Friday, May 15, 2015

You Are What You Eat


Yup, Anda benar, tulisan ini masih seputar Food Combining (FC). Setelah di postingan sebelumnya saya membahas tentang sarapan, kali ini kita kenali yuk seperti apa pola makan siang/malam dalam FC. Rumus makan siang/malam dalam FC sama, yaitu:

1. Karbohidrat tidak bertemu protein hewani
2. Protein hewani hanya bertemu sayuran
3. Karbohidrat hanya bertemu sayuran dan atau protein nabati

Simple kan? Tapi susah dipraktekkan ya hehe...  Butuh waktu kurang lebih 1 bulan untuk saya mempelajari pola makan FC. Membaca berbagai referensi dan bertanya kepada sahabat dan kerabat yang sudah duluan menjalani FC, lalu mulai merasa kok semua penjelasannya sangat make sense ya? Pola makan ini tidak membatasi jenis makanan tertentu, namun mengatur kombinasi makanan sehingga sesuai dengan kemampuan dan siklus pencernaan tubuh. Beban saluran pencernaan akan lebih ringan, tubuh dapat menyerap nutrisi dengan sempurna, racun dapat dikeluarkan dari tubuh, dan sisa energi untuk pencernaan dapat disalurkan bagi perbaikan organ tubuh lainnya. Maka bismillah saya tekadkan untuk menjalani pola makan yang semula saya pikir berat ini.

Kembali ke rumus menu makan siang/malam dalam FC. Mengapa karbohidrat tidak boleh bertemu protein hewani? Bukankah dulu di sekolah kita mempelajari bahwa kombinasi makanan yang baik adalah yang mengandung 4 sehat 5 sempurna? Ada nasi sebagai karbohidrat, lauk pauk sebagai sumber protein, sayur mayur sebagai sumber vitamin dan mineral, terakhir prosesi makan ditutup dengan buah dan susu. Dengan rutin menjalani pola makan seperti ini, lalu sehatlah tubuh kita. Begitu pemahaman kita selama bertahun-tahun. Tapi sadarkah kita, ternyata pola makan seperti ini justru membuat masyarakat di hari tuanya banyak menderita penyakit serius seperti jantung, diabetes, stroke, kanker dan masih banyak lagi. Pasti ada yang perlu diperbaiki dengan pemahaman pola makan selama ini.

Kebiasaan mengkonsumsi karbohidrat dicampur protein sudah menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun. Selama itu juga kita tidak tau bahwa ternyata ada bahaya serius di dalam saluran cerna bila karbohidrat bertemu protein hewani. Sistem pencernaan akan bekerja ekstra keras. Protein merupakan senyawa organik kompleks yang mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein tidak serta merta mudah dicerna. Ia harus dipecah dulu supaya lebih sederhana. Proses itu membutuhkan alokasi energi yang besar. Di saat yang bersamaan, karbohidrat juga membutuhkan energi besar untuk mengurai glukosanya. Terbayang double usaha besar yang harus dikeluarkan tubuh untuk mencerna karbohidrat dan protein secara bersamaan?

Paduan cita rasa gurih nan lezat saat mengkonsumsi karbohidrat bersama protein hanya ada di level indra pengecap, tapi tidak di level saluran cerna. Akan terjadi inefisiensi kerja enzim. Karbohidrat dan protein masing-masing memerlukan enzim pencernaan yang berbeda. Setiap enzim juga memerlukan pH yang sangat jauh berbeda. Enzim amilase (berfungsi memecah karbohidrat) akan berhenti saat enzim pepsin (berfungsi memecah protein) dikeluarkan. Akibatnya karbohidrat tidak terurai dengan baik. Ujung-ujungnya hanya menjadi sampah metabolisme, percuma, tidak bisa digunakan untuk kebaikan tubuh. Nah inilah yang menjadi sumber masalah beberapa penyakit. Akibat lainnya adalah pH darah menjadi asam, kondisi yang disukai penyakit. 

Harus setiap harikah pola makan seperti itu diterapkan? Kalau mau tubuh kita senantiasa sehat, iya! Tapi sebagai manusia biasa yang menyukai makanan enak walupun tidak sehat, wajar jika sesekali kita ingin menyantapnya bukan? Boleh saja. Dua kali dalam seminggu kita melakukan cheating (makan tidak sesuai aturan) masih ditolerir. Tapi disarankan pagi tetap sarapan buah. Saat tubuh sudah terbiasa dengan asupan dan kombinasi makanan yang baik, maka alarm tubuh akan bekerja saat ada zat-zat yang tidak baik masuk. Sakit tenggorokan, pusing-pusing, mual, bahkan demam adalah reaksi tubuh yang saya alami saat cheating. Untuk meminimalisirnya, sehabis cheating saya minum jus sayuran, berusaha mengembalikan suasana tubuh dari kondisi asam menjadi basa. Jadi cheating lah dengan hati riang gembira #eh

Berikut ini contoh menu makan siang dan malam ala saya. Saat di rumah tentu lebih mudah menentukan menu. Saat makan di luar rumahlah godaan terbesarnya. But when there's a will, there's away. Pasti bisa kalau kita punya tekad untuk sehat. Diingat-ingat saja bahwa memberi tubuh asupan yang baik sama dengan menginventasikan kesehatan di masa depan. Begitu juga sebaliknya. You are what you eat!


