Monday, April 27, 2015

Sebuah Renungan

Semalam mendapat kiriman dari teman. Sebuah cerita dan hikmah yang menyentuh. Sayang kalau tidak disimpan ^^

Renungan Jumat malam

Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan akan segera tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju ke skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar menenggelamkannya.

Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”
Sebagian besar murid-murid itu menjawab, “Aku benci kamu!” “Kamu tau aku buta!!” “Kamu egois!” “Nggak tau malu!”

Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam saja itu menjawab.  Kata si murid, “Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, ‘Tolong jaga anak kita baik-baik’”.

Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?”
Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”
Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian.
Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya  naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup.  Dia menulis di buku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”

Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam.
Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.
Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.
Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.
Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.
Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar,  mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.
Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.
Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya...

Tuesday, April 14, 2015

Pendidikan Yang Mubazir


child experiencing stress







Mendampingi buah hati menghadapi ujian di sekolah, kerap membuat saya prihatin. Begitu banyak materi pelajaran yang harus dihafalnya.
Beberapa, menurut saya tidak perlu dihafal, cukup dipahami saja. Coba kalkulasikan, berapa banyak waktu yang bisa dihemat untuk melakukan aktivitas positif lain, dari pada sekedar menghafal?

Kenapa sih pendidikan di Indonesia itu begitu beratnya? Berat dengan hafalan teori dan rumus. Padahal tanpa hafalan, ketika mereka dewasa, mereka akan bisa survive kok. Apalagi sekarang zaman canggih, mengakses internet sudah begitu mudahnya. Ada hal yang kita tidak tau, tinggal Googling. Lalu buat apa lagi susah-susah menghafal?

Kenapa pendidikan di negeri ini tidak dititik beratkan pada pemahaman? Bagaimana anak-anak paham mengapa harus sholat. Bagaimana mereka mengerti sejarah siapa pencetus ide membuat parit untuk melindungi kota Madinah dari serangan musuh saat perang Khandaq. Bagaimana mereka tahu latar belakang mengapa surat An Naba' diturunkan. Saya rasa pemahaman seperti ini lebih penting daripada sekedar menghafal siapa nama istrinya Ustman Bin Affan.

Lain cerita ketika anak dilatih untuk menghafal Al-Qur'an. Ini tentu bermanfaat bagi kehidupannya di masa depan, di dunia dan di akhirat. Hafalan seperti ini tentu tidak mubazir, justru akan menjadi penolongnya, penerang kuburnya kelak. Maka kemudian saya begitu terharu ketika di usia 10 tahun, Si Sulung sudah hafal 1 juz Al-Qur'an. Alhamdulillah.

Pendidikan akan lebih terasa kemubazirannya saat bobot penilaian soal hafalan berbanding lurus dengan bobot penilaian soal pemahaman. Bagi anak yang sulit menghafal, tentu sulit mendapat nilai baik. Akhirnya nilai raport jelek karena jatuh di hafalan. Sementara bagi anak yang kuat di hafalan, tapi lemah di pemahaman, apakah hafalannya itu akan bermanfaat bagi kehidupan dewasanya kelak? Saya rasa mubazir.

Rasanya sesak dada saat membandingkan sistem pendidikan di Indonesia dengan negara lain. Di Norwegia, misalnya, negara di bagian timur benua Eropa ini, tidak mewajibkan anak yang akan memasuki jenjang SD untuk bisa membaca. Justru di SD lah anak baru diajari membaca, dengan cara yang menyenangkan, bukan hafalan. Target anak bisa membaca baru di kelas 3.

Di negara makmur ini, seluruh biaya pendidikan diberikan secara gratis oleh pemerintah, mulai dari tingkat Pre School sampai Strata 3. Seluruh pelajarnya yang berusia dibawah usia 18 tahun diberi uang saku yang nilainya lumayan, setara Rp. 1.500.000,-.  Tingkat Strata 3 karena dianggap sebagai skilled worker bahkan digaji, padahal pelajar, padahal peraih beasiswa dari negara asal, tapi masih dikasih duit! Asyik ya :) Hasilnya pendidikannya pun jelas, anak paham akan segala sesuatu yang diajarkan, mampu mengaplikasikan dalam kehidupan, seluruh penduduk bahagia dan akhirnya menjadikan negaranya maju.

