba untuk transit di bandara Schiphol Amsterdam pukul 08.45 waktu setempat. Saat itu cuaca dikabarkan pilot dalam keadaan berawan dengan suhu 13°C. Ada rasa haru dan bangga saat mendarat diperdengarkan instrumen lagu sunda Manuk Dadali. Belum sampai tujuan bahkan sudah kangen tanah air hikss...

Kami sengaja memilih transit agak lama di Amsterdam, yaitu 8 jam. Kami memang ingin jalan-jalan dulu. Kebetulan suami saya juga belum pernah ke sini. Tujuan kami adalah keliling kota naik cruise melewat kanal-kanal yang membelah kota Amsterdam. Tentang transit di kota Amsterdam ini dan juga transit di Singapura insya Allah akan saya ceritakan di artikel berbeda ya.

Di pinggir canal di Amsterdam sesaat sebelum keliling kota naik cruise

di depan Bandara Schiphol 

Tibalah waktu untuk melanjutkan perjalanan menuju Norwegia. Kami terbang menggunakan pesawat KLM pada pukul 16.50. Perjalanan menuju Oslo sekitar 2 jam. Sebenarnya ada juga penerbangan langsung menuju Trondheim tanpa transit dulu di Oslo, tapi harga tiketnya lebih mahal. Lumayanlah selisihnya untuk beli winter coat hehe... Lagipula saya ingin tau seperti apa bandara Gardermoen di Oslo.

Di Oslo, kami transit sekitar 3 jam. Saya dibuat tercengang dengan bandaranya yang sangat modern, bersih dan fasilitasnya sangat passenger friendly. Terdapat puluhan komputer yang memudahkan penumpang untuk self check in sehingga tidak perlu mengantri panjang. Desain interiornya menarik. Bahkan desain toiletnya pun saya suka. Sangat bersih dan banyak tanaman hidupnya. Fasilitas lain yang sangat memudahkan penumpang adalah disediakan banyak stroller bagi balita dan baby carrier. Untuk lansia atau penyandang cacat/disable disediakan layanan kursi roda beserta sukarelawan pendorongnya yang akan menemani selama di bandara, tanpa membayar alias gratis. Wow keren!

Komputer untuk self check in

Airport modern design

stroller untuk balita

Menuju Trondheim, kami menumpang pesawat Scandinavian Airlines (SAS). SAS ini karena penerbangan lokal maka memberlakukan sistem bagasi yang lebih ketat. 1 penumpang hanya boleh mengambil jatah bagasi 23 kg. Jumlah bagasi rombongan tidak bisa diakumulasi, harus dihitung per orang. Berbeda dengan Garuda/KLM untuk penerbangan internasional yang memperbolehkan akumulasi bagasi rombongan tiap orang dikali 30 kg.

Dengan kebijakan demikian, walhasil kami harus memindahkan keberatan beban pada koper satu ke koper lain atau ke hand bag. Sebenarnya hal ini sudah diantisipasi oleh suami saya. Sehingga kami menyiapkan handbag yang agak longgar untuk cadangan barang. Untungnya juga ada 1 koper titipan orang tua teman sesama mahasiswa asal Indonesia yang masih kosong, akhirnya beberapa barang dititipkan di kopernya. Ya begitulah, sesama perantau harus saling membantu.


Bawaan di luar beberapa hand bag. Banyaknyaaa...

Kami terbang tepat pukul 22.45. Perjalanan 1 jam kami lewati dengan tidur pulas. Saking pulasnya, saat mendarat dan pesawat berhenti, si bungsu tidak mau turun. Saya dan suami tidak bisa menggendongnya karena handbag kami lumayan banyak. Akhirnya dengan tertatih-tatih dan jalan sempoyongan, si bungsu berhasil turun dari pesawat diiringin tawa para pilot dan pramugari.

Sesampainya di bandara Vaernes Stjordal Nord-trondelag, suami langsung menghubungi temannya yang akan menjemput. Suhu saat itu 5°C. Brrr.. dinginnya. Untung anak-anak sudah saya siapkan memakai long jhon (baju hangat under wear) dan jaket bulu angsa untuk melawan dingin. Jadi kami masih bisa "bertahan" hehe

Sementara menunggu suami yang mengontak temannya,  saya dan anak-anak menunggu di cafe. Anak-anak melanjutkan tidur pulasnya sambil duduk. Lucu dan kasian melihatnya. Sabar ya, Nak, sebentar lagi kita sampai di rumah.


Ngantuk berat... tertidur pulas

Ah itu dia teman yang menjemput datang. Namanya Krzysiek atau suka dipanggil Kiloczarli (Czarli). Susah amat ya nyebutnya hihi... Meskipun namanya susah disebut tapi orangnya ganteng haha... apa hubungannya juga? Dia berkebangsaan Polandia. Kata suami saya, tipikal orang Polandia itu tidak malu bekerja kasar apapun statusnya. Maka di Trondheim banyak ditemui pekerja konstruksi asal Polandia.