Di rumah: Nasi, tumis jamur broli, tempe goreng, raw selada dan tomat

Di RM Padang: nasi, perkedel kentang, terong balado, sayur nangka, daun singkong rebus, ketimun. Tanpa lauk hewani tetap enyaaakk ^^

Di rumah: semur ayam + tahu, tumis kale, raw paprika

Di rumah: nasi kuning ultah Si Sulung. Ayam gorengnya diskip dulu yaa

Di luar rumah: nasi lengko, tahu gejrot, jus wortel. Gak yambung ya? Biarin deh, yang penting mereka gak akan senggol bacok di perut hehe

Di luar rumah: bihun goreng tanpa baso/ayam. Minumnya jus alpukat tanpa gula/susu/es tapi gak kepoto:p Btw, alpukat itu masuk kategori sayuran ya cyiiin

Di rumah: Telur dalam paprika panggang, raw selada dan tomat. Ini ronde satu. Setelahnya dilanjutkan dengan tahu campur ala ibu mertua^^
Di luar rumah: nasi, pepes tahu, sayur asem, lalapan, sambel. FC itu gampang!

Di luar rumah: gado-gado lontong tanpa telur. Gak sampe Rp. 10.000,-! Kurang ideal karena gak ada sayuran mentahnya. Tapi masih dalam koridor FC lah :)

Di pinggir jalan: tongseng kambing tanpa nasi. Tapi lihat tuh kol dan tomat mentahnya lebih banyak dari tongsengnya. Kenyaaaaang!



Tuesday, May 12, 2015

Cinta Platonik


Pernah merasa kagum terhadap orang yang belum Anda kenal sebelumnya? Menunggu-nunggu kehadirannya? Menantikan setiap karyanya? Memikirkannya di waktu senggang? Bahkan saat ia muncul, Anda langsung merasakan debar di dada, seolah ia begitu dekat dengan Anda? Di  saat yang bersamaan, Anda juga sadar bahwa Anda tak mungkin memilikinya. Anda sendiri bingung dengan situasi demikian. Apakah Anda sedang jatuh cinta atau apa? 

Kalau perasaan seperti itu dikategorikan jatuh cinta, maka saya pernah mengalaminya. Cinta tanpa hasrat seksual. Cinta yang mengagumi. Cinta yang memuja. Cinta persahabatan dari seorang fans kepada idolanya. 

Saat itu saya baru duduk di bangku kelas 2 SMP. Saya jatuh cinta pada penyanyi asal New Jersey, Amerika Serikat yang so handsome and very baby face, Tommy Page. Lagu-lagunya seperti Shoulder To Cry On, I’ll Be Your Everything, Whenever You Close Your Eyes, Places In My Heart, When I Dream Of You.... sangat akrab di telinga saya. Bukan cuma kaset atau fotonya yang saya koleksi, poster si Thomas Alden Page, nama aslinya, turut menghiasi dinding kamar saya. Yes, I was trully in love with him! Cinta seperti ini, yang kemudian saya ketahui dari sebuah artikel di majalah “GADIS”, majalah langganan saya waktu remaja, disebut cinta platonik atau cinta platonis. 

Saat teringat pernah mengalami cinta sejenis ini, saya suka senyum-senyum sendiri. Lucu mengenang  masa remaja. Kok bisa ya pake acara jatuh cinta model cinta platonik segala. Seandainya saya lebih dini mengenal ajaran Islam, pasti saya gak akan menjumpai hal semacam itu. Tentu saya tau kepada siapa saya harus jatuh cinta. But make it a rule of life: never to regret and never to look back! Regret is an appaling waste of energy, you can't build on it. It's only good for wallowing in, kata Katherine Manfield.

Dari Wikipedia, saya dapatkan pengertian cinta platonik yaitu sebuah istilah yang dipakai untuk menyebut sebuah relasi yang sangat afektif, tetapi dimana unsur-unsur rasa ketertarikan secara seksual tidak terdapat, terutama apabila hal ini justru malahan diperkirakan ada. Istilah ini diambil dari salah satu filsuf Yunani kuno, Plato, terutama dari karyanya Symposium, dimana tertulis bahwa cinta akan ide daripada kebaikan adalah dasar dari sebuah kebajikan dan kebenaran.

Sebenarnya, salahkah cinta platonik itu? Menurut saya tentu salah bila rasa cinta itu menghasilkan suatu sikap yang berlebihan, fanatik, tergila-gila setengah mati, rela menghabiskan waktu yang hanya 24 jam untuk mencari tahu tentang sang idola atau objek yang di-cinta platonik-inya.  Menggali informasi seperti apa latar belakangnya, bagaimana keluarganya, masa kecilnya, apa yang disukai dan apa yang dibencinya. Duh, buang-buang waktu banget! Padahal pasti ada sisi buruk dari sang idola yang kita belum tentu ketahui secara detail. Sisi yang kemungkinan besar tidak nampak ke permukaan. Bagaimana kalau ternyata sang idola adalah seorang pemabuk, pezina, sering tinggal kelas, atau yang lebih ekstrem jarang mandi haha...

Lebih fatal lagi, jika pengidolaan ini berakibat keinginan mengikuti sang idola meskipun dalam hal-hal yang merusak akidah dan keimanan. Naudzubillahimindzalik... Sebagai seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, sudah tentu kita wajib memilih idola yang baik yaitu nabi kita, Muhammad SAW yang diutus Allah untuk memuliakan akhlak manusia. 

Namun cinta platonik tidak sepenuhnya salah selama kita bisa menempatkannya secara proporsional. Mencoba untuk mengambil sisi positif dari sang idola. Perasaan kagum bisa menjadi motivasi untuk bertindak atau berkarya seperti sang idola. Lebih jauh, jalinan persahabatan bisa menjadi hal yang menyenangkan. Tidak mustahil bukan? 

Dari lagu-lagu Tommy Page minimal saya belajar bahasa asing. Itu doang sih hihi...




