Sunday, May 3, 2015

Having Fun In The Kitchen



Sebagaimana suka makan, maka sedari kecil saya suka sekali memasak. Memasak apa saja. Kue, lauk pauk, sayur mayur, cemilan atau minuman segar. Lho, minuman segar kan gak dimasak hehe. Ya, pokoknya saya senang berlama-lama berada di dapur untuk mengoprek sesuatu dari yang belum bisa dimakan, sampai siap dinikmati keluarga.

Sepertinya ini bakat turunan dari Bapak yang jago masak. Like father, like daughter. Dulu saat weekend atau libur sekolah, dengan berjalan kaki atau naik sepeda, kami sering berburu bahan belanjaan di pasar lalu dilanjutkan memasak bersama. Romantis yaa, romantisme antara ayah dan anak gadisnya ^^

Meskipun Bapak pintar memasak, tapi Mama lebih telaten mengajari. Selalu begitu deh, perempuan lebih telaten daripada laki-laki. Hidup perempuan! Hihi... Saya ingat, makanan "sungguhan" pertama yang saya masak adalah sayur sop. Saat itu saya masih di kelas 4 SD. Semua hal tentang sayur sop saya tanyakan. Mama mengajari mulai dari mencuci, memotong, membuat bumbu sampai sayuran mana saja yang sebaiknya dimasak lebih dulu. Mama selalu mengingatkan untuk mencuci sayuran sebelum dipotong. Tujuannya adalah agar kandungan vitamin dan enzim yang ada dalam sayuran tidak terbuang percuma lewat air cucian.

Berbagai trik memasak diajarkan Mama. Pernah dengar kalau pecahan beling atau kelereng bisa mempercepat proses pengempukan daging? Ternyata panas dalam air rebusan bisa lebih berpendar dan membuat daging lebih cepat empuk. Saya dapat trik itu dari Mama. Maklum zaman dulu belum ada panci presto. Ada juga trik yang lucu, memakai kacamata saat mengulek bawang merah supaya mata tidak perih. Kalau tidak ada kacamata bening bisa pakai kacamata hitam. Kan keren tuh ngulek pake Rayban hihi

Untuk bumbu, apa saja bahan dan berapa takarannya Mama beri tahu. Tak jarang saya catat dalam buku. Sedikit demi sedikit kumpulan resep saya bertambah banyak. Karena sering dibuka saat memasak, buku itu pun menjadi kucel dan kotor kena percikan minyak atau bumbu. Ya gak apa-apa deh, bukankah buku yang kucel itu menandakan sering dibaca, daripada hanya terpajang di rak buku.

Di kelas 6, saya sudah bisa membuat rendang, masakan khas Sumatera Barat. Bisa dibilang itu prestasi tertinggi saya saat itu hihi. Rasanya bangga sekali. Apalagi saat dipuji Bapak, jadi pingin masak terus deh. Sebenernya sih bisa jadi Bapak memuji bukan karena masakan saya yang enak, tapi hanya untuk menyenangkan anak gadisnya atau sekedar memotivasi agar anaknya terus bersemangat belajar masak. Terlepas dari itu semua, saya kemudian belajar akan besarnya arti pujian bagi anak. Sering-sering memuji anak konon melahirkan anak dengan rasa percaya diri tinggi. Iya itu sih sudah terbukti hehe

Kembali ke soal memasak. Bagi saya memasak itu obat stress. Situasi yang tidak mengenakan jiwa, emosi yang meninggi, kepala mau meledak, bisa teredam di dapur. Saat memasak, saya merasa seluruh jiwa raga ikut berperan. Seolah seluruh komponen jiwa ini hadir dengan konsentrasi penuh. Enjoy sekali. Kenikmatan memasak bahkan sudah saya rasakan sejak mulai mengiris sayuran dan mendengar suara "kress kress" . Terdengar merdu di telinga. Tak jarang saya menuliskan kecintaan memasak pada status di media sosial seperti: "menikmati suara irisan buncis hari ini" atau "sedang memasak, tidak bisa diganggu" haha... I'm really having fun while cooking in the kitchen.

