Wednesday, November 25, 2015

Yuk, Bermain Dampu!



Pagi itu, 9 November 2015, pukul 11.00, kami ada janji dengan pihak Kattem Skole, sekolah penyesuaian bahasa bagi anak-anak yang berasal dari luar negeri yang bersekolah di Norwegia. Mereka akan mempelajari bahasa Norsk, bahas asli Norwegia sebagai bahasa pengantar di sekolah inti. Tiba pukul 10.50, kami sengaja lewat pintu belakang sekolah, kerena itu jalan terdekat dari halte bis tempat kami turun. Halaman sekolahnya sendiri tidak diberi pagar, sehingga memudahkan anak-anak yang tinggal di lingkungan Kattem Skole untuk bermain di sana. Fasilitas permainan di halaman sekolah milik masyarakat umum. Begitulah nyamannya tinggal di negara ini, masyarakat benar-benar menikmati hasil pajak yang mereka bayarkan. 

Kami tiba di sana tepat jam istirahat. Anak-anak asyik bermain diawasi bapak-ibu guru yang memakai rompi khusus, rompi dari bahan parasut berwarna terang menyolok dan ada reflectornya (garis-garis yang bisa menyala bila tersorot sinar lampu). Di antara anak-anak itu ada yang bermain bola, ayunan, perosotan, jungkat jungkit, dan ada yang bermain dampu! Ya, dampu, saya terkejut melihat permainan itu dimainkan di sini. Saya pikir itu permainan asli dari Indonesia. Ternyata bukan ya. Agak sulit melihat hubungan permainan asli Indonesia yang dimainkan oleh anak-anak Norwegia.

Lalu saya pun tertarik untuk mengambil gambar dan menuliskan status tentang dompu ini di media sosial. Beragam reaksi disampaikan teman-teman saya. Saya pun tertarik untuk mencari informasi di internet tentang asal usul permainan dampu. Lalu bertemu link ini, tentang sejarah nama dampu. Salah seorang teman SMA saya yang sekarang menetap dan menjadi guru TK di Nigeria, namun sebelumnya pernah mengajar TK di sekolah internasional di Jakarta dan Paris dalam kolom komentar menulis bahwa permainan dampu ini adalah mainan yang sangat lazim di seluruh dunia, di Amerika, Eropa bahkan Afrika. Nama Inggrisnya Hopscotch. Terima kasih ya, Eta untuk linknya.

Waktu kecil, di usia antara 7 - 11 tahun saya pun sering memainkan dampu ini. Permainan yang dibuat dari garis kotak-kotak dan gunung yang dibuat berurutan, dari kotak kecil, kotak besar, kemudian gunung. Ditengah-tengah ada kotak kecil lagi, lalu besar lagi. Filosofi dari permainan ini dapat diartikan sebagai proses menjalani kehidupan. Untuk mencapai "puncak gunung" ada tahapan-tahapannya, tidak bisa langsung. Di tengah-tengah perjalanan, akan ditemui lagi masalah (kotak kecil), namun akhirnya perjalanan mencapai puncaknya. Selama bermain, kaki pemain tidak boleh menyentuh garis. Bila sampai menyentuh, maka pemain kalah dan harus bergantian dengan pemain lain. Ini bisa diartikan selama menjalani proses kehidupan, janganlah melanggar aturan, atau Anda akan "kalah".

Anak perempuan atau laki-laki bisa memainkan dampu, tapi yang sering biasanya anak perempuan. Cara memainkan dampu ini mudah saja. Alat yang digunakan pun cuma batu pipih. Media yang digunakan adalah lantai atau tanah datar. Buat terlebih dahulu garis kotak-kotak dan "gunung" dengan kapur atau torehan di tanah dengan batu runcing. Para pemain melempar batu ke area yang dibatasi garis. Pelempar batu terjauh berhak memulai duluan. 

Pemain harus berjalan engklek (berjalan dengan kaki diangkat sebelah) bila berada di kotak kecil. Bila berada di dua kotak besar, maka pemain boleh meletakkan ke dua kakinya di ke dua kotak itu. Pada kotak dimana terdapat batu yang tadi dilempar, maka pemain harus meloncat untuk melewatinya. Setelah melewati satu putaran, pemain kembali ke kotak start dengan sebelumnya mengambil batu pipih yang telah dilempar. Setelah selesai melewati satu putaran tersebut, pemain mendapatkan 1 poin. Poin-poin tersebut dikumpulkan. Pemenangnya adalah yang berhasil mengumpulkan poin terbanyak.

Ah senang rasanya menuliskan artikel ini sambil mengingat-ingat kenangan masa kecil saya. Masa kecil yang bahagia, ringan, tanpa masalah. Begitulah dunia anak-anak. What a nice flash back!




Tuesday, November 3, 2015

Arungi Dua Negara Demi Daging Halal


Selamat Datang di Coop Extra Storlien

Sore itu langit berawan. Agak mendung, tapi tidak terlalu gelap. Suhu sekitar 2°C. Dingin tentu saja. Diperlukan 3 lapis pakaian untuk melawan dingin di suhu tersebut. Tapi cuaca bukanlah halangan untuk beraktivitas. Di Trondheim, Norwegia, tempat tinggal saya sekarang, masyarakat biasa melakukan kegiatan di luar rumah pada malam hari, bahkan saat suhu menunjukkan angka 0°C. Ada orang tua yang jogging, anak-anak bermain bola, atau pasangan suami istri berjalan sambil mendorong kereta bayi. Suasana malam yang gelap membuat saya dengan mudah bisa melihat asap keluar dari mulut mereka saat bernafas. Saking dinginnya! Jadi kalau suhu 2°C, masih sore dan kami mengeluh, duh malu-maluin banget deh!

Sore itu, jam 3 tepat kami sekeluarga akan jalan-jalan ke Storlien, Swedia. Tujuannya bukan jalan-jalan rekreasi, tapi jalan-jalan beli daging halal. Sebenarnya kami belum perlu membeli daging  karena persediaan masih ada, tapi karena mengincar suasana akhir musim gugur, kami berharap masih bertemu warna warni daun di sepanjang jalan sebelum berguguran. Jadi ya diagendakan saja lah hari itu. Wah, beli daging saja ke luar negeri... gayaaa hihi... Nggak gaya juga sih, secara di sini sulit mendapatkan daging halal.  Maklumlah, jumlah penduduk Muslim di kota ini belum terlalu banyak. Menjual daging halal kemungkinan hanya menghasilkan sedikit keuntungan saja bagi pengusaha ritel. Sebenarnya ada toko milik orang Timur Tengah yang berjualan daging halal, namun harganya mahal sekali, bisa 2 - 3 kali lipat dari harga di Storlien. Jadi ya sudahlah, yuk ah jalan-jalan ke Storlien, jalan-jalan ke luar negeri hehe.

Kami naik bis menuju Storlien. Bisnya gratis. Disediakan oleh Coop Extra, perusahaan ritel yang menjual daging halal yang akan kami beli. Keren ya promosi jemput bolanya! Konon dulu harus belanja dulu minimal 500 SEK (Rp. 850 ribu) baru bisa naik bis gratis. Sekarang karena banyak saingan, maka Coop membuat terobosan lain. Dan ini efektif. Terlihat dari penuhnya bis berkapasitas sekitar 40 orang tersebut. Penyediaan jasa layanan antar jemput pelanggan ini dilakukan setiap hari kecuali hari Senin. Untuk bisa ikut bis gratis ini, pemesanan harus dilakukan sehari sebelumnya via telepon dengan mendaftarkan jumlah orang yang mau ikut dan lokasi halte penjemputan. Dalam sehari ada 2 kali keberangkatan, pagi dan sore. Namun bila permintaan pelanggan banyak, maka armada bis dan jam keberangkatan akan ditambah. Waktu kami ikut, ada 2 bis yang berangkat hanya berseling sekitar 30 menit saja.

Kami naik dari halte Nardo Senteret, halte terdekat dari apartemen kami. Cuma perlu waktu 2-3 menit saja berjalan kaki menuju halte itu. Baru ada 1 penumpang lain yang menunggu bis bersama kami, seorang ibu-ibu tua. Ia senyum-senyum melihat kami berfoto-foto di halte itu. Mungkin geli melihat tingkah polah kami atau sekedar teringat anak cucunya, entahlah. Tapi orang-orang tua di sini memang ramah-ramah. Saya seringkali mendapat senyum duluan.