Sunday, May 10, 2015

Resep Emak - Home Made Baso Tanpa Tepung -



Siapa gak suka baso? Kayaknya gak ada ya hehe... Jajan baso di luar emang seru. Soal rasa? Biasanya enak. Soal kandungan gizinya? Kurang tau ya karena kita gak jelas bagaimana proses memasaknya. Soal kebersihan? Yaa apalagi, lebih gak tau. Tapi biasanya penjual baso kurang menjaga kebersihan dagangannya. Jangankan bahan2 basonya yg gak keliatan, mangkok sendok nya pun sering asal-asalan dicucinya. Makanya yang lebih aman ya membuat sendiri basonya.

Berhubung saya sedang menekuni food combining, dimana ada aturan karhohidrat tidak boleh bertemu protein hewani, jadi saya harus membuat baso yang agak beda nih. Biasanya kan baso dicampur tepung atau telur ya. Baso yg akan share ini tidak memakai tepung atau telur, tapi memakai tahu sebagai perekat. Hasilnya enak dan kenyal meskipun tidak memakai obat kimia apapun. Dan sudah pasti sehat. Gak khawatir deh meskipun anak-anak makannya banyak hehe

Ohya, hari ini saya membuat 2 jenis baso, ayam dan sapi. Proses dan bahan pelengkapnya sama saja. Tapi anak-anak saya ternyata lebih suka baso sapi. Baso ayamnya bisa disimpan di freezer untuk di masak sebagai campuran tumis sayuran. 

Berikut ini resepnya

Bahan:
Daging sapi 1/2 kg atau daging ayam bagian dada 1,5 bh
Tahu 3 bh
Bawang putih 2 siung
Merica 1 sdt
Garam 1,5 sdt
Air es 50 ml

Cara membuat:
1. Campurkan semua bahan kecuali tahu dengan blender sampai halus
2. Remas-remas tahu kemudian masukan ke dalam adonan yg sedang diblender
3. Campur sampai rata. Kunci kekenyalan baso ada di proses ini
4. Bentuk bulat-bulat dengan menggunakan sendok
5. Cemplungkan bulatan baso ke dalam air yang sedang direbus
6. Hidangkan dengan tambahan tahu, sawi, toge  dan bawang goreng

Bagaimana? Tidak sulit, bukan? Rasanya tidak kalah dengan baso langganan kami lho. Malah kata si sulung "enakan baso bikinan ummi" alhamdulillah... Namanya juga dibuat sama emaknya ya^^








Saturday, May 9, 2015

Komitmen Suka-Suka



1, 3, 5, 7, 9 adalah tanggal di bulan Mei, dimana saya memulai menjalankan komitmen pada diri sendiri untuk konsisten menulis setiap 2 hari sekali. Komitmen ini 100% terinspirasi dari tantangan menulis selama 15 hari yang diselenggarakan di komunitas menulis di grup Whatsapp Kampoeng Kata-Kata.

Saya sendiri tidak ikut tantangan itu karena berbagai alasan:

1. Belum pede. Baru belajar menulis, masih bingung bagaimana cara merangkai kata menjadi kalimat mengalir.
2. Syarat menulis 350 kata. Saya pikir itu banyak banget. Bodohnya, malas mencari tau sebanyak apa :(
3. Waktunya bersamaan dengan deadline pekerjaan di kantor. Setiap hari saya ditelpon, di sms, dimonitor sejauh apa progressnya karena akan dilaporkan kepada pimpinan tertinggi. Kebayang dong stressnya?

Ah, mencari alasan memang pekerjaan mudah. Orang lain juga punya kesibukan yang sama bahkan lebih banyak, tapi bisa tuh. Jangan gitu dong, Dini!

Tidak memungkiri keampuhan pepatah Practice Makes Perfect. Semakin sering menulis, semakin lancar kata-kata saya ketikkan baik melalui laptop atau HP. Memakai laptop tentu lebih enak. Selain layarnya lebih besar, pengaturan tulisannya pun lebih banyak. Tapi melalui HP, setidaknya saya bisa menuliskan setiap ide yang terlintas di pikiran sebagai bahan tulisan. Saya bisa melakukannya dimana saja. Di jalan, saat menunggu antrian, bahkan di toilet hihi

Tentang komitmen ini, saya sendiri tidak menargetkan akan berlangsung berapa lama. Saat ini sudah seminggu. Bisa dilanjutkan, bisa juga stop sampai di sini. Kita lihat saja nanti. Meskipun saya tau bahwa saya harus menargetkan outputnya. Tapi biarkan saja ini mengalir tanpa aturan. Biarkan saja saya menikmati prosesnya begitu saja. Sekali-sekali boleh kan keluar dari aturan? Ini kan komitmen suka-suka :p

Thursday, May 7, 2015

Riset Abal-Abal


Teman-teman pasti sudah pernah lihat gambar di atas sebelumnya bukan? Ya, gambar itu memang sedang ramai menghiasi berbagai timeline di media sosial. Sebagai pengguna smart phone kronis, terus terang saya merasa tersindir. Lebih tepatnya mengakui bahwa semua gambar itu mewakili keseharian saya. Ohya smart phone selanjutnya saya singkat HP aja ya, meski gak semua HP itu smart phone sih.  Gambar itu mengingatkan saya betapa selama ini sekitar 18 jam dari 24 jam waktu yang disediakan Allah, saya habiskan dengan memegang HP. Mau tidur pegang HP, bangun tidur pegang HP. Sepanjang hari? ya tentu bersama HP. Subhanallah...

