Tuesday, June 30, 2015

DETOKSIFIKASI: PEACE OUT, TOXINS!




Judul                  : Detoksifikasi (Membuang Tumpukan Racun Tubuh Secara Holistik)
Pengarang          : Erikar Lebang
Penerbit              : Qanita (PT Mizan Pustaka)
Tahun terbit        : Mei 2015 (Cetakan I)
Tebal buku          : 129 halaman
Harga buku         : Rp. 75.000,-


“Program detoksifikasi memberikan sensasi kesehatan yang lebih prima, tubuh lebih kuat, serta level kualitas hidup yang meningkat”

Kalimat di atas merupakan gambaran umum tentang program detoksifikasi yang ada dalam buku karya pelaku pola makan Food Combining dan pengajar yoga, Erikar Lebang. Buku yang secara garis besar menjelaskan tentang upaya mengeluarkan tumpukan substansi yang telah menumpuk di dalam tubuh dan berubah sifat menjadi “racun” yang merugikan kesehatan. Penulis dengan cerdas menggandeng Andang W. Gunawan, N.D, ahli terapi nutrisi, praktisi, dan pencetus Food Combining Indonesia untuk mengantarkan pentingnya detoksifikasi, sekaligus menegaskan bahwa racun yang terakumulasi dalam tubuh bukan untuk ditakuti tapi untuk dibuang dengan cara yang benar.
Di bagian awal, penulis menyampaikan bahwa secara natural tubuh sebenarnya sudah memiliki kemampuan melakukan detoksifikasi. Namun efektivitas kemampuan alami itu berangsur menghilang dari kehidupan manusia karena gaya hidup di era modern yang merubah dan menjauh dari bentuk kehidupan alami. Pola makan yang memburuk dari waktu ke waktu, jenis makanan, cara makan, hingga pengaturan waktu makan yang menjauh dari kodrat alamiah menimbulkan tumpukan sampah dalam tubuh pada akhirnya mengganggu fungsi kesehatan. Di bagian ini pula, penulis memberikan kuesioner berisi pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur siapa saja yang memerlukan program detoksifikasi.
Dijelaskan logika sederhana yang melatarbelakangi tindakan detoksifikasi bagi kesehatan manusia. Diawali dengan teori seorang ahli Cytologist (cabang keilmuan yang mempelajari sel) terkemuka di dunia, Christian Du Duve yang menemukan sebuah substansi bernama lysosome (lisosom) yang berfungsi mendaur ulang mitokondria yang tidak berfungsi baik akibat tumpukan sampah dalam sel. Penulis juga menjabarkan temuan Dr. Edward Howell (1898-1988), seorang ahli kesehatan pendiri National Enzyme Company di Amerika Serikat yang mengatakan bahwa menjadi gaya hidup sehari-hari, disiplin melakukan pola makan sehat dengan rutin mengonsumsi makanan kaya enzim seperti buah serta sayuran segar, dan secara periodik melakukan program detoksifikasi, adalah cara terbaik untuk memelihara kesehatan demi mendapatkan kualitas hidup maksimal. Tak lupa, teori dari seorang ahli gastroenterologi terkemuka di dunia, pengarang buku best seller The Miracle of Enzyme, Dr. Hiromi Sinya yang menyarankan puasa 13-15 jam bagi pasiennya kurang lebih 2-3 hari dalam seminggu. Dimulai dari waktu berakhir mereka makan dan diakhiri keesokan harinya. Ia menyarankan makanan yang diasup selama awal dan akhir puasa berupa menu yang terdiri dari air putih berkualitas, buah dan sayuran segar, biji-bijian, serta amat sangat meminimalkan konsumsi protein hewani.
Dikenalkan pula bermacam program detoksifikasi seperti program 30 hari, program 9 hari dan program 3 hari berikut persiapan, jadwal harian, bahan detoksifikasi dan contoh menu. Pembaca hanya tinggal mencontoh program mana yang paling sesuai untuk dirinya, namun disarankan untuk menjalankan program detoksifikasi secara bertingkat bagi pemula. 
Di bagian akhir, penulis menjelaskan pendukung program detoksifikasi seperti yoga, terapi air, dan pijat perut.  Penjelasan tersebut disertai foto-foto sebagai ilustrasi sehingga memudahkan pembaca untuk membayangkan gerakan dan langkah-langkahnya. Dipaparkan pula ragam hal penting yang harus dipahami apabila ingin menjalani program detoksifikasi ini dengan benar, lebih baik, serta efektif untuk mendapatkan kesehatan tubuh, yaitu air minum berkualitas, buah yang memiliki persyaratan minimal (berserat, berair dan manis matang sempurna), sayuran segar, suplemen sebagai pelengkap,  dan enema kopi.
Tak dipungkiri buku ini memiliki kekurangan. Penjelasan yoga sebagai pendukung program detoksifikasi disampaikan terlalu detail, sehingga memberi kesan buku ini merupakan gabungan dari buku tentang detoksifikasi dan buku tentang yoga untuk relaksasi. Beberapa foto yang ditampilkan dengan ukuran terlalu besar bahkan sampai memenuhi satu halaman, membuat ilustrasi menjadi kurang menarik. Selain itu, penggunaan kertas tipis berjenis Samson Kraft membuat pembaca harus berhati-hati bila ingin menulis atau memberi tanda pada buku ini, oleh sebab itu tidak dianjurkan menggunakan pulpen dengan tinta cair karena dapat merusak kertas. Pemakaian kertas dengan kualitas seperti ini juga menjadi alat ukur buku ini dijual dengan harga relatif mahal. 
Namun secara keseluruhan, buku ini telah membahas secara lengkap cara melakukan detoksifikasi yang aman dan menyenangkan, termasuk efek samping berikut solusinya. Menggunakan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami, dilengkapi berbagai informasi pendukung, berbagai tips and tricks disertai visualnya, bisa dikatakan buku ini dikemas menarik. Penulisan kalimat yang ditulis dengan fonts lebih besar, lebih tebal dan berwarna yang berfungsi sebagai penekanan poin penting dalam suatu paragraf, memudahkan pembaca menangkap dengan cepat maksud yang akan disampaikan penulis. Desain sampul yang sederhana namun elegan menambah daya tarik buku yang layak Anda baca untuk mencapai kesehatan tubuh yang prima. Recommended book!  

