Wednesday, June 22, 2016

Menjelajahi Ringve Botaniske Hage

Beautiful RBH. Foto: koleksi pribadi
Hari itu langit mendung sedari pagi. Suhu sekitar 8°C. Cukup dingin untuk ukuran musim panas. Ya, beginilah di daerah utara benua Eropa, musim panas pun terasa dingin. Subhanallah. Meskipun begitu, mendung tak berarti selalu turun hujan. Siapapun masih bisa beraktivitas di luar rumah.

Sebenarnya sih di saat cuaca seperti itu, lebih enak tinggal di dalam rumah saja. Tapi karena ada keperluan harus membeli barang mengejar diskon hari itu (namanya juga emak-emak modis hehe), akhirnya terpaksa keluar rumah juga. Semula tak ada niat mampir ke Ringve Botaniske Hage (RBH), tapi akhirnya kami membelokkan diri juga ke sana. 

Memasuki RBH yang terasa adalah suasana seperti Taman Bunga Nusantara Cipanas. Hanya dalam skala yang lebih kecil. Bedanya, di sini tidak dikenakan harga tiket masuk alias gratis. Trondheim memang kota kecil, tak lebih besar dari Depok Jawa Barat, namun dikelola dengan sangat baik. Warga mendapat pelayanan maksimal dari pemerintah. Semua orang menikmati pajak yang mereka bayarkan.

Memasuki gerbang RBH, kami disuguhkan oleh papan pengumuman yang berisi deskripsi umum taman ini. Di sana tertulis bahwa RBH merupakan kebun raya yang dikelola oleh Norges Teknisk Naturvitenskapilege Universitet (NTNU) atau Norwegian University of Science and Technology. Diresmikan pada tahun 1973, sebagai bagian dari NTNU University Museum. RBH memiliki luas sekitar 13 hektar. Koleksinya digunakan untuk pendidikan dan penelitian serta konservasi spesies tumbuhan yang terancam punah.

Papan Pengumuman ditulis dalam bahasa Norsk dan Inggris. Foto: koleksi pribadi
Di sini pengunjung bisa menikmati berbagai keanekaragaman botani dan mempelajarinya lebih lanjut. Di papan pengumuman itu pula dijelaskan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan pengunjung, seperti bagi yang membawa anjing peliharaan agar menjaga agar anjing tetap dalam posisi terikat, pengunjung diperkenankan menggunakan taman untuk piknik, tidak boleh melakukan kegiatan membakar api unggun atau barbeque, tidak boleh memetik tanaman, tidak boleh naik sepeda di taman, tidak boleh bermain bola atau frisbee di taman.

RBH merupakan taman sistematis. Tanaman dikelompokkan sesuai dengan hubungan familinya. Setiap  famili ditempatkan dalam satu kamar dan dibatasi oleh pagar. Pagarnya dari tanaman Alperips (Ribes Alpinum). Bagian bawah dari taman menyajikan tanaman pakis dan tanaman penghasil spora lainnya. Bagian utama dari koleksi yang dimiliki RBH adalah jenis tanaman yang perkembangbiakannya melalui penyerbukan oleh serangga. Ada sekitar 1.000 spesies yang berbeda yang berada di 50 kamar. Selain aneka variasi bunga, jenis buah-buah juga tersedia di sana.

Taman Renaissance adalah pemandangan pertama yang kami temui setelah membaca papan pengumuman. Semula saya kira ini adalah taman labirin. Kalau benar taman labirin, saya tidak mau masuk, takut susah keluar hehe. Termyata bukan. Ini adalah taman yang memiliki bentuk dan koleksi tanaman seperti yang dianjurkan oleh buku berkebun pertama di Norwegia, buku yang dirilis di Trondheim pada tahun 1694. Wow cukup lama juga ya!

Bentuk Taman Renaissance terdiri dari satu permukaan persegi yang terbagi dari beberapa kolom tempat bunga tumbuh. Kolom bunga itu berbentuk geometris, dibingkai oleh tepi rumput sempit dan dipisahkan oleh jalan kerikil. Hal ini mencerminkan kebangkitan masa depan model taman, dimana struktur hiasan harus mencerminkan kontrol manusia atas alam. Di tempat ini dibudidayakan tanaman hias, sayuran, obat-obatan dan rempah-rempah. Sayang sekali saya tidak mengambil foto di tempat ini, keburu terpesona sama bunga-bunganya heuheu.

