Thursday, May 7, 2015

Riset Abal-Abal


Teman-teman pasti sudah pernah lihat gambar di atas sebelumnya bukan? Ya, gambar itu memang sedang ramai menghiasi berbagai timeline di media sosial. Sebagai pengguna smart phone kronis, terus terang saya merasa tersindir. Lebih tepatnya mengakui bahwa semua gambar itu mewakili keseharian saya. Ohya smart phone selanjutnya saya singkat HP aja ya, meski gak semua HP itu smart phone sih.  Gambar itu mengingatkan saya betapa selama ini sekitar 18 jam dari 24 jam waktu yang disediakan Allah, saya habiskan dengan memegang HP. Mau tidur pegang HP, bangun tidur pegang HP. Sepanjang hari? ya tentu bersama HP. Subhanallah...

Dari gambar yang ada di sini kemudian terpikirkan untuk melakukan riset kecil-kecilan tentang apa yang akan terjadi pada diri saya bila tidak ada HP. Sebenarnya istilah riset atau research terlalu berat ya? Tapi saya gak menemukan lagi istilah yang paling tepat. Ya beginilah kalau sudah tua baru belajar menulis hihi. Tujuan saya membuat riset ini cuma iseng aja, sekedar mengidentifikasi permasalahan penyakit kronis saya. Apakah saya akan sakaw? saya akan mati gaya? saya akan hilang kendali? atau saya akan biasa-biasa saja? Apakah efeknya hanya terjadi pada saya atau juga pada orang-orang di sekitar saya? Seperti apa efek posistif dan negatifnya? Apa hikmah yang bisa saya ambil dari riset ini? Tujuan jangka panjangnya saya ingin menghentikan ketergantungan saya pada HP. Acieeee, bisa lu, Din?

Maka dimulailah riset abal-abal ini. Kemarin, sehari sebelum saya membuat tulisan ini. Memberi waktu pada diri saya untuk bebas dari HP selama 24 jam penuh. Dimulai dari pukul 21.00 sampai 21.00 di hari kerja, weekday, bukan weekend. Kenapa waktu itu yang saya pilih? Karena sekitar pukul 21.00 adalah waktu "bebas" saya.  Me time istilah Jawanya. Di jam itu anak-anak saya sudah terlelap. Lalu kenapa di hari kerja? Supaya lebih mudah aja, karena jam kerja adalah jam sibuk saya. Setidaknya perhatian terhadap HP akan teralihkan oleh pekerjaan.

Saya juga memperdalam riset  dengan bertanya pada teman-teman di kantor, "Gimana kalo HP Bapak/ibu ketinggalan?" Saya sengaja bertanya dengan pertanyaan seperti itu, karena rasanya gak mungkin saya bertanya "Apakah yang akan terjadi pada Bapak/Ibu bila tidak memegang HP selama 24 jam?" Lha wong saya sendiri masih mencoba mancari tau apa yang akan terjadi bila saya tidak memegang HP selama 24 jam, masa saya bertanya begitu? hehe

Dari berbagai jawaban mereka, saya komentari sedikit ya. Here they are:
  • "Kalo HP ketinggalan, saya pasti balik lagi ke rumah, Din #ebuset
  • "Mending ketinggalan dompet daripada ketinggalan HP" #iya sih
  • "Biasa aja, Din, nanti juga sampe rumah langsung pegang lagi" #apanya yang dipegang bu xixi
  • "Kacau, Din. Semua informasi ada di HP #tah eta!
  • "Gak PD, Din #jadi PD nya karena HP pak? hihi 
  • "Terasa ada yang hilang, Din. Hampa" #eaaaa

Kesimpulan pertama saya dari jawaban mereka adalah ketergantungan pada HP sudah menjadi penyakit sosial masyarakat. Disadari atau tidak disadari. Tentang ini kita bahas lain kali ya. Sekarang ayo kembali ke riset!

Tibalah waktu mengeksekusi riset saya. Setelah 3 jam dari bangun tidur yaitu sekitar pukul 7 pagi, tanpa memegang HP, saya mulai merasa ada yang aneh. Gak enak banget. Mati gaya adalah kalimat yang pas. Untungnya saya terbiasa sarapan buah yang mengharuskan saya melakukan aktivitas mengupas, memotong dan mengunyah pelan-pelan selama 30 kali setiap potongan buah. Ngisi waktu banget haha...