Saturday, June 13, 2015

Salad Buah



Resep salad buah ini saya adopsi dari buku berjudul Detoksifikasi karya Erikar Lebang. Salad ini adalah upaya mencari variasi dalam mengkonsumsi buah saat sarapan. Upaya ini lumayan meminimalisir rasa bosan yang melanda saat menyantap buah tanpa olahan apapun.  Campuran beberapa jenis buah yang menyegarkan, menyehatkan dan mampu memberikan warna tersendiri di indera pengecap. 

Siraman dressing buatan sendiri, selain menambah nilai lebih salad buah juga berfungsi untuk menghindari efek perusakan oksigen (oksidasi). Dressing pada salad ini tidak menggunakan mayonaise karena saya menghindari kandungan proteinnya. Dressing menggunakan bahan inti jeruk lemon dan minyak zaitun. Rasa asam yang berasal dari jeruk lemon dapat membuat aktivitas enzim menjadi tidak aktif sehingga akan menghentikan reaksi oksidasi. Sementara kandungan nutrisi pada minyak zaitun bermanfaat bagi kelembaban alami kulit, mendegah penuaan dini, dan menghilangkan noda jerawat.

Untuk salad kali ini saya menggunakan sebagian buah impor. Kebetulan bahan itu yang ada di kulkas. Tapi buah apa saja, asal manis, berair dan matang di pohon, cocok untuk salad buah. Yuk ditengok seperti apa resepnya.


Naga putih, sweet pear, nectarine yellow, peach yellow, lemon, daun mint

Bahan:
1/2 buah naga putih
1/2 sweet pear
1/2 nectarine yellow
1/2 peach yellow

Bahan dressing:
1 sdm minyak zaitun (extra virgin olive oil)
1/2 buah lemon
1/2 sdt parutan kulit lemon
1 sdt madu murni
2-3 lembar daun mint dirajang

Cara membuat:
1. Campur semua bahan pembuat dressing, aduk hingga menjadi larutan pekat
2. Campur potongan buah dalam mangkok
3. Tuang merata dressing.
4. Taburkan rajangan daunt mint

Enjoy your fruit salad ^^

Monday, June 1, 2015

Peranan Arsiparis Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN



Saat ini banyak kalangan yang masih menganggap profesi arsiparis adalah pekerjaan yang berkecimpung dalam suatu tumpukan kertas, di ruangan berdebu, dan memberi kesan profesi ini terkait dengan suatu masa depan yang tidak terlalu cerah. Anggapan ini harus segera dikesampingan di era masyarakat ekonomi ASEAN dan era digital saat ini mengingat peran arsip sebagai tulang punggung organisasi. Demikian disampaikan Wakil Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ali Zakaria saat membuka acara Seminar Dan Lokakarya Nasional Kompetensi Profesi Record Specialist Menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean Dalam Era Digital diselenggarakan pada tanggal 28 dan 29 Mei 2015 di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat yang dihadiri sekitar 180 orang peserta dari berbagai instansi pendidikan, pemerintah dan non pemerintah.

Lebih lanjut Ali Zakaria menekankan peranan arsiparis dalam rangka menciptakan organisasi yang bersih, handal dan akuntabel menjadi faktor penentu dalam rangka memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik dalam upaya meningkatkan daya saing organisasi. Hal ini sejalan dengan cita-cita Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan bahwa segala kebijakan dalam suatu institusi membutuhkan dukungan kebijakan dan dukungan sumber daya manusia yang mumpuni sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Khususnya dalam pengembangan  sumber daya manusia di bidang kearsipan, arsiparis harus memiliki kompetensi profesional. Seminar dan lokakarya nasional ini diharapkan menjadi wadah komunikasi dan diskusi diantara para stake holder terutama yang berada dalam sektor non pemerintah sehingga dihasilkan rumusan kompetensi yang dibutuhkan oleh seorang record specialist/arsiparis.