Dari gambar yang ada di sini kemudian terpikirkan untuk melakukan riset kecil-kecilan tentang apa yang akan terjadi pada diri saya bila tidak ada HP. Sebenarnya istilah riset atau research terlalu berat ya? Tapi saya gak menemukan lagi istilah yang paling tepat. Ya beginilah kalau sudah tua baru belajar menulis hihi. Tujuan saya membuat riset ini cuma iseng aja, sekedar mengidentifikasi permasalahan penyakit kronis saya. Apakah saya akan sakaw? saya akan mati gaya? saya akan hilang kendali? atau saya akan biasa-biasa saja? Apakah efeknya hanya terjadi pada saya atau juga pada orang-orang di sekitar saya? Seperti apa efek posistif dan negatifnya? Apa hikmah yang bisa saya ambil dari riset ini? Tujuan jangka panjangnya saya ingin menghentikan ketergantungan saya pada HP. Acieeee, bisa lu, Din?

Maka dimulailah riset abal-abal ini. Kemarin, sehari sebelum saya membuat tulisan ini. Memberi waktu pada diri saya untuk bebas dari HP selama 24 jam penuh. Dimulai dari pukul 21.00 sampai 21.00 di hari kerja, weekday, bukan weekend. Kenapa waktu itu yang saya pilih? Karena sekitar pukul 21.00 adalah waktu "bebas" saya.  Me time istilah Jawanya. Di jam itu anak-anak saya sudah terlelap. Lalu kenapa di hari kerja? Supaya lebih mudah aja, karena jam kerja adalah jam sibuk saya. Setidaknya perhatian terhadap HP akan teralihkan oleh pekerjaan.

Saya juga memperdalam riset  dengan bertanya pada teman-teman di kantor, "Gimana kalo HP Bapak/ibu ketinggalan?" Saya sengaja bertanya dengan pertanyaan seperti itu, karena rasanya gak mungkin saya bertanya "Apakah yang akan terjadi pada Bapak/Ibu bila tidak memegang HP selama 24 jam?" Lha wong saya sendiri masih mencoba mancari tau apa yang akan terjadi bila saya tidak memegang HP selama 24 jam, masa saya bertanya begitu? hehe

Dari berbagai jawaban mereka, saya komentari sedikit ya. Here they are:
  • "Kalo HP ketinggalan, saya pasti balik lagi ke rumah, Din #ebuset
  • "Mending ketinggalan dompet daripada ketinggalan HP" #iya sih
  • "Biasa aja, Din, nanti juga sampe rumah langsung pegang lagi" #apanya yang dipegang bu xixi
  • "Kacau, Din. Semua informasi ada di HP #tah eta!
  • "Gak PD, Din #jadi PD nya karena HP pak? hihi 
  • "Terasa ada yang hilang, Din. Hampa" #eaaaa

Kesimpulan pertama saya dari jawaban mereka adalah ketergantungan pada HP sudah menjadi penyakit sosial masyarakat. Disadari atau tidak disadari. Tentang ini kita bahas lain kali ya. Sekarang ayo kembali ke riset!

Tibalah waktu mengeksekusi riset saya. Setelah 3 jam dari bangun tidur yaitu sekitar pukul 7 pagi, tanpa memegang HP, saya mulai merasa ada yang aneh. Gak enak banget. Mati gaya adalah kalimat yang pas. Untungnya saya terbiasa sarapan buah yang mengharuskan saya melakukan aktivitas mengupas, memotong dan mengunyah pelan-pelan selama 30 kali setiap potongan buah. Ngisi waktu banget haha...

Mulai pukul 8 sampai 12 siang keadaan masih terkendali. Kesibukan bekerja membuat saya tidak terlalu memikirkan HP dan dunia di dalamnya. Pukul 12 sampai 13 adalah waktu terberat. Di jam inilah waktu me time saya untuk rehat saat bekerja. Biasanya saya pasti mengecek HP untuk melihat notifikasi yang pasti bejibun itu hihi.  Alhamdulillah, rentang waktu  ini bisa saya lewati  dengan sukses. Sukses? iya sukses, karena saya bisa melewati "the healing process" ini dengan makan siang bersama teman-teman sambil ngobrol ketawa ketiwi tanpa harus bolak balik melirik ke HP dan disambi chatting di dunia maya. Dan saya menikmati dunia nyata ini! Inilah mengapa saya menyebutnya the healing process. Proses penyembuhan diri saya dari ketergantungan.

Pukul 13 siang sampai 16 sore terasa biasa saja karena ini juga waktu bekerja. Walau kepala mulai dipenuhi dengan pertanyaan apa kabar dengan orang-orang yang terbiasa berhubungan dengan saya via HP? Adakah pesan penting di HP saya? Bukan dari pimpinan di kantor karena mereka sudah saya beri tau bahwa saya tidak membawa HP, tapi dari kolega di luar kantor saya. Saya juga merindukan chatting bersama suami yang sedang terpisah antar benua. Sedikit menyesal karena saya tidak mengabarinya lebih dulu soal riset-risetan ini hikss...Tak kuat, akhirnya saya mengirim email kepadanya sekedar menanyakan "How's your day? HP kutinggal di rumah". Suami malah menggoda, "Gak bisa kirim foto selfie dirimu dong" haha dasaar...

Tiba di rumah sekitar pukul 18.00 saya masih bertahan tidak mau mengambil HP. Sabaaar, 3 jam lagi, Dinsky! Saya menyemangati diri sendiri. Alhamdulillah, setiap hari di jam ini (kecuali hari libur ya) saya sudah mulai terbiasa tidak ber-HP saat bersama anak-anak. Saya mendampingi si sulung belajar, berlatih soal-soal (Woiii ibu-ibu, UAS sebentar lagii!), menemani si bungsu membaca buku dan bermain dengan koleksi hotwheel nya. Tak lupa saya memberi hadiah pada diri sendiri, a glass of veggie juice! 