Mulai pukul 8 sampai 12 siang keadaan masih terkendali. Kesibukan bekerja membuat saya tidak terlalu memikirkan HP dan dunia di dalamnya. Pukul 12 sampai 13 adalah waktu terberat. Di jam inilah waktu me time saya untuk rehat saat bekerja. Biasanya saya pasti mengecek HP untuk melihat notifikasi yang pasti bejibun itu hihi.  Alhamdulillah, rentang waktu  ini bisa saya lewati  dengan sukses. Sukses? iya sukses, karena saya bisa melewati "the healing process" ini dengan makan siang bersama teman-teman sambil ngobrol ketawa ketiwi tanpa harus bolak balik melirik ke HP dan disambi chatting di dunia maya. Dan saya menikmati dunia nyata ini! Inilah mengapa saya menyebutnya the healing process. Proses penyembuhan diri saya dari ketergantungan.

Pukul 13 siang sampai 16 sore terasa biasa saja karena ini juga waktu bekerja. Walau kepala mulai dipenuhi dengan pertanyaan apa kabar dengan orang-orang yang terbiasa berhubungan dengan saya via HP? Adakah pesan penting di HP saya? Bukan dari pimpinan di kantor karena mereka sudah saya beri tau bahwa saya tidak membawa HP, tapi dari kolega di luar kantor saya. Saya juga merindukan chatting bersama suami yang sedang terpisah antar benua. Sedikit menyesal karena saya tidak mengabarinya lebih dulu soal riset-risetan ini hikss...Tak kuat, akhirnya saya mengirim email kepadanya sekedar menanyakan "How's your day? HP kutinggal di rumah". Suami malah menggoda, "Gak bisa kirim foto selfie dirimu dong" haha dasaar...

Tiba di rumah sekitar pukul 18.00 saya masih bertahan tidak mau mengambil HP. Sabaaar, 3 jam lagi, Dinsky! Saya menyemangati diri sendiri. Alhamdulillah, setiap hari di jam ini (kecuali hari libur ya) saya sudah mulai terbiasa tidak ber-HP saat bersama anak-anak. Saya mendampingi si sulung belajar, berlatih soal-soal (Woiii ibu-ibu, UAS sebentar lagii!), menemani si bungsu membaca buku dan bermain dengan koleksi hotwheel nya. Tak lupa saya memberi hadiah pada diri sendiri, a glass of veggie juice! 

Pukul 21. 02. Oke, inilah waktunya saya memegang HP lagi setelah 24 jam! Apa yang terjadi? Pada HP saya tentu bisa dibayangkan banyaknya notifikasi. Ada 4 sms, 9 misscal, Line 63, Path 5 dan yang terbanyak tentu dari Whatsapp ada 264 notifikasi. Aje gile ini rekor saya! Tapi bukan itu poinnya. Yang terpenting justru apa yang terjadi pada diri saya? Ternyata saya tidak sakaw, meskipun mati gaya sih hehe. Saya tetap terkendali, bisa berhubungan dengan orang lain tanpa emosi. Bekerja tanpa masalah. Dan yang pasti konsentrasi saya yang biasanya terbagi untuk HP, jadi beralih ke pekerjaan dan anak-anak. Really optimizing my time!

Selanjutnya bagaimana? Apa yang akan saya lakukan setelah riset ini? Hmm, dari pengalaman 24 jam tanpa HP ini saya rasa saya akan kembali kepada kebiasaan saya yang sebelumnya tapi dengan sedikit koreksi. Bagaimanapun saya mengakui arti penting silaturahim dengan teman-teman di  dunia maya. Saya juga tidak mengingkari banyak pelajaran positif yang saya dapat dari silaturahim itu. Saya akan tetap menggunakan HP, tapi di jam-jam tertentu. Tidak boleh di jam kerja. Tidak boleh saat bersama keluarga atau teman. Harus di saat sedang sendiri!  Itu saja dulu target saya, gak mau muluk-muluk karena pasti akan berat. Kapan-kapan kepingin juga bikin riset all day without gadget, no HP, no TV,  no laptop, bisa gak ya?

Oke teman, segitu dulu ya soal riset kali ini.

Jadi udah nih risetnya? Riset kok begitu doang sih? Ya namanya juga Riset Abal-Abal seperti judul di atas HAHAHA... Enak banget ketawanya, padahal gak lucu :p

0 comments:

Post a Comment