Tuesday, November 3, 2015

Arungi Dua Negara Demi Daging Halal


Selamat Datang di Coop Extra Storlien

Sore itu langit berawan. Agak mendung, tapi tidak terlalu gelap. Suhu sekitar 2°C. Dingin tentu saja. Diperlukan 3 lapis pakaian untuk melawan dingin di suhu tersebut. Tapi cuaca bukanlah halangan untuk beraktivitas. Di Trondheim, Norwegia, tempat tinggal saya sekarang, masyarakat biasa melakukan kegiatan di luar rumah pada malam hari, bahkan saat suhu menunjukkan angka 0°C. Ada orang tua yang jogging, anak-anak bermain bola, atau pasangan suami istri berjalan sambil mendorong kereta bayi. Suasana malam yang gelap membuat saya dengan mudah bisa melihat asap keluar dari mulut mereka saat bernafas. Saking dinginnya! Jadi kalau suhu 2°C, masih sore dan kami mengeluh, duh malu-maluin banget deh!

Sore itu, jam 3 tepat kami sekeluarga akan jalan-jalan ke Storlien, Swedia. Tujuannya bukan jalan-jalan rekreasi, tapi jalan-jalan beli daging halal. Sebenarnya kami belum perlu membeli daging  karena persediaan masih ada, tapi karena mengincar suasana akhir musim gugur, kami berharap masih bertemu warna warni daun di sepanjang jalan sebelum berguguran. Jadi ya diagendakan saja lah hari itu. Wah, beli daging saja ke luar negeri... gayaaa hihi... Nggak gaya juga sih, secara di sini sulit mendapatkan daging halal.  Maklumlah, jumlah penduduk Muslim di kota ini belum terlalu banyak. Menjual daging halal kemungkinan hanya menghasilkan sedikit keuntungan saja bagi pengusaha ritel. Sebenarnya ada toko milik orang Timur Tengah yang berjualan daging halal, namun harganya mahal sekali, bisa 2 - 3 kali lipat dari harga di Storlien. Jadi ya sudahlah, yuk ah jalan-jalan ke Storlien, jalan-jalan ke luar negeri hehe.

Kami naik bis menuju Storlien. Bisnya gratis. Disediakan oleh Coop Extra, perusahaan ritel yang menjual daging halal yang akan kami beli. Keren ya promosi jemput bolanya! Konon dulu harus belanja dulu minimal 500 SEK (Rp. 850 ribu) baru bisa naik bis gratis. Sekarang karena banyak saingan, maka Coop membuat terobosan lain. Dan ini efektif. Terlihat dari penuhnya bis berkapasitas sekitar 40 orang tersebut. Penyediaan jasa layanan antar jemput pelanggan ini dilakukan setiap hari kecuali hari Senin. Untuk bisa ikut bis gratis ini, pemesanan harus dilakukan sehari sebelumnya via telepon dengan mendaftarkan jumlah orang yang mau ikut dan lokasi halte penjemputan. Dalam sehari ada 2 kali keberangkatan, pagi dan sore. Namun bila permintaan pelanggan banyak, maka armada bis dan jam keberangkatan akan ditambah. Waktu kami ikut, ada 2 bis yang berangkat hanya berseling sekitar 30 menit saja.

Kami naik dari halte Nardo Senteret, halte terdekat dari apartemen kami. Cuma perlu waktu 2-3 menit saja berjalan kaki menuju halte itu. Baru ada 1 penumpang lain yang menunggu bis bersama kami, seorang ibu-ibu tua. Ia senyum-senyum melihat kami berfoto-foto di halte itu. Mungkin geli melihat tingkah polah kami atau sekedar teringat anak cucunya, entahlah. Tapi orang-orang tua di sini memang ramah-ramah. Saya seringkali mendapat senyum duluan.


Jalan kaki menuju halte bis Nardo Senteret
Foto-foto dulu di halte. Si sulung malah asyik membuat uap di kaca. Hadeh.

Tak lama bis datang dari arah selatan. Kami termasuk yang awal dijemput. Bis masih kosong. Baru ada sekitar 4-5 orang. Kami bisa memilih kursi yang tidak terlalu ke belakang supaya nyaman mengingat ini adalah perjalan yang cukup jauh. Jarak Trondheim - Storlien kurang lebih 100 Km dengan waktu tempuh 1,5 jam. Untung bisnya nyaman dan pemandangan sepanjang jalan sangat indah, sehingga waktu 1,5 jam itu tidak terasa.

Kali ini bis berhenti di 5 halte untuk mengambil penumpang. Yang terbanyak di Student Village, Moholt, ada sekitar 15-20 orang mahasiswa. Mahasiswa memang senang belanja ke Storlien karena harganya yang jauh lebih murah daripada di Trondheim. Apalagi menjelang pesta Halloween, wah pasti banyak yang harus disiapkan. Sepanjang jalan ceria sekali para mahasiswa itu. Mereka bercanda ketawa ketiwi. Ah, masa muda memang selalu menyenangkan ya!

Bis nyaman. Tambah nyaman karena gratis wkwkwk

Selesai menjemput semua penumpang di Trondheim, bis melaju menuju keluar kota dengan kecepatan sedang saja, antara 70 - 80 Km/jam. Termasuk pelan ya? Di sini saya tidak pernah melihat mobil melaju di atas 100 Km/jam. Itu pelanggaran. Semua warga taat aturan. Mereka paham betul saat melanggar aturan, pasti ada efek tidak baik bagi orang lain dan tentu saja bagi diri sendiri juga. Hukumannya pun tidak main-main. Polisi tidak bisa disogok. Maka tak heran jika kemudian  Norwegia dinobatkan UNDP sebagai negara yang memiliki Human Development Index (HDI) tertinggi Tahun 2014 . Negara yang paling diinginkan sebagai tempat tinggal di dunia. Ya, negara ini memang aman dan nyaman sekali.

Kembali ke perjalanan yang menyenangkan menuju Storlien, lagi-lagi kami disuguhkan pemandangan yang menyegarkan mata. Melewati jalan tol ke arah bandara, Stjørdal, Nord Trøndelag, menembus 2 terowongan panjang yang merupakan bagian dari jalan tol. Menyusuri fjord (laut), melewati ladang gandum yang baru selesai dipanen, sungai yang bersih dan jernih, rumah-rumah khas desa di Eropa, rumah pertanian tua, pohon-pohon yang daunnya mulai menguning, semua menjadi harmoni alam yang memukau saya. MasyaAllah indahnya.




Pemandangan sepanjang jalan

Mendekati Storlien, kami disuguhkan jejeran pohon-pohon besar. Dinding bukit batu yang memagari jalan, memantulkan sinar matahari. Cantik sekali. Tebing-tebing mengalirkan air terjun menjadi magnet tersendiri. Dari kejauhan nampak lingkaran bukit yang dilapisi salju. Kata suami saya, salju itu tidak mencair sepanjang tahun karena letaknya di gunung dan sinar matahari pun tidak mampu mencairkan salju yang telah membatu tersebut. Sayang kamera saya tidak semua merekam hasil jepretan yang bagus. Kebanyakan gambar yang goyang dan agak kabur. Maklum amatiran hehe.

Tiba di Storlien, hari sudah mulai gelap. Padahal baru pukul 16.30. Memasuki musim dingin, siang memang lebih singkat daripada malam. Penumpang turun dari bis dengan tas-tas besar mereka seperti koper. Kami sendiri membawa 1 tas besar. Sudah tentu yang pergi ke sini pasti akan memborong belanjaan. Jauh-jauh masa cuma beli satu kantong plastik? Rugi waktu dong. Untuk berbelanja, kami diberi waktu 1,5 jam. Cukup lah ya.


Baru tiba di Storlien. Latar belakang foto itu pegunungan yang dilapisi salju.

Storlien sendiri hanya merupakan kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 2000 jiwa saja, tapi memiliki toko ritel yang besar dan lengkap. Toko ini ditujukan bukan hanya untuk penduduk mereka sendiri melainkan penduduk dari Norwegia. Produk yang paling sering dibeli di sini adalah rokok dan alkohol. Maklum saja, di daerah dingin alkohol dan rokok dipandang cukup efektif memberi kehangatan pada tubuh. Kedua produk itu terkena pajak tinggi di Norwegia. Jadi selisih harga sangat lumayan. Nampaknya Storlien akan menjadi tempat favorit belanja keluarga kami nih heuheu. 

Kami sendiri membeli daging sapi potong, daging sapi cincang, ayam potong, berbagai daging olahan seperti sosis, schnitzel, kebab dan PERMEN kesukaan anak-anak. Kesukaan yang tidak baik sebenarnya. Pelan-pelan harus dicoba dikurangi nih. Anak-anak Norwegia termasuk yang dibatasi mengkonsumsi permen dan coklat. Okay noted, masuk daftar sesuatu yang harus berubah pasca tinggal di Norwegia ;)

Daging cincang

Jelas ditulis: HALAL

Si ayah udah jago belanja hihi

Melihat jejeran toples besar berisi permen dan coklat, anak-anak bukan main senangnya. Meskipun demikian, kehati-hatian tetap dinomorsatukan. Anak-anak boleh memilih permen atau coklat sesuka hati namun tetap harus seiizin ayahnya yang akan meneliti dulu apakah permen/coklat tersebut mengandung gelatin/rhum atau tidak. Yaiyalah, jangan sampai ada barang haram masuk ke tubuh anak-anak kan. Naudzubillahimindzalik...

Ada gelatin/rhum nya gak ya?

Yang halal saja untuk anakku

Tak terasa waktu berlalu. Ada yang menyesakkan dada saat menggesek kartu untuk membayar semua belanjaan. 2003,13 Kroner! Belum pernah beli daging sebanyak itu kecuali daging kurban hehe... Tapi suami saya santai saja, ya memang itu semua kebutuhan sekeluarga untuk 1 bulan. Memang sih tips supaya kepala tidak pusing tiap kali berbelanja adalah jangan selalu mengkonversikan nilai Kroner ke Rupiah, bisa sakit hati hihi

Untuk berbelanja di luar Norwegia sendiri ada batasan jumlah kuota barang yang boleh dibeli. Pembeli diperbolehkan belanja untuk konsumsi sendiri, bukan untuk dijual. Batas maksimal yang disyaratkan antara lain daging, susu dan produk turunannya seberat 10 kg, rokok maksimal 1 slot (200 batang), alkohol 1,5 liter dan lain-lain. Bila pembelian diatas batas yang telah ditetapkan, maka diasumsikan pembelian adalah untuk tujuan bukan konsumsi sendiri alias untuk berjualan. Ini ada pajaknya dan lumayan mahal. Biasanya ada pengecekan oleh petugas di perbatasan secara random. Bila kedapatan ada penumpang yang tidak mematuhi aturan tersebut, maka siap-siap saja menerima sangsinya. Suami sendiri sudah 5 kali belanja ke Storlien dan belum pernah bis yang ditumpanginya kena cek petugas. Padahal sekali waktu kena cek asyik juga ya, jadi punya pengalaman dan cerita untuk dibagi hehe...


Penumpang bis dan hasil belanjaannya

Belanjaan kami

Siap-siap mau pulang

Pulang ke rumah sudah jam 8 malam. Capek tapi senang karena punya pengalaman belanja daging halal yang unik. Siap-siap browsing resep untuk membuat aneka masakan daging yang lezat. Supaya selalu diulang kata-kata si bungsu seperti ini "Sejak Ummi gak kerja, kita kayak makan di restoran setiap hari. Makanannya enak terus". Hiksss... meleleh hati ini, cyiin^^


Trondheim, 27 Oktober 2015.



24 comments:

  1. Wuah..selalu saja jika membaca pesona negri lain, hati jd nyeuleuk..
    Kapan yak indo begitu..?

    Bagus mb din..uti serasa ikut jalan-jalan :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak Uti, alhamdulillah bisa ngajak jalan-jalan walopun cuma via artikel ;)

      Mudah-mudahan suatu saat nanti Indo bisa menjadi seperti negara maju ya mba Uti.

      Delete
  2. perjuangan mencari makanan halal demi keberkahan.

    Kereen...alur ceritanya ringan dan enak dicerna.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih om Bagus... iya om, ngeri kao ada makanan gak halal masuk ke badan. Semoga usaha ini memberi keberkahan bagi keluarga kami. Aamiin yra...

      Delete
  3. Alhamdulillah ya dek. Ummi dirumah jd makan enak hahaha tuh mb din, mereka rindu masakan resto dari umminya. :D

    Mbk Din, bagus tulisannya. Dari info tertibnya kendaraan, dll seakan udah lama aja di norway. Baarakallah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iya mbak Mae, emang enak ya punya emak di rumah terus ;)

      Ya so far sih emang keadaan lalu lintas di sana tertib banget. Semuanya serba teratur. Gak tau juga nanti-nanti sih ;)

      Delete
  4. Tiket PP Indo - Norway kok blom sampe yak heuheu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaakkk... jedotin aja kepalaku sekalian...jedotin... wkwwkwk

      Ayo menabung, om, or dipergiat lagi cari info beasiswa di Eropa ;)

      Delete
  5. Kalo gini ceritane, ndak pusing2 laa nyari traveling guide book. Laaa... Ini mah uda jadi semacam traveling guide.
    Teruslah jalan-jalan duhai mbak (iki opo to yoo) ^^

    *masih menantikan aurora edition ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalo bisa bermanfaat buat yang baca. Harus jalan-jalan terus iki haha emang maunyaaa

      Aurora masih belum ada tanda-tanda iniii. Daku pun menantikannya;)

      Delete
  6. Duh duh jdi mau ksana sama istri nanti *eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin yra... semoga ya Fikri...honey moon di sini asyiiikknyaaa :)

      Delete
  7. Balik tanah air, bakal buka resto nih, saya penasaran masakan restonya, wkwkwk #gagalfokus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagian akhir artikel menyiratkan sinyal buka usaha resto apa yak hehe #jadikepikiranbukaresto

      Delete
  8. Cakep mbak storytellingnya... berasa melihat dan msngalami sendiri sensasinya :D Ditunggu cerita2 berikutnya ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak Eva... InsyaAllah mudah-mudahan dikasih semangat terus buat nulis artikel ;)

      Delete
  9. Assalamualaikum.

    Selalu suka baca artikel mba dini, penyajiannya apik. Dan sukses memupengkan saya.. hehe

    Mbak dini, itu cowo yg pegang kantong belanjaan ijo, kece juga hihi.. #salahfokus.

    Hhmm, alamnya segar yah mba. Klo jalur kereta ke storlien ada gak mbak??

    Udah itu aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumsalam mbak De Echi

      Maaaaappkaaan saya yg udah sukses memupengkan dirimu ya hihi

      Itu yg pegang kantong belanjaan ijo Dimas Beck wkwkwkw....pas ketemu di sana langsung aja kupoto hihi

      Kereta dari Trondheim ke Storlien ada, tapi mahal mbak. Harga tiketnya sekitar 200 - 300 kroner (hampir 600 ribu rupiah) per orang. Sayaaaaang ah, mending naik yg gratisan wkwkwk

      Sekian dulu

      Delete
    2. Waalaikumsalam mbak De Echi

      Maaaaappkaaan saya yg udah sukses memupengkan dirimu ya hihi

      Itu yg pegang kantong belanjaan ijo Dimas Beck wkwkwkw....pas ketemu di sana langsung aja kupoto hihi

      Kereta dari Trondheim ke Storlien ada, tapi mahal mbak. Harga tiketnya sekitar 200 - 300 kroner (hampir 600 ribu rupiah) per orang. Sayaaaaang ah, mending naik yg gratisan wkwkwk

      Sekian dulu

      Delete
  10. Mba,
    Aduh tinggal di Trondheim ya ternyataaaa
    Boleh minta email-nya kah? Aku ingin tanya2 yang agak banyak hihii

    Terima kasih yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mbak Asti. Saya baru 1 bulan juga kok tinggal di norway. Karena rencananya gak akan lama (cuma 3 thn), maka saya berusaha membuat catatan setiap momen special di sini. Supaya ada kenangannya mbak hehe

      Boleh tanya2, mudah2an saya bisa jawab. Silahkan kontak saya di dinidwiutari@yahoo.com

      Delete
  11. mupeng mbak....hahaha....cantik tempatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan suatu saat bisa ke sini ya om Faisal :)

      Delete
  12. mupeng mba diniiii..... kapan ya aq bisa keluar negri? hhmmm.....

    salam kenal (indah triwahyuni)


    www.indahannora.blogspot.co.id

    ReplyDelete