Czarli adalah mahasiswa S3 jurusan Informatika yang sering menyewakan kendaraannya.  Mobil VW Caravelle disewakan dengan tarif Kr 250 atau setara Rp. 425.000 per jam. Biaya hidup di negara ini memang relatif tinggi dibanding negara eropa lainnya, makanya harus pintar-pintar melakukan usaha sampingan. Jadi saya mending bekerja di restoran apa jadi nanny aja ya? hihi

Perjalanan dari Nord-trondelag menuju Trondheim hanya 30 menit saja. Karena sudah malam, saya tidak terlalu memperhatikan pemandangan di luar jendela. Lagipula saya sudah mengantuk sekali.

Selain Czarli, teman suami yg menjemput bernama Reizy. Mahasiswa S2 yang bersama istri dan bayinya sudah duluan tiba di Norwegia. Bersama Czarli dan Reizy, suami mengangkut koper-koper kami ke lantai 3 flat tempat kami tinggal. Lumayan juga, naik turun tangga tanpa lift sambil bawa barang. Huffttt...capeknya. Gak bisa bayar orang untuk mengangkut barang. Semua harus dikerjakan sendiri. Maka menjalin pertemanan yang baik dengan sesama perantau menjadi sesuatu yang mutlak dilakukan.

Setelah semua koper masuk flat. Lalu kami pun langsung tertidur. Tidur dengan tersenyum karena petualangan-petualangan berikutnya ada di depan mata dan kami akan melaluinya bersama-sama. Insya Allah.

Tuesday, September 15, 2015

KHUMEDI


Judul di atas adalah nama orang yang ada di foto ini. Usianya sudah 48 tahun. Tapi coba perhatikan baik-baik wajahnya, ia tidak nampak seusia itu ya? Ia termasuk salah seorang yang saya tau sangat minim masalah. Hidupnya hepi terus. Setidaknya nampak begitu di mata saya. Mungkin itu yang membuatnya awet muda. Selain tentu saja ia gemar makan buah dan sayuran hehe.

Ia rekan kerja saya. Kami menempati satu ruangan yang sama dan bertugas di bagian yang sama juga yaitu di Sub Bidang Pelestarian. Cerita tentangnya mungkin biasa saja bagi orang lain. Tapi saya melihat ada yang spesial dalam dirinya. Cerita yang tidak banyak orang yang tau. Cerita yang terungkap saat kami makan berdua saja kemarin siang. Satu ruangan tapi kok baru tau cerita lengkapnya kemarin? Meski satu ruangan kami jarang mengobrol panjang lebar. Ia sibuk dengan komputernya begitu juga dengan saya. Meski begitu, bahasa makanan menyatukan kami. Ia suka jengkol, saya juga hihi

Bermula dari niatnya ingin melanjutkan studi ke jenjang S-2 namun terkendala kemampuan bahasa Inggris yang minim, Pak Khum, demikian saya biasa memanggilnya, bercerita seputar latar belakang pendidikan dan kariernya. Ia diterima di Pemprov. DKI Jakarta pada tahun 1989 melalui tes seleksi pegawai hanya bermodalkan ijazah pendidikan Sekolah Dasar (SD) saja! Ya, saat itu bekerja di instansi pemerintah memang begitu mudah. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil tidak ada gengsinya. Gak ada kerennya sama sekali. Berbeda dengan sekarang, menjadi PNS relatif sulit. Buat saya sih...

Sebelumnya Pak Khum bekerja di pabrik, juga bermodalkan ijazah SD saja. Keceplosan saya bertanya

"Kok dulu Bapak gak melanjutkan sekolah ke SMP/SMA sih?" ya amplop ngapain juga gw nanya gitu lagi!

"Orang tua saya orang gak mampu, Mbak Dini. Cuma mampu menyekolahkan saya sampe SD aja." Tidak ada raut muka sedih atau tersinggung dari wajahnya. Syukurlah.

Pak Khum sudah bekerja mengabdi di Pemprov. DKI Jakarta selama 26 tahun. Selama itu pula ia tidak pernah telat dan membolos. Waaawww... asli ini keren banget! Karena kerajinan dan ketekunannya, ia memperoleh predikat Pegawai Teladan pada tahun 2010 dan berhak mendapat hadiah menunaikan ibadah haji pada tahun 2017. Tak pernah terpikir ia akan mendapat hadiah istimewa tersebut. Yang dipikirkannya bekerja saja sebaik-baiknya, maka rejeki akan mengikuti.

Pak Khum berpesan bagi orang yang memiliki keterbatasan materi, jangan putus asa, asal ada kemauan, komitmen yang kuat dan selalu berusaha, cita-cita pasti tercapai.

Teruslah bekerja dan berkarya, Pak Khum. Kami butuh orang banyak sepertimu!




Catatan:
Foto dan publikasi cerita ini sudah seizin yang bersangkutan





Saturday, August 29, 2015

Back To Nature, Indonesia!


