Wednesday, October 28, 2015

Berburu Winter Clothes Murah Meriah



Karena sesuatu dan lain hal, rencana kami berangkat ke negeri viking, Norwegia, terpaksa tertunda 4 bulan. Seharusnya pergi bulan Juni, jadi mundur ke bulan Oktober. Padahal Juni adalah musim semi, cuaca sedang bagus-bagusnya. Bunga bermekaran, suhu tidak terlalu dingin. Adaptasi cuaca tentu akan lebih mudah buat kami.

Tapi ya sudahlah. Kami baru bisa berangkat 7 oktober 2015. Sebelumnya suami sudah menjemput duluan ke Indonesia. Bukan karena saya manja minta dijemput, atau saya takut pergi sendiri ke luar negeri bersama anak-anak. Tapi suami memang ingin pulang, bertemu keluarga, orang tua, dan teman-teman. Selain ada urusan di kantor di Jakarta juga ada keinginan mengajak anak-anak berlibur ke pantai di Indonesia. Haha kambing hitam yang manis :p

Oktober artinya sudah mulai masuk musim gugur. Suhu berkisar 4 - 12°C. Cukup dingin untuk ukuran orang tropis. Maka mau tidak mau kami harus menyiapkan segala perlengkapan musim dingin. Kenapa gak beli disana aja sih? Ada teman yang bertanya begitu. Waduh, harga di sana bisa 3-4 kali harga di sini untuk kualitas barang yang sama. Harga long jhon misalnya, di Indonesia kita bisa mendapat harga Rp. 110.000, sementara di Norwegia dipatok harga Kr 250 (setara Rp.425.000). Sayang banget kan?

Sebelum berbelanja pada kesempatan kali ini, saya sudah mencicil beberapa coat, sweater dan sepatu buat saya dan anak-anak. Karena ini adalah kali ke dua berburu winter clothes, maka tidak terlalu sulit lagi. Kami sudah tau toko mana yang mau dituju.

Dulu, sekitar bulan November/Desember 2014 sebelum suami berangkat duluan, persiapannya lebih heboh. Ya maklum lah ya, namanya juga pergi ke Eropa pertama kali hehe... Untungnya informasi mencari winter clothes sudah banyak di internet. Berbekal alamat hasil googling, kami langsung menuju Pusat Pertokoan Pasar Pagi Mangga Dua. Tujuan kami adalah toko Djohan.



Toko yang beralamat di Lt. II Blok B No. 048 Pasar Pagi Mangga Dua ini tidak terlalu besar sebenarnya, tapi perlengkapan musim dingin yang dijualnya lengkap. Mulai dari long jhon (thermal under wear) sampai sepatu boot anti salju dijual di sana.

Perlengkapan musim dingin apa saja sih yang harus disiapkan? Yuk lihat listnya:

1. Long jhon (thermal under wear) adalah pakaian dalaman yang hangat, ketat, mengikuti bentuk tubuh. Terbuat dari campuran cotton dan nylon yang halus dan elastis. Harganya Rp. 110.000 per buah. Ada juga long jhon yang terbuat dari campuran wool. Tapi harganya mahal sekali yaitu Rp. 650.000. Wow!



2. Jaket bulu angsa. Jaket sangat hangat yang mampu melawan suhu dingin yang ekstrim. Modelnya bagus-bagus. Apalagi yang merk Zara. Harga paling murah Rp.600.000 sampai jutaan rupiah. Kualitasnya jangan ditanya. Bahannya bagus dan jahitannya rapih sekali. Ada rupa, ada harga lah yaa...




3. Kaos kaki wool. Kaos kaki tebal 100% terbuat dari wool. Harga Rp.50.000 per pasang.

4. Sarung tangan. Ada yang dari kulit, wool atau kaos katun. Ada juga yang khusus untuk touch screen sehingga tetap bisa browsing via HP dengan sarung tangan. Harga Rp. 75.000 - Rp. 125.000,- per pasang.

5. Ear muff (penutup kuping). Kali ini saya gak beli karena kata suami gak terlalu kepake. Ya sudah kalaupun nanti butuh, beli di sana aja deh.


6. Topi. Ini wajib beli. Kepala juga butuh dihangatkan supaya tetap bisa berpikir jernih wkwkwk... Harga Rp. 50.000 - Rp. 125.000,-

7. Syal. Buat menghangatkan leher. Bikin tampilan modis juga. Saya beli beberapa. Harga Rp. 50.000 - Rp. 125.000,-

8. Celana tebal. Celana ini hangat sekali. Gak perlu pake long jhon lagi sudah hangat. Harganya lumayan mahal yaitu Rp. 375.000,- tapi ya lagi-lagi daripada beli disana kan? Hehe

9. Vaseline dan lip gloss. Ini penting buat menjaga kelembaban kulit dan bibir supaya tidak kering dan pecah-pecah. Vaseline ini agak khusus untuk cuaca dingin ekstrem. Harganya Rp. 50.000,- per botol



Selesai berbelanja di toko Djohan, masih di dalam Pasar Pagi lurus menuju ke ITC Mangga Dua, kami menemukan beberapa toko winter clothes dengan harga bersaing. Salah satunya adalah toko Surika Garment. Tokonya lebih besar, model jaketnya lebih banyak, meskipun harganya bikin pusing kepala hehe.. Ohya untuk item no 7- 9 saya beli di toko ini. Alamatnya di Lantai 3 Blok C-47 Pasar Pagi Mangga Dua.



Di pasar pagi ini ternyata banyak toko winter clothes. Jadi kalau mau berburu perlengkapan musim dingin yang murah meriah tak perlu ke mall yang harganya selangit. Cukup ke pasar pagi aja. Tapi sesuai dengan namanya, lebih baik ke sini agak pagi di bawah jam 12 siang. Karena berdasarkan pengalaman saya, terkadang harganya lebih murah daripada kita membeli agak siang. Dicoba saja ya :)

Saturday, October 17, 2015

Maduku Asli Atau Palsu?



Sebagaimana Muslim yang lain, saya sangat mempercayai khasiat madu. Sangat menyakini bahwa madu sangat bermanfaat bagi kesehatan. Selain menjaga stamina tubuh agar tidak mudah terserang penyakit, madu juga bisa digunakan mengobati penyakit ringan seperti luka bakar atau alergi pada kulit.

Bagi para wanita tentu sudah tahu khasiat madu untuk kecantikan kulit. Waktu remaja saya sering menggunakan madu untuk maskeran. Rasanya kulit lebih segar dan bersih. Selain itu saya juga sering menggunakan madu untuk melembabkan bibir yang kering.

Sebelum menikah, saya tak pernah ambil pusing tentang persediaan madu di rumah. Semua sudah disiapkan ibu saya. Saya hanya tinggal pakai saja. Tentu saya percaya madu yang dipilihkan ibu adalah madu yang baik dan asli. Namun setelah menikah dan harus menyediakan sendiri madu di rumah, saya kebingungan. Seperti apa madu asli dan madu palsu. Bagaimana membedakannya?

Dari berbagai sumber di internet akhirya saya temukan caranya dan sudah saya praktekan yaitu sebagai berikut:

 1. Membakar madu. Letakkan madu di sendok lalu bakar di atas lilin.Madu yang asli akan mengeluarkan busa saat dibakar. Kurang lebih setahun yang lalu saya melakukan uji ini dan teryata madu saya palsu. Di sini uji bakar madu ini tidak bisa saya lakukan karena di rumah gak nemu korek api hehe



2. Teteskan madu dalam air putih. Madu asli tidak akan bercampur saat diteteskan ke dalam air putih. Dia akan tetap berbentuk butiran dan akan jatuh ke dasar gelas, tidak mengambang.




3. Masukkan madu ke dalam kulkas. Madu asli tidak akan beku saat dimasukkan lemari pendingin.



4. Uji coba dengan kertas. Basahi kertas dengan madu dan coba merobek kertas Madu asli tidak akan menembus kertas dan kertas akan sulit disobek. Sebaliknya madu palsu akan mudah menyerap kertas sehingga kertas mudah disobek.




Karena saat ini saya sedang tinggal di Norwegia, saya pun penasaran seperti apa rasa madunya. Ternyata rasa madunya sama saja dengan di Indonesia. Kirain madu yang dihasilkan oleh lebah "bule" akan beda rasanya hehe...

Dua-duanya jenis madu kuning. Namun tingkat warnanya saja yang berbeda. Yang satu warnanya lebih gelap. Alhamdulillah setelah melalui 3 uji coba di atas, madu yang ada di rumah sekarang adalah madu asli.

Yuk deh, makan salad buah atau sayuran dicampur madu, pasti tambah yummy rasanya ;)

Wednesday, October 14, 2015

Antara Jakarta dan Trondheim

7 Oktober 2015. Hari ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu sejak 13 tahun yang lalu. Hari dimana kami sekeluarga akan melakukan perjalanan panjang untuk menetap sementara di benua berbeda. Hari yang dulu hanya sekedar obrolan ngalor ngidul di awal pernikahan saya dan suami, akhirnya akan menjadi nyata. Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa, namun bagi kami itu luar biasa. Menjalani kehidupan di negara 4 musim, seperti apa rasanya ya?

