Wednesday, October 14, 2015

Antara Jakarta dan Trondheim

7 Oktober 2015. Hari ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu sejak 13 tahun yang lalu. Hari dimana kami sekeluarga akan melakukan perjalanan panjang untuk menetap sementara di benua berbeda. Hari yang dulu hanya sekedar obrolan ngalor ngidul di awal pernikahan saya dan suami, akhirnya akan menjadi nyata. Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa, namun bagi kami itu luar biasa. Menjalani kehidupan di negara 4 musim, seperti apa rasanya ya?

Bersama keluarga tercinta yang mengantar di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Indonesia
Rencananya kami akan tinggal di Norwegia selama 3 tahun. Negara dimana suami saya tengah menempuh pendidikan S3 nya di kota Trondheim, kota pelajar seperti Jogjakarta-nya di Indonesia. Kota yang "ndeso" bila dibanding modern-nya ibukota negara ini yaitu Oslo. Meskipun ndeso, tapi saya suka suasana kota yang damai dan tenang ini. Maklumlah, di tanah air sehari-hari saya bergelut dengan kemacetan.

Ke Norwegia, kami akan menempuh perjalanan 30 jam. Wow selama itu? Ya maklumlah Norwegia terletak di benua Eropa bagia timur , dekat kutub utara. Perjalanan 30 jam itu sudah termasuk transit 2 jam di Singapura dan 8 jam di Amsterdam, Belanda.

Alhamdulillah sepanjang perjalanan cuaca sangat baik. Penerbangan berjalan mulus, pesawat tidak mengalami gangguan apapun. Kami sekeluarga tidur nyenyak. Perjalanan panjang yang semula saya kira akan berat bagi kami ternyata biasa-biasa saja. Tak heran saat saya mengajak suami untuk menyiapkan beberapa permainan sebelum kami berangkat, suami saya tidak terlalu merespon. Ya karena dia sudah tau perjalanan tidak seboring yang saya kira.

Apalagi, perjalanan panjang ke luar negeri biasanya malam, jadi waktu yang banyak terpakai ya untuk tidur hehe. Anak-anak saya yang berumur 11 dan 6 tahun asyik menonton film dan bermain game dari layar TV yang ada di depan bangku masing-masing. Asyik sekali. Tidak ada raut muka bosan apalagi kesal, yang ada ceria terus. Tentu saja, ini kan perjalanan yang sudah lama dinantikan.


Di pesawat Garuda Airline. Exciting dengan game dan filmnya hihi

Beberapa buku dan mainan yang sudah saya siapkan tidak tersentuh sama sekali. Saya sendiri selama perjalanan dari Singapore menuju Amsterdam menonton 2 film saja. Dua-duanya film Indonesia. Lagi ingin menonton film yang santai soalnya hehe... Selanjutnya saya banyak mendengarkan musik sambil membuat catatan-catatan kecil.

Kami tiba untuk transit di bandara Schiphol Amsterdam pukul 08.45 waktu setempat. Saat itu cuaca dikabarkan pilot dalam keadaan berawan dengan suhu 13°C. Ada rasa haru dan bangga saat mendarat diperdengarkan instrumen lagu sunda Manuk Dadali. Belum sampai tujuan bahkan sudah kangen tanah air hikss...

Kami sengaja memilih transit agak lama di Amsterdam, yaitu 8 jam. Kami memang ingin jalan-jalan dulu. Kebetulan suami saya juga belum pernah ke sini. Tujuan kami adalah keliling kota naik cruise melewat kanal-kanal yang membelah kota Amsterdam. Tentang transit di kota Amsterdam ini dan juga transit di Singapura insya Allah akan saya ceritakan di artikel berbeda ya.

Di pinggir canal di Amsterdam sesaat sebelum keliling kota naik cruise

di depan Bandara Schiphol 

Tibalah waktu untuk melanjutkan perjalanan menuju Norwegia. Kami terbang menggunakan pesawat KLM pada pukul 16.50. Perjalanan menuju Oslo sekitar 2 jam. Sebenarnya ada juga penerbangan langsung menuju Trondheim tanpa transit dulu di Oslo, tapi harga tiketnya lebih mahal. Lumayanlah selisihnya untuk beli winter coat hehe... Lagipula saya ingin tau seperti apa bandara Gardermoen di Oslo.

Di Oslo, kami transit sekitar 3 jam. Saya dibuat tercengang dengan bandaranya yang sangat modern, bersih dan fasilitasnya sangat passenger friendly. Terdapat puluhan komputer yang memudahkan penumpang untuk self check in sehingga tidak perlu mengantri panjang. Desain interiornya menarik. Bahkan desain toiletnya pun saya suka. Sangat bersih dan banyak tanaman hidupnya. Fasilitas lain yang sangat memudahkan penumpang adalah disediakan banyak stroller bagi balita dan baby carrier. Untuk lansia atau penyandang cacat/disable disediakan layanan kursi roda beserta sukarelawan pendorongnya yang akan menemani selama di bandara, tanpa membayar alias gratis. Wow keren!