Pukul 21. 02. Oke, inilah waktunya saya memegang HP lagi setelah 24 jam! Apa yang terjadi? Pada HP saya tentu bisa dibayangkan banyaknya notifikasi. Ada 4 sms, 9 misscal, Line 63, Path 5 dan yang terbanyak tentu dari Whatsapp ada 264 notifikasi. Aje gile ini rekor saya! Tapi bukan itu poinnya. Yang terpenting justru apa yang terjadi pada diri saya? Ternyata saya tidak sakaw, meskipun mati gaya sih hehe. Saya tetap terkendali, bisa berhubungan dengan orang lain tanpa emosi. Bekerja tanpa masalah. Dan yang pasti konsentrasi saya yang biasanya terbagi untuk HP, jadi beralih ke pekerjaan dan anak-anak. Really optimizing my time!

Selanjutnya bagaimana? Apa yang akan saya lakukan setelah riset ini? Hmm, dari pengalaman 24 jam tanpa HP ini saya rasa saya akan kembali kepada kebiasaan saya yang sebelumnya tapi dengan sedikit koreksi. Bagaimanapun saya mengakui arti penting silaturahim dengan teman-teman di  dunia maya. Saya juga tidak mengingkari banyak pelajaran positif yang saya dapat dari silaturahim itu. Saya akan tetap menggunakan HP, tapi di jam-jam tertentu. Tidak boleh di jam kerja. Tidak boleh saat bersama keluarga atau teman. Harus di saat sedang sendiri!  Itu saja dulu target saya, gak mau muluk-muluk karena pasti akan berat. Kapan-kapan kepingin juga bikin riset all day without gadget, no HP, no TV,  no laptop, bisa gak ya?

Oke teman, segitu dulu ya soal riset kali ini.

Jadi udah nih risetnya? Riset kok begitu doang sih? Ya namanya juga Riset Abal-Abal seperti judul di atas HAHAHA... Enak banget ketawanya, padahal gak lucu :p

Tuesday, May 5, 2015

Belajar Dari Penjaga Gardu Tol



Tadi pagi sekitar jam 5.30, di gardu tol Dukuh I Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta, ada kejadian menarik yang menyentuh hati saya. Kejadian yang membuat saya memikirkannya sepanjang jalan menuju kantor. Tentang makna ikhlas dalam bekerja.

Ceritanya begini. Sebagai pelanggan tetap jalan tol, biasanya saya suka membayar menggunakan kartu e-toll di Gardu Tol Otomatis (GTO). Antrian di GTO ini jauh lebih pendek dibanding antrian di loket biasa. Kita hanya perlu men-tap kartu di mesin, lalu palang akan terbuka. Tidak ada proses membayar lalu mengambil uang kembalian. Tidak ada interaksi dengan manusia. Lumayan sekali waktu yang bisa dihemat. Tapi karena belum sempat mengisi ulang kartu, tadi pagi saya terpaksa membayar tunai.

Kebetulan yang menjaga gardu tempat saya membayar adalah seorang bapak, berusia sekitar 45-50 tahunan. Yang menarik dari bapak itu adalah ia menyapa saya dengan ucapan "Selamat pagi", disertai senyuman tulus. Sebenarnya hal ini biasa saja jika kita menemukannya di supermarket, hotel, bank atau tempat pelayanan publik lainnya. Tapi di gardu tol? pastilah sesuatu yang jarang kita alami. Maklum, arus kendaraan di jalan tol yang mencapai ratusan jumlahnya setiap hari. Pekerjaan yang membosankan karena hanya menerima uang, menyerahkan uang kembalian dan struk pembayaran.

Agak kaget, sambil menerima struk, saya membalas tersenyum dan mengucapkan "Selamat pagi juga, Pak. Selamat bertugas ya!". Masih sambil tersenyum saya melanjutkan perjalanan menerjang ramainya jalan tol Jagorawi. Terbayang repot dan lelahnya si bapak mengucapkan selamat pagi kepada setiap kendaraan yang melewati gardunya. Efek senyum si bapak pun menemani saya. Efek energi positif. Efek bekerja ikhlas, saya lebih suka menyebutnya begitu.

Repot dan lelah, mungkin itu yang akan kita rasakan saat kita melakukan sesuatu dengan tidak ikhlas. Kebalikannya, lelah dan repot berubah menjadi mudah dan ringan saat melakukannya dengan ikhlas. Seseorang yang memiliki pandangan bahwa bekerja merupakan rahmat dari Allah yang harus disyukuri tentu akan berbeda dalam menyikapi pekerjaannya. Ia tidak akan memperdulikan pandangan manusia, dalam hal ini pelanggan, rekan kerja ataupun atasannya. Ia hanya bekerja untuk mengharap ridho Allah. Ketika hanya mengharap ridho Tuhannya, maka seluruh tugas akan dikerjakan secara profesional. Saya menghitung setidaknya ada 2 kebahagiaan yang kita rasakan saat bekerja dengan ikhlas. Pertama, bahagia karena tidak mengharap imbalan apapun dari manusia. Kedua, bila mendapatkan imbalan berupa materi atau apresiasi, kita akan merasakannya sebagai rahmat dari Allah. Saat kebahagiaan ke dua tidak tergapai, maka masih ada satu kebahagiaan yang tersisa, yaitu kebahagiaan karena tidak mengharapkan imbalan manusia. Meyakini bahwa masih ada imbalan yang lebih manis menunggu waktunya tiba untuk dinikmati. Karenanya menjadi penting untuk memiliki etos kerja profesional ini.

