Tuesday, May 12, 2015

Cinta Platonik


Pernah merasa kagum terhadap orang yang belum Anda kenal sebelumnya? Menunggu-nunggu kehadirannya? Menantikan setiap karyanya? Memikirkannya di waktu senggang? Bahkan saat ia muncul, Anda langsung merasakan debar di dada, seolah ia begitu dekat dengan Anda? Di  saat yang bersamaan, Anda juga sadar bahwa Anda tak mungkin memilikinya. Anda sendiri bingung dengan situasi demikian. Apakah Anda sedang jatuh cinta atau apa? 

Kalau perasaan seperti itu dikategorikan jatuh cinta, maka saya pernah mengalaminya. Cinta tanpa hasrat seksual. Cinta yang mengagumi. Cinta yang memuja. Cinta persahabatan dari seorang fans kepada idolanya. 

Saat itu saya baru duduk di bangku kelas 2 SMP. Saya jatuh cinta pada penyanyi asal New Jersey, Amerika Serikat yang so handsome and very baby face, Tommy Page. Lagu-lagunya seperti Shoulder To Cry On, I’ll Be Your Everything, Whenever You Close Your Eyes, Places In My Heart, When I Dream Of You.... sangat akrab di telinga saya. Bukan cuma kaset atau fotonya yang saya koleksi, poster si Thomas Alden Page, nama aslinya, turut menghiasi dinding kamar saya. Yes, I was trully in love with him! Cinta seperti ini, yang kemudian saya ketahui dari sebuah artikel di majalah “GADIS”, majalah langganan saya waktu remaja, disebut cinta platonik atau cinta platonis. 

Saat teringat pernah mengalami cinta sejenis ini, saya suka senyum-senyum sendiri. Lucu mengenang  masa remaja. Kok bisa ya pake acara jatuh cinta model cinta platonik segala. Seandainya saya lebih dini mengenal ajaran Islam, pasti saya gak akan menjumpai hal semacam itu. Tentu saya tau kepada siapa saya harus jatuh cinta. But make it a rule of life: never to regret and never to look back! Regret is an appaling waste of energy, you can't build on it. It's only good for wallowing in, kata Katherine Manfield.

Dari Wikipedia, saya dapatkan pengertian cinta platonik yaitu sebuah istilah yang dipakai untuk menyebut sebuah relasi yang sangat afektif, tetapi dimana unsur-unsur rasa ketertarikan secara seksual tidak terdapat, terutama apabila hal ini justru malahan diperkirakan ada. Istilah ini diambil dari salah satu filsuf Yunani kuno, Plato, terutama dari karyanya Symposium, dimana tertulis bahwa cinta akan ide daripada kebaikan adalah dasar dari sebuah kebajikan dan kebenaran.

Sebenarnya, salahkah cinta platonik itu? Menurut saya tentu salah bila rasa cinta itu menghasilkan suatu sikap yang berlebihan, fanatik, tergila-gila setengah mati, rela menghabiskan waktu yang hanya 24 jam untuk mencari tahu tentang sang idola atau objek yang di-cinta platonik-inya.  Menggali informasi seperti apa latar belakangnya, bagaimana keluarganya, masa kecilnya, apa yang disukai dan apa yang dibencinya. Duh, buang-buang waktu banget! Padahal pasti ada sisi buruk dari sang idola yang kita belum tentu ketahui secara detail. Sisi yang kemungkinan besar tidak nampak ke permukaan. Bagaimana kalau ternyata sang idola adalah seorang pemabuk, pezina, sering tinggal kelas, atau yang lebih ekstrem jarang mandi haha...

Lebih fatal lagi, jika pengidolaan ini berakibat keinginan mengikuti sang idola meskipun dalam hal-hal yang merusak akidah dan keimanan. Naudzubillahimindzalik... Sebagai seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, sudah tentu kita wajib memilih idola yang baik yaitu nabi kita, Muhammad SAW yang diutus Allah untuk memuliakan akhlak manusia. 

Namun cinta platonik tidak sepenuhnya salah selama kita bisa menempatkannya secara proporsional. Mencoba untuk mengambil sisi positif dari sang idola. Perasaan kagum bisa menjadi motivasi untuk bertindak atau berkarya seperti sang idola. Lebih jauh, jalinan persahabatan bisa menjadi hal yang menyenangkan. Tidak mustahil bukan? 

Dari lagu-lagu Tommy Page minimal saya belajar bahasa asing. Itu doang sih hihi...




0 comments:

Post a Comment