Tuesday, May 5, 2015

Belajar Dari Penjaga Gardu Tol



Tadi pagi sekitar jam 5.30, di gardu tol Dukuh I Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta, ada kejadian menarik yang menyentuh hati saya. Kejadian yang membuat saya memikirkannya sepanjang jalan menuju kantor. Tentang makna ikhlas dalam bekerja.

Ceritanya begini. Sebagai pelanggan tetap jalan tol, biasanya saya suka membayar menggunakan kartu e-toll di Gardu Tol Otomatis (GTO). Antrian di GTO ini jauh lebih pendek dibanding antrian di loket biasa. Kita hanya perlu men-tap kartu di mesin, lalu palang akan terbuka. Tidak ada proses membayar lalu mengambil uang kembalian. Tidak ada interaksi dengan manusia. Lumayan sekali waktu yang bisa dihemat. Tapi karena belum sempat mengisi ulang kartu, tadi pagi saya terpaksa membayar tunai.

Kebetulan yang menjaga gardu tempat saya membayar adalah seorang bapak, berusia sekitar 45-50 tahunan. Yang menarik dari bapak itu adalah ia menyapa saya dengan ucapan "Selamat pagi", disertai senyuman tulus. Sebenarnya hal ini biasa saja jika kita menemukannya di supermarket, hotel, bank atau tempat pelayanan publik lainnya. Tapi di gardu tol? pastilah sesuatu yang jarang kita alami. Maklum, arus kendaraan di jalan tol yang mencapai ratusan jumlahnya setiap hari. Pekerjaan yang membosankan karena hanya menerima uang, menyerahkan uang kembalian dan struk pembayaran.

Agak kaget, sambil menerima struk, saya membalas tersenyum dan mengucapkan "Selamat pagi juga, Pak. Selamat bertugas ya!". Masih sambil tersenyum saya melanjutkan perjalanan menerjang ramainya jalan tol Jagorawi. Terbayang repot dan lelahnya si bapak mengucapkan selamat pagi kepada setiap kendaraan yang melewati gardunya. Efek senyum si bapak pun menemani saya. Efek energi positif. Efek bekerja ikhlas, saya lebih suka menyebutnya begitu.

Repot dan lelah, mungkin itu yang akan kita rasakan saat kita melakukan sesuatu dengan tidak ikhlas. Kebalikannya, lelah dan repot berubah menjadi mudah dan ringan saat melakukannya dengan ikhlas. Seseorang yang memiliki pandangan bahwa bekerja merupakan rahmat dari Allah yang harus disyukuri tentu akan berbeda dalam menyikapi pekerjaannya. Ia tidak akan memperdulikan pandangan manusia, dalam hal ini pelanggan, rekan kerja ataupun atasannya. Ia hanya bekerja untuk mengharap ridho Allah. Ketika hanya mengharap ridho Tuhannya, maka seluruh tugas akan dikerjakan secara profesional. Saya menghitung setidaknya ada 2 kebahagiaan yang kita rasakan saat bekerja dengan ikhlas. Pertama, bahagia karena tidak mengharap imbalan apapun dari manusia. Kedua, bila mendapatkan imbalan berupa materi atau apresiasi, kita akan merasakannya sebagai rahmat dari Allah. Saat kebahagiaan ke dua tidak tergapai, maka masih ada satu kebahagiaan yang tersisa, yaitu kebahagiaan karena tidak mengharapkan imbalan manusia. Meyakini bahwa masih ada imbalan yang lebih manis menunggu waktunya tiba untuk dinikmati. Karenanya menjadi penting untuk memiliki etos kerja profesional ini.

Bekerja ikhlas tentu bukan perkara mudah. Butuh latihan terus menerus. Beretos kerja profesional, penuh semangat dan rasa tanggung jawab untuk melakukan tugas kita secara optimal dan sungguh-sungguh nampaknya menjadi salah satu kuncinya. Rasa iri terhadap rekan seprofesi karena mendapat hasil yang lebih besar dengan pekerjaan yang lebih sedikit, seharusnya tidak perlu ada. Kembalikan niat bekerja untuk beribadah yang nilainya tidak spontan akan dirasakan di dunia, tapi kelak di akhirat nanti.

Saya jadi teringat nasehat suami saat saya mengeluh tentang rekan kerja hanya menuntut honor untuk pekerjaan yang tidak dilakukannya, sementara yang bekerja mati-matian, mengerahkan segala daya upaya, hampir tidak pernah menanyakan soal honor. Suami saya mengatakan "Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Ikhlas saja. Semua yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita. Mungkin tidak saat ini, tapi nanti. Mungkin bukan dibalas dengan orang yang sama, tapi bisa dari siapa saja. Just do your best. If you are tired, then I'll always be your shoulder to lean on and we'll face it together". Kalimat itu yang sampai saat ini senantiasa menghibur dan menguatkan saya saat mulai lelah dengan tingkah rekan kerja yang tidak kooperatif.

Ikhlas, tidak ada aturan tertulisnya. Tidak ada jaminan akan sikap itu langsung berbuah kebaikan. Tapi begitu memberikan efek kepada diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Ayo, Dini, bekerja lebih ikhlas lagi!

0 comments:

Post a Comment