Bersama keluarga tercinta yang mengantar di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Indonesia
Rencananya kami akan tinggal di Norwegia selama 3 tahun. Negara dimana suami saya tengah menempuh pendidikan S3 nya di kota Trondheim, kota pelajar seperti Jogjakarta-nya di Indonesia. Kota yang "ndeso" bila dibanding modern-nya ibukota negara ini yaitu Oslo. Meskipun ndeso, tapi saya suka suasana kota yang damai dan tenang ini. Maklumlah, di tanah air sehari-hari saya bergelut dengan kemacetan.

Ke Norwegia, kami akan menempuh perjalanan 30 jam. Wow selama itu? Ya maklumlah Norwegia terletak di benua Eropa bagia timur , dekat kutub utara. Perjalanan 30 jam itu sudah termasuk transit 2 jam di Singapura dan 8 jam di Amsterdam, Belanda.

Alhamdulillah sepanjang perjalanan cuaca sangat baik. Penerbangan berjalan mulus, pesawat tidak mengalami gangguan apapun. Kami sekeluarga tidur nyenyak. Perjalanan panjang yang semula saya kira akan berat bagi kami ternyata biasa-biasa saja. Tak heran saat saya mengajak suami untuk menyiapkan beberapa permainan sebelum kami berangkat, suami saya tidak terlalu merespon. Ya karena dia sudah tau perjalanan tidak seboring yang saya kira.

Apalagi, perjalanan panjang ke luar negeri biasanya malam, jadi waktu yang banyak terpakai ya untuk tidur hehe. Anak-anak saya yang berumur 11 dan 6 tahun asyik menonton film dan bermain game dari layar TV yang ada di depan bangku masing-masing. Asyik sekali. Tidak ada raut muka bosan apalagi kesal, yang ada ceria terus. Tentu saja, ini kan perjalanan yang sudah lama dinantikan.


Di pesawat Garuda Airline. Exciting dengan game dan filmnya hihi

Beberapa buku dan mainan yang sudah saya siapkan tidak tersentuh sama sekali. Saya sendiri selama perjalanan dari Singapore menuju Amsterdam menonton 2 film saja. Dua-duanya film Indonesia. Lagi ingin menonton film yang santai soalnya hehe... Selanjutnya saya banyak mendengarkan musik sambil membuat catatan-catatan kecil.

Kami tiba untuk transit di bandara Schiphol Amsterdam pukul 08.45 waktu setempat. Saat itu cuaca dikabarkan pilot dalam keadaan berawan dengan suhu 13°C. Ada rasa haru dan bangga saat mendarat diperdengarkan instrumen lagu sunda Manuk Dadali. Belum sampai tujuan bahkan sudah kangen tanah air hikss...

Kami sengaja memilih transit agak lama di Amsterdam, yaitu 8 jam. Kami memang ingin jalan-jalan dulu. Kebetulan suami saya juga belum pernah ke sini. Tujuan kami adalah keliling kota naik cruise melewat kanal-kanal yang membelah kota Amsterdam. Tentang transit di kota Amsterdam ini dan juga transit di Singapura insya Allah akan saya ceritakan di artikel berbeda ya.

Di pinggir canal di Amsterdam sesaat sebelum keliling kota naik cruise

di depan Bandara Schiphol 

Tibalah waktu untuk melanjutkan perjalanan menuju Norwegia. Kami terbang menggunakan pesawat KLM pada pukul 16.50. Perjalanan menuju Oslo sekitar 2 jam. Sebenarnya ada juga penerbangan langsung menuju Trondheim tanpa transit dulu di Oslo, tapi harga tiketnya lebih mahal. Lumayanlah selisihnya untuk beli winter coat hehe... Lagipula saya ingin tau seperti apa bandara Gardermoen di Oslo.

Di Oslo, kami transit sekitar 3 jam. Saya dibuat tercengang dengan bandaranya yang sangat modern, bersih dan fasilitasnya sangat passenger friendly. Terdapat puluhan komputer yang memudahkan penumpang untuk self check in sehingga tidak perlu mengantri panjang. Desain interiornya menarik. Bahkan desain toiletnya pun saya suka. Sangat bersih dan banyak tanaman hidupnya. Fasilitas lain yang sangat memudahkan penumpang adalah disediakan banyak stroller bagi balita dan baby carrier. Untuk lansia atau penyandang cacat/disable disediakan layanan kursi roda beserta sukarelawan pendorongnya yang akan menemani selama di bandara, tanpa membayar alias gratis. Wow keren!