Bandingkan dengan Indonesia yang sistem pendidikannya sudah berat sedari awal. Anak TK sudah dijejali berbagai hafalan hadist. Anak dipaksa bisa membaca, karena salah satu syarat bisa masuk ke SD favorit harus sudah lancar membaca. Di SD anak dijejali berbagai hafalan. Rumus-rumus matematika, yang waktu dulu saya dapat di SMP, sekarang bahkan harus dihafal anak kelas 5 SD. Tapi hasilnya apa? Apakah negara ini maju, makmur, berkembang pesat, penduduknya bahagia? Duh, negeriku :'(

Besar harapan agar Indonesia, negeriku, mau banyak belajar dari negara maju. Tidak gengsi mengadopsi sistem yang sudah terbukti keberhasilannya. Supaya penduduk bahagia, makmur dan sejahtera, gemah ripah loh jinawi, sebagaimana cita-cita leluhur kita dulu. Amiin ya robbal alamin.

Monday, April 13, 2015

Blogging, My New Excitement




Saya adalah tipe orang yang senang mengekspresikan secara langsung apa yang saya rasakan. Ceplas ceplos, begitu kata orang. Ceplas ceplos tidak hanya di dunia nyata, namun juga di dunia maya.

Terus terang, sikap ceplas ceplos ini terkadang membuat saya menyesal, terutama kalau ada orang yang jadi ngambek atau marah karena ceplosan saya. Biasanya mereka itu yang sensitif perasaannya.  Tapi senang juga sih saat ada teman di grup chatting sebaya yang bilang "gak ada loe gak rame..." eaaaa kayak iklan aja hihi

Sifat ceplas ceplos sebenarnya tidak selalu berkonotasi negatif. Seorang presenter, misalnya, bila ia tidak punya sifat ceplas ceplos, acara yang dibawakannnya tentu akan terasa garing. Sebaliknya, bila ia mampu menempatkan sifat ceplas ceplosnya secara proporsional, ia akan menghidupkan suasana. Mungkin karena sifat ceplas ceplos saya, beberapa kali saya diminta tampil dadakan di acara seminar/pelatihan sebagai moderator atau pembawa acara.

Bagaimana pun, terbersit dalam  hati saya keinginan untuk menyalurkan sifat ceplas ceplos saya ke dalam bentuk yang lebih positif. Berguna bagi saya, syukur-syukur bagi orang lain juga. Saya pun merasa harus menambah amal ibadah sebagai bekal saya kelak, menyebarkan kebaikan pada orang-orang di sekitar saya. Lalu mulai terpikirkan menyebarkan kebaikan melalui tulisan.

Kebetulan saya baru menggeluti program Food Combining (FC), pola makan yang saya yakini paling tepat saat ini. Saya pun mulai menuliskan tentang FC di medial sosial Path dan Facebook (FB). Ada yang merespon positif, ada juga yang negatif. But it's not the problem. Namanya juga usaha menyebarkan kebaikan, pasti ada yang menerima atau menolak.

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Alhamdulillah, memang sudah jalan saya, secara tidak sengaja, saya membaca postingan di FB tentang ajakan bergabung di komunitas menulis. Wah, ini dia yang saya cari. Saya pun bergabung dengan grup Whatsapp Kampoeng Kata-Kata. Di grup ini, kami diwajibkan membuat tulisan minimal 1 buah tulisan dalam waktu 1 bulan. Kalau tidak bisa akan dikeluarkan. Kami diharuskan menyetor tulisan melalui link yang nanti bisa dibaca oleh teman-teman anggota grup.

Saya semakin terpacu untuk belajar menulis. Kebetulan kepala suku di grup dan teman-teman anggotanya seru, suka ngocol, suka bercanda, jadi makin enjoy di grup deh. Di grup ini, kami tidak hanya mendiskusikan hasil tulisan, tapi juga isu-isu yang sedang tren seperti kasus Syiah di Indonesia. Ohya, beberapa waktu lalu, tepatnya hari Sabtu, diadakan lomba menulis 3 artikel dalam 1 hari. Saya tidak ikut, karena ingin santai menikmati hari libur bersama keluarga. Bisa aja alasannya ya, padahal bilang aja gak pede :p

Bergabung dengan komunitas menulis, dimana anggotanya banyak yang sudah mahir penulis, bahkan diantaranya ada yang sudah membuat buku, awalnya membuat saya minder juga. Tapi, kalau kita mau pintar membuat nasi goreng yang enak, bukankah kita harus belajar dari koki yang handal? Saya pun kemudian menikmati semua sesi yang diadakan grup ini. Saya merasa bersyukur bisa ikut bergabung dengan para koki yang handal.

Sejak bergabung di komunitas ini, blog yang sudah lama tidak saya aktifkan, akhirnya saya aktifkan lagi. Dulu blog ini saya buat atas saran seorang teman. Saat itu saya memang sedang berusaha menahan sifat ceplas ceplos saya, tapi tidak mau menghilangkan kebiasaan mengekpresikan perasaan. Saya pun berpikir harus ada wadah buat saya mengekspresikan diri. Akhirnya saya membuat blog ini. Senangnyaaa....Akhirnya saya punya tempat dimana saya bisa mencurahkan apa yang ada dalam pikiran saya. Tempat dimana saya bisa menulis apa yang saya mau. Tempat dimana saya bisa berbagi cerita dengan dunia.

Saya mulai rajin membuat draft tulisan di aplikasi blogger yang saya download di playstore. Beberapa tulisan ada yang saya publish, sebagai syarat menyetor tulisan di grup. Beberapa, ada yang masih tersimpan sebagai draft. Setiap kali terlintas tentang suatu hal, langsung saya tuliskan di blogger ini. Takut lupa, maklum faktor U, tidak bisa diabaikan hehe

Selain mulai menulis di blog, saya juga mulai suka jalan-jalan, berselancar di blog orang lain. Rasanya seru ya membaca tulisan-tulisan, lintasan pikiran manusia yang tidak ada habisnya ide-ide itu tergali. Sering saya terkagum-kagum, kok bisa kepikiran ya menulis seperti itu. Subhanallah.

Menyadari tulisan saya masih jauh dari kategori tulisan yang baik, tulisan yang enak dibaca, tulisan yang mengalir, saya harus banyak belajar. Saat ini, saya baru bisa gaya menulis curhatan haha... Lain kali ingin juga menulis yang lebih serius, tulisan yang didasari riset sebelumnya. Mudah-mudahan bisa yaa.. Yang penting tetap semangat belajar menulis dan be yourself ;)
Selamat hari Senin!

Friday, April 10, 2015

Instruktur Aerobik Yang Sexy



Saya suka dengan instruktur senam aerobik tadi pagi. Bukan karena wajahnya yang cantik, atau tubuhnya yang sexy, tapi dari caranya memimpin gerakan senam dengan penuh semangat. Terlihat menarik dan menyenangkan. Senyum tak lepas dari wajahnya.  Yel-yel penyemangat pun tak lupa ia teriakan, membakar semangat kami.

Setiap gerakan dilakukan dengan power yang maksimal. Urutan senam, mulai dari pemanasan, latihan inti, sampai pendinginan dilakukan seuai porsinya.  Dengan tipe senam low impact, peserta yang sebagian besar ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah berumur, masih bisa mengikuti senam sampai selesai. Bagi yang terbiasa dengan middle/high impact aerobic dapat menambah sendiri power gerakannya, sehingga merasa cukup membuat tubuhnya berkeringat.

Dipimpin senam olehnya, saya merasa termotivasi untuk ikut melakukan gerakan senam dengan all out. Selain saya dasarnya suka joged, gak bisa denger musik dikit, bawaannya jadi pingin goyang haha, saya juga merasa rugi kalau saya tidak melakukan gerakan senam dengan all out. Maklum, di luar senam di kantor setiap Jumat pagi, saya jarang berolah raga, dengan dalih sibuk :p

Semangat instruktur aerobik itu menular pada saya. Sikap positifnya mampu membuat saya berkonsentrasi dan mengikuti setiap gerakannya dengan maksimal.

Sikap positif atau negatif memang menular karena pada dasarnya setiap manusia itu saling mempengaruhi, baik secara langsung maupun tidak langsung, disadari atau tidak disadari. Coba perhatikan, bila di lingkungan kerja kita ada yang rajin ibadahnya, setiap pagi sholat dhuha, sehabis sholat dzuhur disempatkan tilawah, biasanya sedikit banyak kita juga jadi terpengaruh untuk rajin beribadah. Atau misalnya rekan kerja kita suka bergosip, biasanya kita ikut-ikutan suka bergosip.

Belajar dari seorang instruktur senam aerobik yang mempu menularkan sikap positifnya, di situ saya melihat ia sebagai seseorang yang sexy. Ya, sexy karena ia mampu mengelola inner beauty nya sehingga memberikan efek positif pada sekelilingnya. Coba kalau sebaliknya instruktur senam itu seorang yang mutungan, betean, peserta senam juga akan ikut merasakan, dan akhirnya mengikuti senam dengan ogah-ogahan.

Mari menjadi orang yang suka menularkan sikap positif. Memberi semangat kepada yang yang sedang down, merespon cepat kepada orang yang membutuhkan bantuan, atau sekedar menceriakan suasana. Sekecil apapun usaha yang dilakukan, bila didasari dengan niat baik, pasti akan mendapat pahala dari Allah. Insya Allah


Monday, April 6, 2015

Yang Muda, Yang Mengabdi





Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), saya sedih mendapati kenyataan PNS kerap dibully, diejek, dicaci maki sebagai bagian dari unsur negara yang memalukan. Tidak hanya sosial media, televisi dan surat kabar turut memberikan stigma buruk. PNS itu pemalas, koruptor,  penerima suap, pemakan gaji buta, dan sebagainya.

Padahal faktanya, masih banyak PNS, terutama angkatan muda, yang mempunyai integritas dan kredibilitas, jauh dari tuduhan di atas. PNS yang masih memegang erat nilai-nilai kebaikan, walau tanpa imbalan yang memadai.

Sebagai contoh, teman-teman saya yang bertugas di Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, unit yang bertugas mengurus semua hal tentang dokumen kependudukan dan perizinan, wajib memberikan pelayanan gratis kepada masyarakat, bersih tanpa pungli sepeser pun. 

Saat anggaran belum turun, mereka terpaksa mengeluarkan uang pribadi untuk membeli tinta printer dan kertas agar dapat terus melayani masyarakat.

Masyarakat kerap dilayani dengan menganut prinsip transparansi dan akuntabilitas. Gratifikasi sebagai tanda terima hasil ditolak, demi menjaga integritas tersebut. Integritas bagi PNS muda adalah harga mati yang tidak dapat ditawar.

PNS muda tidak punya rekening gendut. Bahkan sejak Gubernur kami kisruh dengan DPRD terkait RAPBD 2015, kami praktis tidak menerima tunjangan. Terbayang hidup di Jakarta dengan uang sebesar Rp. 2.500.000,-, gaji pokok kami?

Bukannya tidak ikhlas, walau pernah terbersit keinginan untuk kembali berkarir di jalur swasta. Bagi sebagian PNS muda, dengan latar berlakang pernah bekerja di korporasi, tidak sulit untuk kembali berkarir di jalur tersebut. Kami tinggal mengajukan pengunduran diri, kemudian melamar atau kembali bekerja di perusahaan lama.

Ada teman, lulusan terbaik dari universitas negeri di Indonesia, pernah bekerja di  Kantor Akuntan Publik ternama, dengan gaji dan tunjangan yang jauh dari angka gaji dan tunjangan yang biasa diterima sebagai PNS, tetap bertahan. Tujuannya apa? Tak lain ingin berkontribusi untuk memperbaiki carut marut birokrasi di Pemerintahan, memberikan sumbangsih bagi kebaikan negeri tercinta.

Bekerja di sektor apapun, selama dilandasi dengan niat dan cara yang baik, maka akan memberikan keberkahan. Tolong dukung dan doakan kami, para PNS muda agar tetap bisa istiqomah, berdiri tegak dan bertahan dengan idealisme dan integritas yang berusaha kami pegang sekuat tenaga di tengah berbagai kesulitan dan godaan.

Ijinkan kami bekerja dengan tenang, mengabdikan diri pada masyarakat. Karena bagaimanapun, harus ada bagian dari negeri ini yang mau melakukannya. Kami sudah, bagaimana dengan Anda?

Sunday, April 5, 2015

Bukan PNS Sogokan



Sejak bekerja sebagai PNS, saya sering mendapat pertanyaan seperti ini:

"Bayar berapa diterima jadi PNS?"
"Punya kenalan pejabat ya bisa jadi PNS?"

Hadoooh please deh, suka pada baca koran gak sih? Seharusnya tau dong kalo proses menjadi PNS itu sekarang sudah sangat transparan. Mulai dari pengumuman penerimaan, pengumuman seleksi, sampai dengan pengumuman kelulusan semua dilaku
kan secara online. Jadi agak sulit untuk bermain curang menyogok panitia, kecuali punya niat kuat.

Sayangnya saya gak punya niat segitu kuatnya. Bukan apa-apa, saya gak punya uang banyak buat menyogok hehe...Kalau pun punya, gak akan saya pake untuk menyogok, ogah banget ngasih uang ke penjahat, mending gue pake buat jalan-jalan keliling dunia dah! Kenalan pejabat juga saya gak punya. Jadi ya alhamdulillah, meskipun tanpa menyogok atau mempunyai kenalan pejabat, saya bisa menjadi PNS, pekerjaan idaman bagi separo rakyat Indonesia hihi

Nah, karena saya gak pake uang sebagai modal bekerja sebagai PNS, makanya setelah diterima, gak kepikiran tuh untuk mencari uang di luar gaji dan tunjangan, untuk balik modal. Saya bersyukur mendapat penghasilan seperti sekarang ini. Keluarga saya pun tidak menuntut saya berpenghasilan besar. Suami menyerahkan pilihan pada saya, mau bekerja silahkan, mau di rumah juga monggo aja. 

Jadi, mohon, kalau teman-teman pernah mendapatkan cerita tentang sogokan untuk bekerja sebagai PNS, jangan sama ratakan semua PNS seperti itu ya. Mungkin memang ada PNS yang masuk kerja dengan menyogok, tapi banyak juga yang tidak. Masih banyak PNS jujur walau sering tidak tersorot media.

Friday, April 3, 2015

Say No To Calo!




Dididik mandiri oleh orang tua sejak kecil, saya terbiasa mengerjakan apa-apa sendiri. Termasuk mengurus dokumen penting seperti akte kelahiran, KTP, paspor dan bahkan visa. Rasanya rugi kalau harus keluar uang hanya untuk jasa mengurus dokumen. Mending buat amal atau beli buah deh hehe. Ya, bisa dibilang saya anti calo.

Apalagi sekarang pelayanan masyarakat oleh Pemerintah sudah semakin membaik. Sebagai contoh, mengurus legalisir dokumen di Kemetrian Luar Negeri, kita hanya perlu mengisi form surat permohonan legalisir, melampirkan dokumen yang akan dilegalisir dengan foto kopinya, foto kopi KTP, dan materai senilai Rp.6000,-. Dengan membayar biaya legalisir sebesar Rp.10.000,-, legalisir selesai dalam waktu 1 hari saja. Segitu mudahnya ya ^^.

Ada cerita menarik waktu saya akan mengurus dokumen di Kementrian Hukum dan HAM. Saya melihat ada seorang wanita WNA yang mengurus sendiri dokumennya. Wah keren, "bule" pun mau berepot-repot ria, tidak mau pakai calo, contoh yang baik buat WNI nih hihi. Tapi sayangnya layanan petugas kurang memuaskan karena keterbatasan bahasa. Semestinya petugas layanan tidak hanya cantik, tapi juga pintar, minimal bisa berbahasa Inggris sekedar little-little sih I can haha

Soal calo, ada pengalaman buruk teman saya yang memakai jasa calo untuk mengurus paspor. Dia harus membayar Rp.800.000,-. Ya ampun, biaya resmi pengurusan paspor cuma Rp.255.000,-! Dia rugi Rp. 545.000,-dengan waktu penyelesaian yang sama dengan mengurus sendiri. Huh, kalo begini sih yang pinter calonya ya hihi

Buat warga Jakarta, sekarang ini mudah sekali mengurus dokumen di kelurahan/kecamatan sejak adanya sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Mengurus KTP, KK, izin usaha hanya di satu tempat. Pelayanan ini juga dijamin bebas pungli. Petugas yang ketahuan minta pungli, langsung dipecat, gak peduli dia camat, lurah atau hanya staf. Lagipula jangan mau ya ngasih uang sama petugas kelurahan/kecamatan di Jakarta, ssttt.....gaji mereka sudah tinggi kok!

Nah, bagi yang masih suka memakai jasa calo, berpikir dua kali deh. Yang pertama rugi, yang kedua rugi banget hehe... Jangan memberi penghasilan bagi para calo. Masih banyak lahan mencari uang yang halal, baik dan benar, asal mau. Yuk ah, ikuti anjuran Pemerintah dan hati nurani terdalam untuk mengatakan TIDAK pada calo!