Menteri Ketenagakerjaan RI diwakili oleh Direktur Bina Lembaga dan Sarana Pelatihan Kerja, Drs. Aris Wahyudi, M. Si sebagai keynote speaker menyampaikan kebijakan Pemerintah RI berkaitan dengan kompetensi sertifikasi profesi dalam menyambut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015.  Bahwa untuk menegaskan kejelasan eksistensi komunitas record specialist/arsiparis saat  MEA berlaku, maka sesuai UU Nomor 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan, pengakuan akan profesi arsiparis harus dikuatkan dengan standar kompetensi nasional bidang kearsipan. Aris Wahyudi menyoroti Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis, lingkupnya hanya berlaku bagi arsiparis di instansi pemerintah. Oleh karena itu perlu dirumuskan batas profesi record specialist/arsiparis yang ada di sektor non pemerintah. Menjadi tanggung jawab Arsip Nasional RI sebagai instansi pembina untuk menyusun standar kompetensi arsiparis yang tidak hanya berbasis pendidikan formal namun lebih menitik beratkan pada penguasaan pekerjaan.


Menurut keynote speaker kedua, Kepala Arsip Nasional RI, Drs. Mustari Irawan, MPA,  adanya MEA  dalam era digital memberi peluang bagi SDM Kearsipan di Indonesia untuk lebih berkembang dan lebih profesional tidak hanya di negeri sendiri tetapi juga di ASEAN. Keterbukaan informasi merupakan necessary condition yang memperkuat ketahanan informasi, oleh karenanya SDM Kearsipan memainkan peran penting untuk menciptakan/mewujudkan posisi Indonesia dalam proses globalisasi informasi yang sesuai dengan kaidah-kaidah kearsipan dan peraturan perundang-undangan.

Sesi selanjutnya disampaikan oleh President Director of Crown Records Management, Martin Cole yang menyampaikan materi tentang Risk Management. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Sarah Ziebell, Information Resources Officer, US Embassy Jakarta menyampaikan tentang Core Competencies For Archives and Records Management Professionals. Pada sesi ini saya menanyakan tentang upaya membangun kesadaran di top level management tentang pentingnya urusan kearsipan dalam suatu organisasi. Menarik, karena menurut Cole, minimnya kesadaran pimpinan di top level menegement terhadap masalah kearsipan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di manca negara. Arsip baru dipandang penting manakala seseorang terjerat kasus hukum. Dibutuhkan bukti berupa arsip untuk terbebas dari jeratan hukum. Tugas arsiparislah untuk “membangunkan” kesadaran mereka. Kepada Sarah Ziebell yang pernah bertugas sebagai Music and Film Archivist, saya bertanya tentang bagaimana cara mengelola social media records management. Saya tertarik menanyakan ini karena pengelolaan social media records belum pernah dilakukan oleh arsiparis di BPAD Prov. DKI Jakarta.


Narasumber selanjutnya adalah Hani Qonitah,  MIMS, perwakilan dari Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi (ISIPII) yang menyampaikan agenda mengenai apakah standar kompetensi itu, mengapa standar kompetensi penting, seperti apa standar kompetensi profesi manajemen rekod dan arsip, terakhir bagaimana melakukan kajian mandiri terhadap standar kompetensi tersebut. 

Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Ir. Sumarna F. Abdurahman, M. Sc menyampaikan tentang sertifikasi kompetensi menghadapi MEA 2015. Dilanjutkan dengan pemaparan oleh Abdul Rahman Saleh dari Badan Standardisasi Nasional. Ada yang menarik dari sesi tanya jawab oleh peserta, Prof. Sulistyo Basuki, tokoh Perpustakaan Indonesia yang menanyakan adanya ketidaksinkronan antara BNSP yang mengurusi ijin yang mengeluarkan sertifikasi kompetensi personal dengan Komite Akreditasi Nasional (KAN) yang mengeluarkan sertifikasi produk. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2014 diatur tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian berlaku terhadap barang, jasa, sistem, proses, atau personal. Sementara BNSP lah yang selama ini mengeluarkan sertifikasi personal. Berawal dari forum inilah harus ada kelanjutan untuk me-review bersama antara BNSP dengan BSN/KAN sehingga masalah sertifikasi kompetensi personal akan berjalan selaras.


Pada hari ke dua, peserta seminar dan lokakarya dibagi 2 kelas, Workshop Digital Curation dan Focus Group Discussion (FGD) “Kompetensi dan Sertifikasi Profesi Record Specialist”. Sayangnya, hasil FGD tidak dapat disampaikan di akhir acara dan panitia berjanji akan mengunggahnya di website mereka. Workshop Digital Curation disampaikan oleh Arie Nugraha, MTI menbahas tentang apa itu digital curation, kompleksitas digital curation, cakupan kegiatan digital curation, kompetensi digital curation dan langkah digital curation.

Demikian yang dapat saya sampaikan dari seminar dan lokakarya Kompetensi Profesi Record Specialist Menyongsong Masyarakat ASEAN Dalam Era Digital. Pembahasan materi lebih detail akan saya bahas di artikel berbeda, insya Allah. Semoga artikel ini bermanfaat bagi insan kearsipan!