Komputer untuk self check in

Airport modern design

stroller untuk balita

Menuju Trondheim, kami menumpang pesawat Scandinavian Airlines (SAS). SAS ini karena penerbangan lokal maka memberlakukan sistem bagasi yang lebih ketat. 1 penumpang hanya boleh mengambil jatah bagasi 23 kg. Jumlah bagasi rombongan tidak bisa diakumulasi, harus dihitung per orang. Berbeda dengan Garuda/KLM untuk penerbangan internasional yang memperbolehkan akumulasi bagasi rombongan tiap orang dikali 30 kg.

Dengan kebijakan demikian, walhasil kami harus memindahkan keberatan beban pada koper satu ke koper lain atau ke hand bag. Sebenarnya hal ini sudah diantisipasi oleh suami saya. Sehingga kami menyiapkan handbag yang agak longgar untuk cadangan barang. Untungnya juga ada 1 koper titipan orang tua teman sesama mahasiswa asal Indonesia yang masih kosong, akhirnya beberapa barang dititipkan di kopernya. Ya begitulah, sesama perantau harus saling membantu.


Bawaan di luar beberapa hand bag. Banyaknyaaa...

Kami terbang tepat pukul 22.45. Perjalanan 1 jam kami lewati dengan tidur pulas. Saking pulasnya, saat mendarat dan pesawat berhenti, si bungsu tidak mau turun. Saya dan suami tidak bisa menggendongnya karena handbag kami lumayan banyak. Akhirnya dengan tertatih-tatih dan jalan sempoyongan, si bungsu berhasil turun dari pesawat diiringin tawa para pilot dan pramugari.

Sesampainya di bandara Vaernes Stjordal Nord-trondelag, suami langsung menghubungi temannya yang akan menjemput. Suhu saat itu 5°C. Brrr.. dinginnya. Untung anak-anak sudah saya siapkan memakai long jhon (baju hangat under wear) dan jaket bulu angsa untuk melawan dingin. Jadi kami masih bisa "bertahan" hehe

Sementara menunggu suami yang mengontak temannya,  saya dan anak-anak menunggu di cafe. Anak-anak melanjutkan tidur pulasnya sambil duduk. Lucu dan kasian melihatnya. Sabar ya, Nak, sebentar lagi kita sampai di rumah.


Ngantuk berat... tertidur pulas

Ah itu dia teman yang menjemput datang. Namanya Krzysiek atau suka dipanggil Kiloczarli (Czarli). Susah amat ya nyebutnya hihi... Meskipun namanya susah disebut tapi orangnya ganteng haha... apa hubungannya juga? Dia berkebangsaan Polandia. Kata suami saya, tipikal orang Polandia itu tidak malu bekerja kasar apapun statusnya. Maka di Trondheim banyak ditemui pekerja konstruksi asal Polandia.

Czarli adalah mahasiswa S3 jurusan Informatika yang sering menyewakan kendaraannya.  Mobil VW Caravelle disewakan dengan tarif Kr 250 atau setara Rp. 425.000 per jam. Biaya hidup di negara ini memang relatif tinggi dibanding negara eropa lainnya, makanya harus pintar-pintar melakukan usaha sampingan. Jadi saya mending bekerja di restoran apa jadi nanny aja ya? hihi

Perjalanan dari Nord-trondelag menuju Trondheim hanya 30 menit saja. Karena sudah malam, saya tidak terlalu memperhatikan pemandangan di luar jendela. Lagipula saya sudah mengantuk sekali.

Selain Czarli, teman suami yg menjemput bernama Reizy. Mahasiswa S2 yang bersama istri dan bayinya sudah duluan tiba di Norwegia. Bersama Czarli dan Reizy, suami mengangkut koper-koper kami ke lantai 3 flat tempat kami tinggal. Lumayan juga, naik turun tangga tanpa lift sambil bawa barang. Huffttt...capeknya. Gak bisa bayar orang untuk mengangkut barang. Semua harus dikerjakan sendiri. Maka menjalin pertemanan yang baik dengan sesama perantau menjadi sesuatu yang mutlak dilakukan.

Setelah semua koper masuk flat. Lalu kami pun langsung tertidur. Tidur dengan tersenyum karena petualangan-petualangan berikutnya ada di depan mata dan kami akan melaluinya bersama-sama. Insya Allah.