Jalan kaki menuju halte bis Nardo Senteret
Foto-foto dulu di halte. Si sulung malah asyik membuat uap di kaca. Hadeh.

Tak lama bis datang dari arah selatan. Kami termasuk yang awal dijemput. Bis masih kosong. Baru ada sekitar 4-5 orang. Kami bisa memilih kursi yang tidak terlalu ke belakang supaya nyaman mengingat ini adalah perjalan yang cukup jauh. Jarak Trondheim - Storlien kurang lebih 100 Km dengan waktu tempuh 1,5 jam. Untung bisnya nyaman dan pemandangan sepanjang jalan sangat indah, sehingga waktu 1,5 jam itu tidak terasa.

Kali ini bis berhenti di 5 halte untuk mengambil penumpang. Yang terbanyak di Student Village, Moholt, ada sekitar 15-20 orang mahasiswa. Mahasiswa memang senang belanja ke Storlien karena harganya yang jauh lebih murah daripada di Trondheim. Apalagi menjelang pesta Halloween, wah pasti banyak yang harus disiapkan. Sepanjang jalan ceria sekali para mahasiswa itu. Mereka bercanda ketawa ketiwi. Ah, masa muda memang selalu menyenangkan ya!

Bis nyaman. Tambah nyaman karena gratis wkwkwk

Selesai menjemput semua penumpang di Trondheim, bis melaju menuju keluar kota dengan kecepatan sedang saja, antara 70 - 80 Km/jam. Termasuk pelan ya? Di sini saya tidak pernah melihat mobil melaju di atas 100 Km/jam. Itu pelanggaran. Semua warga taat aturan. Mereka paham betul saat melanggar aturan, pasti ada efek tidak baik bagi orang lain dan tentu saja bagi diri sendiri juga. Hukumannya pun tidak main-main. Polisi tidak bisa disogok. Maka tak heran jika kemudian  Norwegia dinobatkan UNDP sebagai negara yang memiliki Human Development Index (HDI) tertinggi Tahun 2014 . Negara yang paling diinginkan sebagai tempat tinggal di dunia. Ya, negara ini memang aman dan nyaman sekali.

Kembali ke perjalanan yang menyenangkan menuju Storlien, lagi-lagi kami disuguhkan pemandangan yang menyegarkan mata. Melewati jalan tol ke arah bandara, Stjørdal, Nord Trøndelag, menembus 2 terowongan panjang yang merupakan bagian dari jalan tol. Menyusuri fjord (laut), melewati ladang gandum yang baru selesai dipanen, sungai yang bersih dan jernih, rumah-rumah khas desa di Eropa, rumah pertanian tua, pohon-pohon yang daunnya mulai menguning, semua menjadi harmoni alam yang memukau saya. MasyaAllah indahnya.




Pemandangan sepanjang jalan

Mendekati Storlien, kami disuguhkan jejeran pohon-pohon besar. Dinding bukit batu yang memagari jalan, memantulkan sinar matahari. Cantik sekali. Tebing-tebing mengalirkan air terjun menjadi magnet tersendiri. Dari kejauhan nampak lingkaran bukit yang dilapisi salju. Kata suami saya, salju itu tidak mencair sepanjang tahun karena letaknya di gunung dan sinar matahari pun tidak mampu mencairkan salju yang telah membatu tersebut. Sayang kamera saya tidak semua merekam hasil jepretan yang bagus. Kebanyakan gambar yang goyang dan agak kabur. Maklum amatiran hehe.

Tiba di Storlien, hari sudah mulai gelap. Padahal baru pukul 16.30. Memasuki musim dingin, siang memang lebih singkat daripada malam. Penumpang turun dari bis dengan tas-tas besar mereka seperti koper. Kami sendiri membawa 1 tas besar. Sudah tentu yang pergi ke sini pasti akan memborong belanjaan. Jauh-jauh masa cuma beli satu kantong plastik? Rugi waktu dong. Untuk berbelanja, kami diberi waktu 1,5 jam. Cukup lah ya.