Bekerja ikhlas tentu bukan perkara mudah. Butuh latihan terus menerus. Beretos kerja profesional, penuh semangat dan rasa tanggung jawab untuk melakukan tugas kita secara optimal dan sungguh-sungguh nampaknya menjadi salah satu kuncinya. Rasa iri terhadap rekan seprofesi karena mendapat hasil yang lebih besar dengan pekerjaan yang lebih sedikit, seharusnya tidak perlu ada. Kembalikan niat bekerja untuk beribadah yang nilainya tidak spontan akan dirasakan di dunia, tapi kelak di akhirat nanti.

Saya jadi teringat nasehat suami saat saya mengeluh tentang rekan kerja hanya menuntut honor untuk pekerjaan yang tidak dilakukannya, sementara yang bekerja mati-matian, mengerahkan segala daya upaya, hampir tidak pernah menanyakan soal honor. Suami saya mengatakan "Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Ikhlas saja. Semua yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita. Mungkin tidak saat ini, tapi nanti. Mungkin bukan dibalas dengan orang yang sama, tapi bisa dari siapa saja. Just do your best. If you are tired, then I'll always be your shoulder to lean on and we'll face it together". Kalimat itu yang sampai saat ini senantiasa menghibur dan menguatkan saya saat mulai lelah dengan tingkah rekan kerja yang tidak kooperatif.

Ikhlas, tidak ada aturan tertulisnya. Tidak ada jaminan akan sikap itu langsung berbuah kebaikan. Tapi begitu memberikan efek kepada diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Ayo, Dini, bekerja lebih ikhlas lagi!

Sunday, May 3, 2015

Having Fun In The Kitchen



Sebagaimana suka makan, maka sedari kecil saya suka sekali memasak. Memasak apa saja. Kue, lauk pauk, sayur mayur, cemilan atau minuman segar. Lho, minuman segar kan gak dimasak hehe. Ya, pokoknya saya senang berlama-lama berada di dapur untuk mengoprek sesuatu dari yang belum bisa dimakan, sampai siap dinikmati keluarga.

Sepertinya ini bakat turunan dari Bapak yang jago masak. Like father, like daughter. Dulu saat weekend atau libur sekolah, dengan berjalan kaki atau naik sepeda, kami sering berburu bahan belanjaan di pasar lalu dilanjutkan memasak bersama. Romantis yaa, romantisme antara ayah dan anak gadisnya ^^

Meskipun Bapak pintar memasak, tapi Mama lebih telaten mengajari. Selalu begitu deh, perempuan lebih telaten daripada laki-laki. Hidup perempuan! Hihi... Saya ingat, makanan "sungguhan" pertama yang saya masak adalah sayur sop. Saat itu saya masih di kelas 4 SD. Semua hal tentang sayur sop saya tanyakan. Mama mengajari mulai dari mencuci, memotong, membuat bumbu sampai sayuran mana saja yang sebaiknya dimasak lebih dulu. Mama selalu mengingatkan untuk mencuci sayuran sebelum dipotong. Tujuannya adalah agar kandungan vitamin dan enzim yang ada dalam sayuran tidak terbuang percuma lewat air cucian.

Berbagai trik memasak diajarkan Mama. Pernah dengar kalau pecahan beling atau kelereng bisa mempercepat proses pengempukan daging? Ternyata panas dalam air rebusan bisa lebih berpendar dan membuat daging lebih cepat empuk. Saya dapat trik itu dari Mama. Maklum zaman dulu belum ada panci presto. Ada juga trik yang lucu, memakai kacamata saat mengulek bawang merah supaya mata tidak perih. Kalau tidak ada kacamata bening bisa pakai kacamata hitam. Kan keren tuh ngulek pake Rayban hihi

Untuk bumbu, apa saja bahan dan berapa takarannya Mama beri tahu. Tak jarang saya catat dalam buku. Sedikit demi sedikit kumpulan resep saya bertambah banyak. Karena sering dibuka saat memasak, buku itu pun menjadi kucel dan kotor kena percikan minyak atau bumbu. Ya gak apa-apa deh, bukankah buku yang kucel itu menandakan sering dibaca, daripada hanya terpajang di rak buku.

Di kelas 6, saya sudah bisa membuat rendang, masakan khas Sumatera Barat. Bisa dibilang itu prestasi tertinggi saya saat itu hihi. Rasanya bangga sekali. Apalagi saat dipuji Bapak, jadi pingin masak terus deh. Sebenernya sih bisa jadi Bapak memuji bukan karena masakan saya yang enak, tapi hanya untuk menyenangkan anak gadisnya atau sekedar memotivasi agar anaknya terus bersemangat belajar masak. Terlepas dari itu semua, saya kemudian belajar akan besarnya arti pujian bagi anak. Sering-sering memuji anak konon melahirkan anak dengan rasa percaya diri tinggi. Iya itu sih sudah terbukti hehe

Kembali ke soal memasak. Bagi saya memasak itu obat stress. Situasi yang tidak mengenakan jiwa, emosi yang meninggi, kepala mau meledak, bisa teredam di dapur. Saat memasak, saya merasa seluruh jiwa raga ikut berperan. Seolah seluruh komponen jiwa ini hadir dengan konsentrasi penuh. Enjoy sekali. Kenikmatan memasak bahkan sudah saya rasakan sejak mulai mengiris sayuran dan mendengar suara "kress kress" . Terdengar merdu di telinga. Tak jarang saya menuliskan kecintaan memasak pada status di media sosial seperti: "menikmati suara irisan buncis hari ini" atau "sedang memasak, tidak bisa diganggu" haha... I'm really having fun while cooking in the kitchen.

