Tuesday, April 14, 2015

Pendidikan Yang Mubazir


child experiencing stress







Mendampingi buah hati menghadapi ujian di sekolah, kerap membuat saya prihatin. Begitu banyak materi pelajaran yang harus dihafalnya.
Beberapa, menurut saya tidak perlu dihafal, cukup dipahami saja. Coba kalkulasikan, berapa banyak waktu yang bisa dihemat untuk melakukan aktivitas positif lain, dari pada sekedar menghafal?

Kenapa sih pendidikan di Indonesia itu begitu beratnya? Berat dengan hafalan teori dan rumus. Padahal tanpa hafalan, ketika mereka dewasa, mereka akan bisa survive kok. Apalagi sekarang zaman canggih, mengakses internet sudah begitu mudahnya. Ada hal yang kita tidak tau, tinggal Googling. Lalu buat apa lagi susah-susah menghafal?

Kenapa pendidikan di negeri ini tidak dititik beratkan pada pemahaman? Bagaimana anak-anak paham mengapa harus sholat. Bagaimana mereka mengerti sejarah siapa pencetus ide membuat parit untuk melindungi kota Madinah dari serangan musuh saat perang Khandaq. Bagaimana mereka tahu latar belakang mengapa surat An Naba' diturunkan. Saya rasa pemahaman seperti ini lebih penting daripada sekedar menghafal siapa nama istrinya Ustman Bin Affan.

Lain cerita ketika anak dilatih untuk menghafal Al-Qur'an. Ini tentu bermanfaat bagi kehidupannya di masa depan, di dunia dan di akhirat. Hafalan seperti ini tentu tidak mubazir, justru akan menjadi penolongnya, penerang kuburnya kelak. Maka kemudian saya begitu terharu ketika di usia 10 tahun, Si Sulung sudah hafal 1 juz Al-Qur'an. Alhamdulillah.

Pendidikan akan lebih terasa kemubazirannya saat bobot penilaian soal hafalan berbanding lurus dengan bobot penilaian soal pemahaman. Bagi anak yang sulit menghafal, tentu sulit mendapat nilai baik. Akhirnya nilai raport jelek karena jatuh di hafalan. Sementara bagi anak yang kuat di hafalan, tapi lemah di pemahaman, apakah hafalannya itu akan bermanfaat bagi kehidupan dewasanya kelak? Saya rasa mubazir.

Rasanya sesak dada saat membandingkan sistem pendidikan di Indonesia dengan negara lain. Di Norwegia, misalnya, negara di bagian timur benua Eropa ini, tidak mewajibkan anak yang akan memasuki jenjang SD untuk bisa membaca. Justru di SD lah anak baru diajari membaca, dengan cara yang menyenangkan, bukan hafalan. Target anak bisa membaca baru di kelas 3.

Di negara makmur ini, seluruh biaya pendidikan diberikan secara gratis oleh pemerintah, mulai dari tingkat Pre School sampai Strata 3. Seluruh pelajarnya yang berusia dibawah usia 18 tahun diberi uang saku yang nilainya lumayan, setara Rp. 1.500.000,-.  Tingkat Strata 3 karena dianggap sebagai skilled worker bahkan digaji, padahal pelajar, padahal peraih beasiswa dari negara asal, tapi masih dikasih duit! Asyik ya :) Hasilnya pendidikannya pun jelas, anak paham akan segala sesuatu yang diajarkan, mampu mengaplikasikan dalam kehidupan, seluruh penduduk bahagia dan akhirnya menjadikan negaranya maju.

Bandingkan dengan Indonesia yang sistem pendidikannya sudah berat sedari awal. Anak TK sudah dijejali berbagai hafalan hadist. Anak dipaksa bisa membaca, karena salah satu syarat bisa masuk ke SD favorit harus sudah lancar membaca. Di SD anak dijejali berbagai hafalan. Rumus-rumus matematika, yang waktu dulu saya dapat di SMP, sekarang bahkan harus dihafal anak kelas 5 SD. Tapi hasilnya apa? Apakah negara ini maju, makmur, berkembang pesat, penduduknya bahagia? Duh, negeriku :'(

Besar harapan agar Indonesia, negeriku, mau banyak belajar dari negara maju. Tidak gengsi mengadopsi sistem yang sudah terbukti keberhasilannya. Supaya penduduk bahagia, makmur dan sejahtera, gemah ripah loh jinawi, sebagaimana cita-cita leluhur kita dulu. Amiin ya robbal alamin.

2 comments:

  1. Setuju dengan opininya, salah satu tujuan pendidikan adalah membuat manusia bisa survive. Mari ajarkan hal yg bisa diaplikasikan dalam keseharian.

    ReplyDelete
  2. Makasih sudah mampir pak Hidayat. Menjadi orang tua itu proses belajar yg tidak ada habisnya ya. Setuju utk mengajarkan hal aplikatif pada anak2 :)

    ReplyDelete