Baru tiba di Storlien. Latar belakang foto itu pegunungan yang dilapisi salju.

Storlien sendiri hanya merupakan kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 2000 jiwa saja, tapi memiliki toko ritel yang besar dan lengkap. Toko ini ditujukan bukan hanya untuk penduduk mereka sendiri melainkan penduduk dari Norwegia. Produk yang paling sering dibeli di sini adalah rokok dan alkohol. Maklum saja, di daerah dingin alkohol dan rokok dipandang cukup efektif memberi kehangatan pada tubuh. Kedua produk itu terkena pajak tinggi di Norwegia. Jadi selisih harga sangat lumayan. Nampaknya Storlien akan menjadi tempat favorit belanja keluarga kami nih heuheu. 

Kami sendiri membeli daging sapi potong, daging sapi cincang, ayam potong, berbagai daging olahan seperti sosis, schnitzel, kebab dan PERMEN kesukaan anak-anak. Kesukaan yang tidak baik sebenarnya. Pelan-pelan harus dicoba dikurangi nih. Anak-anak Norwegia termasuk yang dibatasi mengkonsumsi permen dan coklat. Okay noted, masuk daftar sesuatu yang harus berubah pasca tinggal di Norwegia ;)

Daging cincang

Jelas ditulis: HALAL

Si ayah udah jago belanja hihi

Melihat jejeran toples besar berisi permen dan coklat, anak-anak bukan main senangnya. Meskipun demikian, kehati-hatian tetap dinomorsatukan. Anak-anak boleh memilih permen atau coklat sesuka hati namun tetap harus seiizin ayahnya yang akan meneliti dulu apakah permen/coklat tersebut mengandung gelatin/rhum atau tidak. Yaiyalah, jangan sampai ada barang haram masuk ke tubuh anak-anak kan. Naudzubillahimindzalik...

Ada gelatin/rhum nya gak ya?

Yang halal saja untuk anakku

Tak terasa waktu berlalu. Ada yang menyesakkan dada saat menggesek kartu untuk membayar semua belanjaan. 2003,13 Kroner! Belum pernah beli daging sebanyak itu kecuali daging kurban hehe... Tapi suami saya santai saja, ya memang itu semua kebutuhan sekeluarga untuk 1 bulan. Memang sih tips supaya kepala tidak pusing tiap kali berbelanja adalah jangan selalu mengkonversikan nilai Kroner ke Rupiah, bisa sakit hati hihi

Untuk berbelanja di luar Norwegia sendiri ada batasan jumlah kuota barang yang boleh dibeli. Pembeli diperbolehkan belanja untuk konsumsi sendiri, bukan untuk dijual. Batas maksimal yang disyaratkan antara lain daging, susu dan produk turunannya seberat 10 kg, rokok maksimal 1 slot (200 batang), alkohol 1,5 liter dan lain-lain. Bila pembelian diatas batas yang telah ditetapkan, maka diasumsikan pembelian adalah untuk tujuan bukan konsumsi sendiri alias untuk berjualan. Ini ada pajaknya dan lumayan mahal. Biasanya ada pengecekan oleh petugas di perbatasan secara random. Bila kedapatan ada penumpang yang tidak mematuhi aturan tersebut, maka siap-siap saja menerima sangsinya. Suami sendiri sudah 5 kali belanja ke Storlien dan belum pernah bis yang ditumpanginya kena cek petugas. Padahal sekali waktu kena cek asyik juga ya, jadi punya pengalaman dan cerita untuk dibagi hehe...


Penumpang bis dan hasil belanjaannya

Belanjaan kami

Siap-siap mau pulang

Pulang ke rumah sudah jam 8 malam. Capek tapi senang karena punya pengalaman belanja daging halal yang unik. Siap-siap browsing resep untuk membuat aneka masakan daging yang lezat. Supaya selalu diulang kata-kata si bungsu seperti ini "Sejak Ummi gak kerja, kita kayak makan di restoran setiap hari. Makanannya enak terus". Hiksss... meleleh hati ini, cyiin^^


Trondheim, 27 Oktober 2015.