Memasak itu panggilan jiwa. Tidak semua perempuan suka memasak. Teman saya malah ada yang benci aktivitas memasak. Saat kami berteman di SMA, pengetahuannya soal memasak nol sama sekali. Tapi untunglah, saat sudah menikah, dia rajin belajar memasak dan kerap memposting masakan hasil karyanya...Widiih, siapa sangka ya pernikahan mampu merubah seseorang 180 derajat.

Jadi teringat nasehat Mama "kebahagiaan suami itu salah satunya terletak di bagian perut ke bawah". Artinya seorang istri selain harus pandai melayani suami di tempat tidur, harus terampil pula memasak demi menjaga keharmonisan keluarga. Oke, kita bisa bilang "suami gue mah pengertian, gak perlu gue masakin juga dia tetap cinta, toh di luaran banyak makanan enak, tinggal beli, gak perlu repot memasak. Hellooooww... pernikahan itu bukan suatu hubungan singkat. Lama-lama pasti bete juga kalo keterampilan memasak istrinya gak bertambah, ini istri gue kapan bisa bikin makanan enak sih? Lagipula menyenangkan suami itu pahalanya besar kan? Masa gak mau berbakti pada suami melalui memasak ini? 

Kuncinya adalah terus berlatih dan jangan putus asa. Practise makes perfect. Ada banyak resep yang bisa dilihat di internet. Video tutorial memasak pun bertebaran di youtube. Yang penting ada kemauan, soal hasil itu nomor dua. Suami tentu akan memaklumi bila hasil masakan kita belum enak. Jangan ragu untuk melibatkanlah suami dalam proses belajar ini. Masak bersama malah bisa jadi momen seru lho. Pasti nanti banyak adegan romantisnya hihi

Dalam memasak kita juga belajar manajemen keuangan. Bagaimana kita bisa mengelola uang yang diberikan suami untuk membeli bahan-bahan masakan. Bagaimana supaya dengan budget yang minimalis kita bisa menghasilkan makanan ala restoran. Memang tidak mudah, tapi juga gak sulit-sulit amat kok.

Memasak bisa menjadi lahan mata pencaharian. Tentu saja! Waktu di kelas 2 SMA, saya sudah mendapatkan uang dari memasak. Waktu itu ada pesanan kue untuk acara OSIS, cake pisang keju. Karena ini adalah order pertama, saya membuatnya dengan sepenuh hati. Kebetulan ada yang lagi dikecengin, jadi kejunya saya banyakin deh hehe... Masih di bangku SMA, saya mendapat order membuat cake casablanca, semacam puding. Yang lucu, pembelinya adalah istri pejabat yang mau demo memasak di acara arisan, akhirnya cake itu dibeli bersama loyang dan resepnya. Berhubung teman Mama, ya saya kasih lah. Lagipula beliau membayar dengan harga tinggi sih^^

Berjualan makanan hasil olahan sendiri pun berlanjut saat saya kuliah. Tetapi bukan untuk keuntungan pribadi melainkan kegiatan sosial. Sebagai penghuni asrama mahasiswa putri, kami diwajibkan memasak minimal seminggu sekali. Di asrama ini pula saya sempat menjadi ketua Seksi Kewanitaan yang salah satu urusannya seputar masak memasak. Kami juga sering ikut berjualan makanan dengan penghuni asrama mahasiswa lain di Bandung.

Berjualan masakan berlanjut hingga saya hamil anak pertama. Saat itu saya tidak bekerja di kantor tapi hanya sebagai freelance translator. Bermula dari suami yang setiap hari membawa bekal makan siang ke kantor. Lama-lama temannya ada yang nitip, dari 5 orang menjadi 10 orang lalu sampai 20a-n orang yang memesan bekal makannya, semacam katering ya. Di kantor ini pula saya kebanjiran order kue kering saat lebaran. Selain katering dan kue, best seller saya yang lain adalah asinan sayur lho. Asinan sayur ini sering dipesan oleh teman-teman Mama dan kakak saya. Sempat terpikir untuk fokus mengelola usaha ini tapi gak jadi karena kemudian buah hati lahir dan saya tenggelam dalam kesibukan mengurus anak.

Itulah pengalaman saya di dunia masak memasak. Di bawah ini ada foto-foto hasil karya saya. Sayangnya tidak ada asinan sayur dan cake casablanca. Lain waktu semoga saya bisa share ya. Selamat mencicipi ^^











Friday, May 1, 2015

Awali Harimu Dengan Buah Segar

Memenuhi janji saya tempo hari untuk melanjutkan postingan tentang Food Combining (FC), menjelaskan tentang alasan-alasan kenapa hal ini dilarang dan kenapa hal itu dianjurkan. Tentang program FC sendiri masih banyak pro kontranya. Tak apa-apa ya? Di sini posisi saya hanya mencoba menyampaikan informasi tentang pola makan yang saya yakini dan telah saya buktikan memberi efek positif pada kesehatan tubuh saya. 

Sekedar me-refresh, FC bukanlah program diet menahan lapar, bukan program menguruskan badan, dan bukan program dengan tujuan mengobati. FC adalah pola makan harian, dimulai dari sarapan, makan siang, dan makan malam dengan tujuan mencari keseimbangan dalam tubuh, melalui pembentukan kadar PH darah yang netral antara asam-basa nya, sehingga tercapai kondisi tubuh yang homeostatis, yaitu kondisi keseimbangan ideal dimana semus sistem tubuh bekerja optimal untuk memenuhi semua kebutuhannya. Kenapa parameternya melalui PH tubuh? Simple saja, karena tubuh yang sehat memiliki PH yang normal. 