Komputer untuk self check in

Airport modern design

stroller untuk balita

Menuju Trondheim, kami menumpang pesawat Scandinavian Airlines (SAS). SAS ini karena penerbangan lokal maka memberlakukan sistem bagasi yang lebih ketat. 1 penumpang hanya boleh mengambil jatah bagasi 23 kg. Jumlah bagasi rombongan tidak bisa diakumulasi, harus dihitung per orang. Berbeda dengan Garuda/KLM untuk penerbangan internasional yang memperbolehkan akumulasi bagasi rombongan tiap orang dikali 30 kg.

Dengan kebijakan demikian, walhasil kami harus memindahkan keberatan beban pada koper satu ke koper lain atau ke hand bag. Sebenarnya hal ini sudah diantisipasi oleh suami saya. Sehingga kami menyiapkan handbag yang agak longgar untuk cadangan barang. Untungnya juga ada 1 koper titipan orang tua teman sesama mahasiswa asal Indonesia yang masih kosong, akhirnya beberapa barang dititipkan di kopernya. Ya begitulah, sesama perantau harus saling membantu.


Bawaan di luar beberapa hand bag. Banyaknyaaa...

Kami terbang tepat pukul 22.45. Perjalanan 1 jam kami lewati dengan tidur pulas. Saking pulasnya, saat mendarat dan pesawat berhenti, si bungsu tidak mau turun. Saya dan suami tidak bisa menggendongnya karena handbag kami lumayan banyak. Akhirnya dengan tertatih-tatih dan jalan sempoyongan, si bungsu berhasil turun dari pesawat diiringin tawa para pilot dan pramugari.

Sesampainya di bandara Vaernes Stjordal Nord-trondelag, suami langsung menghubungi temannya yang akan menjemput. Suhu saat itu 5°C. Brrr.. dinginnya. Untung anak-anak sudah saya siapkan memakai long jhon (baju hangat under wear) dan jaket bulu angsa untuk melawan dingin. Jadi kami masih bisa "bertahan" hehe

Sementara menunggu suami yang mengontak temannya,  saya dan anak-anak menunggu di cafe. Anak-anak melanjutkan tidur pulasnya sambil duduk. Lucu dan kasian melihatnya. Sabar ya, Nak, sebentar lagi kita sampai di rumah.


Ngantuk berat... tertidur pulas

Ah itu dia teman yang menjemput datang. Namanya Krzysiek atau suka dipanggil Kiloczarli (Czarli). Susah amat ya nyebutnya hihi... Meskipun namanya susah disebut tapi orangnya ganteng haha... apa hubungannya juga? Dia berkebangsaan Polandia. Kata suami saya, tipikal orang Polandia itu tidak malu bekerja kasar apapun statusnya. Maka di Trondheim banyak ditemui pekerja konstruksi asal Polandia.

Czarli adalah mahasiswa S3 jurusan Informatika yang sering menyewakan kendaraannya.  Mobil VW Caravelle disewakan dengan tarif Kr 250 atau setara Rp. 425.000 per jam. Biaya hidup di negara ini memang relatif tinggi dibanding negara eropa lainnya, makanya harus pintar-pintar melakukan usaha sampingan. Jadi saya mending bekerja di restoran apa jadi nanny aja ya? hihi

Perjalanan dari Nord-trondelag menuju Trondheim hanya 30 menit saja. Karena sudah malam, saya tidak terlalu memperhatikan pemandangan di luar jendela. Lagipula saya sudah mengantuk sekali.

Selain Czarli, teman suami yg menjemput bernama Reizy. Mahasiswa S2 yang bersama istri dan bayinya sudah duluan tiba di Norwegia. Bersama Czarli dan Reizy, suami mengangkut koper-koper kami ke lantai 3 flat tempat kami tinggal. Lumayan juga, naik turun tangga tanpa lift sambil bawa barang. Huffttt...capeknya. Gak bisa bayar orang untuk mengangkut barang. Semua harus dikerjakan sendiri. Maka menjalin pertemanan yang baik dengan sesama perantau menjadi sesuatu yang mutlak dilakukan.

Setelah semua koper masuk flat. Lalu kami pun langsung tertidur. Tidur dengan tersenyum karena petualangan-petualangan berikutnya ada di depan mata dan kami akan melaluinya bersama-sama. Insya Allah.

5 comments:

  1. Hihi. Seruuuu. Ninggalin jejak aaaaah

    Ditunggu kisah berikutnyaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mas Eka. Mudah-mudahan dikasih semangat untuk terus menulis kisah hidup di negeri orang ya ;)

      Delete
  2. Replies
    1. Terima kasih sudah mampir ya, salam kenal^^

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete