Monday, June 1, 2015

Peranan Arsiparis Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN



Saat ini banyak kalangan yang masih menganggap profesi arsiparis adalah pekerjaan yang berkecimpung dalam suatu tumpukan kertas, di ruangan berdebu, dan memberi kesan profesi ini terkait dengan suatu masa depan yang tidak terlalu cerah. Anggapan ini harus segera dikesampingan di era masyarakat ekonomi ASEAN dan era digital saat ini mengingat peran arsip sebagai tulang punggung organisasi. Demikian disampaikan Wakil Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ali Zakaria saat membuka acara Seminar Dan Lokakarya Nasional Kompetensi Profesi Record Specialist Menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean Dalam Era Digital diselenggarakan pada tanggal 28 dan 29 Mei 2015 di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat yang dihadiri sekitar 180 orang peserta dari berbagai instansi pendidikan, pemerintah dan non pemerintah.

Lebih lanjut Ali Zakaria menekankan peranan arsiparis dalam rangka menciptakan organisasi yang bersih, handal dan akuntabel menjadi faktor penentu dalam rangka memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik dalam upaya meningkatkan daya saing organisasi. Hal ini sejalan dengan cita-cita Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan bahwa segala kebijakan dalam suatu institusi membutuhkan dukungan kebijakan dan dukungan sumber daya manusia yang mumpuni sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Khususnya dalam pengembangan  sumber daya manusia di bidang kearsipan, arsiparis harus memiliki kompetensi profesional. Seminar dan lokakarya nasional ini diharapkan menjadi wadah komunikasi dan diskusi diantara para stake holder terutama yang berada dalam sektor non pemerintah sehingga dihasilkan rumusan kompetensi yang dibutuhkan oleh seorang record specialist/arsiparis.

Menteri Ketenagakerjaan RI diwakili oleh Direktur Bina Lembaga dan Sarana Pelatihan Kerja, Drs. Aris Wahyudi, M. Si sebagai keynote speaker menyampaikan kebijakan Pemerintah RI berkaitan dengan kompetensi sertifikasi profesi dalam menyambut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015.  Bahwa untuk menegaskan kejelasan eksistensi komunitas record specialist/arsiparis saat  MEA berlaku, maka sesuai UU Nomor 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan, pengakuan akan profesi arsiparis harus dikuatkan dengan standar kompetensi nasional bidang kearsipan. Aris Wahyudi menyoroti Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis, lingkupnya hanya berlaku bagi arsiparis di instansi pemerintah. Oleh karena itu perlu dirumuskan batas profesi record specialist/arsiparis yang ada di sektor non pemerintah. Menjadi tanggung jawab Arsip Nasional RI sebagai instansi pembina untuk menyusun standar kompetensi arsiparis yang tidak hanya berbasis pendidikan formal namun lebih menitik beratkan pada penguasaan pekerjaan.


Menurut keynote speaker kedua, Kepala Arsip Nasional RI, Drs. Mustari Irawan, MPA,  adanya MEA  dalam era digital memberi peluang bagi SDM Kearsipan di Indonesia untuk lebih berkembang dan lebih profesional tidak hanya di negeri sendiri tetapi juga di ASEAN. Keterbukaan informasi merupakan necessary condition yang memperkuat ketahanan informasi, oleh karenanya SDM Kearsipan memainkan peran penting untuk menciptakan/mewujudkan posisi Indonesia dalam proses globalisasi informasi yang sesuai dengan kaidah-kaidah kearsipan dan peraturan perundang-undangan.

Sesi selanjutnya disampaikan oleh President Director of Crown Records Management, Martin Cole yang menyampaikan materi tentang Risk Management. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Sarah Ziebell, Information Resources Officer, US Embassy Jakarta menyampaikan tentang Core Competencies For Archives and Records Management Professionals. Pada sesi ini saya menanyakan tentang upaya membangun kesadaran di top level management tentang pentingnya urusan kearsipan dalam suatu organisasi. Menarik, karena menurut Cole, minimnya kesadaran pimpinan di top level menegement terhadap masalah kearsipan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di manca negara. Arsip baru dipandang penting manakala seseorang terjerat kasus hukum. Dibutuhkan bukti berupa arsip untuk terbebas dari jeratan hukum. Tugas arsiparislah untuk “membangunkan” kesadaran mereka. Kepada Sarah Ziebell yang pernah bertugas sebagai Music and Film Archivist, saya bertanya tentang bagaimana cara mengelola social media records management. Saya tertarik menanyakan ini karena pengelolaan social media records belum pernah dilakukan oleh arsiparis di BPAD Prov. DKI Jakarta.


Narasumber selanjutnya adalah Hani Qonitah,  MIMS, perwakilan dari Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi (ISIPII) yang menyampaikan agenda mengenai apakah standar kompetensi itu, mengapa standar kompetensi penting, seperti apa standar kompetensi profesi manajemen rekod dan arsip, terakhir bagaimana melakukan kajian mandiri terhadap standar kompetensi tersebut. 

Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Ir. Sumarna F. Abdurahman, M. Sc menyampaikan tentang sertifikasi kompetensi menghadapi MEA 2015. Dilanjutkan dengan pemaparan oleh Abdul Rahman Saleh dari Badan Standardisasi Nasional. Ada yang menarik dari sesi tanya jawab oleh peserta, Prof. Sulistyo Basuki, tokoh Perpustakaan Indonesia yang menanyakan adanya ketidaksinkronan antara BNSP yang mengurusi ijin yang mengeluarkan sertifikasi kompetensi personal dengan Komite Akreditasi Nasional (KAN) yang mengeluarkan sertifikasi produk. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2014 diatur tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian berlaku terhadap barang, jasa, sistem, proses, atau personal. Sementara BNSP lah yang selama ini mengeluarkan sertifikasi personal. Berawal dari forum inilah harus ada kelanjutan untuk me-review bersama antara BNSP dengan BSN/KAN sehingga masalah sertifikasi kompetensi personal akan berjalan selaras.


Pada hari ke dua, peserta seminar dan lokakarya dibagi 2 kelas, Workshop Digital Curation dan Focus Group Discussion (FGD) “Kompetensi dan Sertifikasi Profesi Record Specialist”. Sayangnya, hasil FGD tidak dapat disampaikan di akhir acara dan panitia berjanji akan mengunggahnya di website mereka. Workshop Digital Curation disampaikan oleh Arie Nugraha, MTI menbahas tentang apa itu digital curation, kompleksitas digital curation, cakupan kegiatan digital curation, kompetensi digital curation dan langkah digital curation.

Demikian yang dapat saya sampaikan dari seminar dan lokakarya Kompetensi Profesi Record Specialist Menyongsong Masyarakat ASEAN Dalam Era Digital. Pembahasan materi lebih detail akan saya bahas di artikel berbeda, insya Allah. Semoga artikel ini bermanfaat bagi insan kearsipan!

0 comments:

Post a Comment