Memasak itu panggilan jiwa. Tidak semua perempuan suka memasak. Teman saya malah ada yang benci aktivitas memasak. Saat kami berteman di SMA, pengetahuannya soal memasak nol sama sekali. Tapi untunglah, saat sudah menikah, dia rajin belajar memasak dan kerap memposting masakan hasil karyanya...Widiih, siapa sangka ya pernikahan mampu merubah seseorang 180 derajat.

Jadi teringat nasehat Mama "kebahagiaan suami itu salah satunya terletak di bagian perut ke bawah". Artinya seorang istri selain harus pandai melayani suami di tempat tidur, harus terampil pula memasak demi menjaga keharmonisan keluarga. Oke, kita bisa bilang "suami gue mah pengertian, gak perlu gue masakin juga dia tetap cinta, toh di luaran banyak makanan enak, tinggal beli, gak perlu repot memasak. Hellooooww... pernikahan itu bukan suatu hubungan singkat. Lama-lama pasti bete juga kalo keterampilan memasak istrinya gak bertambah, ini istri gue kapan bisa bikin makanan enak sih? Lagipula menyenangkan suami itu pahalanya besar kan? Masa gak mau berbakti pada suami melalui memasak ini? 

Kuncinya adalah terus berlatih dan jangan putus asa. Practise makes perfect. Ada banyak resep yang bisa dilihat di internet. Video tutorial memasak pun bertebaran di youtube. Yang penting ada kemauan, soal hasil itu nomor dua. Suami tentu akan memaklumi bila hasil masakan kita belum enak. Jangan ragu untuk melibatkanlah suami dalam proses belajar ini. Masak bersama malah bisa jadi momen seru lho. Pasti nanti banyak adegan romantisnya hihi

Dalam memasak kita juga belajar manajemen keuangan. Bagaimana kita bisa mengelola uang yang diberikan suami untuk membeli bahan-bahan masakan. Bagaimana supaya dengan budget yang minimalis kita bisa menghasilkan makanan ala restoran. Memang tidak mudah, tapi juga gak sulit-sulit amat kok.

Memasak bisa menjadi lahan mata pencaharian. Tentu saja! Waktu di kelas 2 SMA, saya sudah mendapatkan uang dari memasak. Waktu itu ada pesanan kue untuk acara OSIS, cake pisang keju. Karena ini adalah order pertama, saya membuatnya dengan sepenuh hati. Kebetulan ada yang lagi dikecengin, jadi kejunya saya banyakin deh hehe... Masih di bangku SMA, saya mendapat order membuat cake casablanca, semacam puding. Yang lucu, pembelinya adalah istri pejabat yang mau demo memasak di acara arisan, akhirnya cake itu dibeli bersama loyang dan resepnya. Berhubung teman Mama, ya saya kasih lah. Lagipula beliau membayar dengan harga tinggi sih^^

Berjualan makanan hasil olahan sendiri pun berlanjut saat saya kuliah. Tetapi bukan untuk keuntungan pribadi melainkan kegiatan sosial. Sebagai penghuni asrama mahasiswa putri, kami diwajibkan memasak minimal seminggu sekali. Di asrama ini pula saya sempat menjadi ketua Seksi Kewanitaan yang salah satu urusannya seputar masak memasak. Kami juga sering ikut berjualan makanan dengan penghuni asrama mahasiswa lain di Bandung.

Berjualan masakan berlanjut hingga saya hamil anak pertama. Saat itu saya tidak bekerja di kantor tapi hanya sebagai freelance translator. Bermula dari suami yang setiap hari membawa bekal makan siang ke kantor. Lama-lama temannya ada yang nitip, dari 5 orang menjadi 10 orang lalu sampai 20a-n orang yang memesan bekal makannya, semacam katering ya. Di kantor ini pula saya kebanjiran order kue kering saat lebaran. Selain katering dan kue, best seller saya yang lain adalah asinan sayur lho. Asinan sayur ini sering dipesan oleh teman-teman Mama dan kakak saya. Sempat terpikir untuk fokus mengelola usaha ini tapi gak jadi karena kemudian buah hati lahir dan saya tenggelam dalam kesibukan mengurus anak.

Itulah pengalaman saya di dunia masak memasak. Di bawah ini ada foto-foto hasil karya saya. Sayangnya tidak ada asinan sayur dan cake casablanca. Lain waktu semoga saya bisa share ya. Selamat mencicipi ^^











0 comments:

Post a Comment