Kali ini saya akan memfokuskan bahasan tentang sarapan. Saya yakin kita semua sudah paham betul pentingnya sarapan. Jadi saya tidak akan membahas mengapa kita wajib sarapan. Saya hanya ingin mengenalkan sarapan ala FC. Bagi teman-teman yang sudah akrab dengan FC, ditunggu masukannya bila ada yang salah dari informasi yang akan saya sampaikan ini.

Saya mulai dengan pertanyaan, kenapa penyakit orang Indonesia itu berat-berat? Karena eh karena pola makan yang berat menyebabkan tubuh bekerja berat sehingga mengakibatkan penyakit berat. Diabetes, gagal jantung, stroke sampai obesitas adalah penyakit yang banyak kita temui di sekitar kita. Semuanya penyakit berat yang pengobatannya juga membutuhkan biaya banyak. Yuk, kita telusuri dimana letak kesalahan sehingga penyakit berat ini ada banyak di masyarakat.

Kebanyakan dari kita, sejak kecil terbiasa sarapan dengan makanan berat. Lha gimana gak berat, wong abis bangun tidur perut kosong diisi segelas air teh manis, dilanjutkan nasi goreng + telor, nasi uduk + ayam goreng, bubur ayam, roti + selai, atau yang lebih parah Indomie rebus + kornet. See, semua itu mengandung glukosa yang sulit terurai oleh tubuh lho. 

Ah masa teh manis hangat juga berat? Air hangatnya sih bagus, tapi teh dan gulanya? Hmm, soal teh, saya tidak mau berpolemik di sini, tapi saya termasuk orang yang menghindari teh dan kopi untuk diminum. Dalam segelas teh manis hangat, ada sekitar 200-300 kalori. Wow, sebanyak itu in your very early morning? Berapa usaha yang harus dilakukan tubuh untuk mencerna glukosa sebanyak itu? Kasihan tubuhmu dong cyiin. Tapi kan tubuh butuh glukosa. Betul! Tapi tidak harus diberikan pagi-pagi kan? Glukosa memang sumber tenaga, tapi bukan hanya dia yang menjadi sumber tenaga. Ada sumber lain yang lebih ramah bagi lambung kosong karena lebih mudah diurai tubuh yaitu fruktosa pada buah.

Dalam paham FC, sarapan dengan buah menjadi wajib. Mengapa? Begini, dalam siklus alami tubuh, waktu sarapan bersamaan dengan fase pembuangan. Mulai jam 4 pagi sampai jam 12 siang adalah saat saluran pencernaan bekerja membuang sisa metabolisme serta tumpukan makanan pada usus besar. Pada fase ini, tubuh memerlukan alokasi energi lebih banyak. Kandungan serat tinggi pada buah akan sangat membantu. Maka dipilihlah buah sebagai sarapan karena mudah dicerna dan kandungan fruktosanya mudah terurai.

Sarapan buah tidak membuat kaget lambung yang kosong. Saya analogikan seperti kita berolahraga, kalau kita langsung ke bagian inti, bisa sakit semua tubuh kita. Tapi kalau kita mulai dari pemanasan -  latihan inti - pendinginan, maka tujuan olahraga akan tercapai. Tujuan jangka pendeknya badan menjadi segar, sedangkan tujuan jangka panjangnya tubuh menjadi sehat. Dengan sarapan buah, energi didapat, tapi konsentrasi tubuh melakukan pembuangan tidak terganggu. Sarapan buah ibarat pemanasan bagi saluran cerna. Tubuh pun tidak akan lemas meski hanya sarapan dengan buah saja, kesehatan jangka panjang insyaAllah lebih terjamin.

Saya jadi teringat salah satu hadist Rasulullah yang menganjurkan kita berbuka puasa dengan kurma yang manis. Di Timur Tengah kurma adalah buah segar, bukan manisan seperti yang banyak dijual di Indonesia. Pemahaman agama saya yang cetek dalam memandang hadist ini sederhananya: Rasulullah menganjurkan kita untuk mengisi lambung kosong dengan buah yang manis. Kita tentu meyakini semua sunnah Rasul selalu mengandung kebaikan bukan?

Sarapan buah bikin sakit perut dong! Itu hanya mitos belaka, Sodara-sodara. Tidak akan terjadi iritasi apapun pada pencernaan saat kita mengisi lambung kosong dengan buah. Asalkan buah yang dimakan adalah buah yang manis, berair dan matang di pohon.

Tapi kan makan buah itu bikin cepat lapar. Memang! Itu karena sifat fruktosa yang mudah terurai. Lalu kalo lapar? Ya makan lagi! Tapi makannya buah juga, jangan lontong sayur hihi. Makanlah buah secara repetitif sampai 30 menit menjelang makan siang. Penting memberi jarak makan buah dengan makanan yang mengandung karbohidrat atau protein, karena sifat fruktosa mudah yang mudah rusak bila bertemu karbohidrat/protein. Sayang kan kebaikan buah menjadi hilang kalau mereka dipaksa bertemu.

Sarapan buah mahal! Mahal mana sama biaya perawatan di Rumah Sakit? Tidak selalu sarapan buah itu mahal. Tergantung kita memilihnya buah apa. Kalau sarapan dengan buah import terus ya bisa tekor deh. Pilihlah buah lokal yang lagi musim. Selain harganya lebih murah, jarak tempuh yang lebih pendek daripada buah import menjamin kesegaran karena zat gizi pada buah belum banyak berubah atau rusak.

Sarapan buah memudahkan kita dalam mengatur kebutuhan buah minimal sehingga mencukupi kebutuhan tubuh setiap hari. Tidak ada salahnya memulai menginvestasikan kesehatan sejak dini, jangan menunggu tua dan sakit-sakitan dulu ;)