Foto: koleksi pribadi, lokasi sekitar Magetan, Jawa Timur

Kemarin malam, setelah menyelesaikan ritual menjelang tidur, bukannya terlelap, saya dan Si Sulung malah mengobrol.
“ Mi, negara kita kan sedang dijajah” kata Si Sulung
“Dijajah siapa, Kak?” kata saya memancing
“Dijajah oleh kemalasan dan kemiskinan” lalu kalimat Si Sulung pun mengalir mengulas pengertian kemalasan dan kemiskinan versinya.
                                                     

Kemalasan dan kemiskinan. Ya, betul. Inilah yang menjadi persoalan besar bangsa ini. Kebanyakan dari masyarakat Indonesia malas berbuat sesuatu untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Malas begini, malas begitu. Maunya serba instan. Meskipun sering mendengar sabda Rasulullah tentang kemalasan adalah pangkal dari kemiskinan, tetap saja kebanyakan dari kita malas untuk move on dari “kemiskinan” itu.
Miskin informasi akan kesehatan tubuh harus diakui melanda sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal kesehatan merupakan investasi yang memiliki peran penting dalam menanggulangi berbagai permasalahan hidup. Harta tak ternilai, modal berharga bagi seseorang untuk memulai aktivitasnya. Ingat pepatah “men sana in corpore sano”? Pada tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kalau mau memiliki jiwa yang kuat, maka sehatkan dulu tubuhmu. Masalahnya kemudian adalah maukah kita memperbaiki kualitas kesehatan tubuh kita? Ah susah, ah malas, nanti saja kalau sudah tua. Sekarang menikmati hidup aja keleesss. Dulu saya berpikiran begitu. Pikiran yang out of date untuk saat ini, dimana kondisi lingkungan sudah tidak sebaik dan sebersih dulu, saat kemajuan teknologi belum terlalu pesat.
Sebenarnya tidaklah terlalu sulit untuk memiliki tubuh yang sehat. Melalui alam semua sarana pendukung kehidupan sudah disiapkan oleh Sang Pencipta dengan sangat sempurna. Maka tinggal bagaimana manusia menemukan dan memanfaatkannya. Yuk, saya ajak jalan-jalan dulu, melihat posisi negara kita dari sudut astronomis.

Foto: koleksi pribadi, lokasi dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah

Terletak di atara 6°LU - 11°LS dan 95°BT - 114°BT,  Indonesia merupakan negara yang kaya raya. Potensi kekayaan alamnya sangat luar biasa, baik sumber daya alam hayati maupun sumber daya alam non hayati. Di lintasi oleh garis khatulistiwa, menyebabkan Indonesia beriklim tropis. Selalu disinari matahari sepanjang tahun. Negara beriklim tropis selalu dilimpahi keadaan alam yang luar biasa. Lagi-lagi suatu keuntungan! Dengan memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Dimana saat musim hujan, curah hujan yang tinggi membuat tanaman tumbuh subur dan berkembang sangat cepat. Sedangkan sebagai negara agraris, maka produksi hortikultura Indonesia baik dari jenis sayur mayur maupun jenis buah-buahan sangat melimpah ruah. Semua bisa didapat dengan mudah dan murah. Tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan manfaat luar biasa dari sumber daya alam hayati milik kita.
Dengan potensi alam yang luar biasa itu, sangat disayangkan kalau tidak banyak masyarakat Indonesia yang gemar makan sayuran dan buah-buahan. Akibatnya berbagai penyakit berat seperti serangan jantung, diabetes, gagal ginjal, kegemukan menjadi penyakit kebanyakan masyarakat. Mungkin selama ini kita sudah mengupayakan memasukan sayur dan buah dalam menu kita sehari-hari. Tetapi seberapa sebanyak? Sudahkan memenuhi kebutuhan 70% dari total kebutuhan nutrisi manusia setiap harinya? Selama ini banyak dari kita masih menganggap sayuran dan buah-buahan sebagai pelengkap makanan, bukan prioritas. Nasi dan lauk saja sudah dianggap cukup. Yang penting kenyang. Inilah yang membuat kurangnya konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia.

Foto: Google, buah-buahan tropis. I'll miss them :(

Seandainya masyarakat Indonesia paham betapa dalam sayuran dan buah-buahan terkandung pencegah berbagai penyakit, tentu tidak ada yang mau meninggalkannya. Pernah mendengar quote dari Hippocrates yang berbunyi let food be thy medicine? Saya sangat menyukai quote ini. Menurut saya quote ini mengandung semangat bahwa sesungguhnya tubuh manusia itu sangat pintar. Melalui makanan (yang sehat) mampu menyembuhkan dirinya sendiri.

Jangan sia-siakan anugerah Allah. Jangan buang percuma limpahan karunia yang diberikan-Nya. Jangan mau rugi tinggal di negara yang kaya raya alamnya, tapi tidak bisa memanfaatkannya. Jika hari ini masih diberi nikmat, mari mulai memperbaiki pola konsumsi makanan sayuran dan buah-buahan kita. Mari memperbaiki pola makan yang sesuai dengan pesan gizi seimbang. Meminjam istilah Sofie Nafita, yuk Indonesia makan sayur. Back to nature. Untuk Indonesia Sehat, Indonesia Keren!

Foto: Google, this is one of my fav quotes^^