Dari Taman Renaissance, kami menuju Taman Moten. Konon katanya taman ini seperti hamparan karpet bunga pada bulan April. Taman yang terletak di sebelah selatan RBH ini memiliki lanskap padang rumput bergaya Northern Europe. Pohon-pohon besar seperti Beech, Linden, Elm, dan Kastanye menjadi ciri khas taman ini. Tanaman bunga bawang (løk blomstring) tumbuh subur di bawah pohon-pohon besar itu. Tangga batu monumental menghubungkan taman dan bangunan utama RBH. Di depan bangunan utama RBH, ditanam bunga dengan tema berbeda setiap tahun.

Bunga cantik, lupa namanya hehe. Foto: koleksi pribadi
Di tengah jalan, suami saya bercerita bahwa taman ini juga dilengkapi oleh kolam besar. "Wah asyik, ayo kita ke sana", saya berseru riang. Kolam ini ditumbuhi berbagai pepehonan dan semak-semak. Dari jauh saya melihat beberapa keluarga Norwegia sedang ber-piknik di sana. Keluarga muda dengan anak balita bersama kakek nenekya terlihat tertawa-tawa ceria. Si balita berusaha menangkap bebek yang ada di sekitar pinggir kolam. Bebek-bebek itu sengaja diberi roti agar mendekat. Saya suka pemandangan seperti ini dan tak lupa mengambil gambarnya. Saat sedang memotret, seorang kakek Norwegia menghampiri saya. Ia melontarkam idenya agar saya mengambil gambar lebih dekat pada bebek-bebek itu. "Bebeknya jinak kok", katanya. Hihi, tentu saja, Kek. Cekrek, saya memfoto bebek itu.

Bebek hidup tenang di kolam RBH. Foto: koleksi pribadi


Meski mendung, pengunjung tetap ramai. Foto: koleksi pribadi
Jenis tanaman yang hidup di sekitar kolam adalah jenis tanaman yang umum berada di Eropa, Siberia dan Kanada. Jenis tanaman itu adalah Arboretum, yang artinya tanaman berkayu seperti semak dan pepohonan. RBH memiliki sekitar 120 spesies. Konifer Cemara (Picea), Pinus, Cemara (Abies), Larch (Larix), Birch (Betula) dan Willow (Salix). Lebih lanjut tentang koleksi RBH bisa diakses melalui website di sini.

Puas menikmati kolam, kami melanjutkan ke Gamlehagen (Kebun Tua). Kenapa dinamakan Kebun Tua? Rupanya kebun ini berisi koleksi tanaman kebun tradisional Norwegia. Seperti warisan turun temurun, taman ini mengisahkan bagaimana orang jaman dulu memggunakan berbagai jenis tumbuhan dalam kehidupan mereka. Banyak tanaman yang sudah tidak dijual lagi di toko, dapat ditemukan di Kebun Tua ini.

Melalui proyek "Pelestarian Tanaman Kebun di Sentral Norwegia", tercatat ada tiga kabupaten di Norwegia yang telah diteliti koleksi tanamannya. Kebanyakan tanamannya memiliki sejarah dari sebelum tahun 1950-an. Kebun Tua diresmikan pada bulan Agustus 2007. Ini merupakan proyek berkesinambungan yang dilakukan oleh bagian Genetic Resource Centre Norwegia.

Penjelajahan kami berakhir di Kebun Tua. Baru di Kebun Tua inilah, saya kemudian berkeinginan untuk memposting fotonya di media sosial Facebook. Sementara untuk menuliskan dalam bentuk artikel seperti ini adalah ide suami saya. Saya sendiri awalnya malas. Namun suami saya mengingatkan siapa tahu artikel ini berguna bagi orang lain, seperti beberapa artikel saya sebelumnya. Hm...baiklah :)

RBH meninggalkan kesan cukup mendalam bagi saya. Pokoknya harus kembali lagi ke sini, tekad saya. Dari semua kesan itu, ada hal yang membuat gregetan keki. Saat saya melihat kumpulan beraneka bunga tulip yang ditaman dalam satu area berbentuk lingkaran. Cukup besar lingkarannya, berdiameter sekitar 2 meter. Bunga-bunga tulip itu telah mekar (tidak lagi berbentuk kuncup), bahkan ada yang sudah layu. Duh, padahal saya kepingin sekali melihat bunga-bunga tulip dalam bentuk segarnya. Kami memang telat datang ke sana. Seandainya datang sebulan lebih awal, bunga-bunga itu pasti masih cantik dipandang. Bunga tulip memang termasuk yang hadir di awal musim semi. Tapi ya sudah, apa hendak di kata deh :(

Idealnya sih, supaya punya gambaran lengkap tentang taman ini, kami datang di setiap musim yang berbeda. Musim semi pasti beda dengan musim gugur, apalagi dengan musim dingin, saat salju meyelimuti isi taman. Setiap musim dengan keunikannya masing-masing, tentu memiliki keindahannya tersendiri.

Ah, pokoknya gak boleh lupa datang ke sini lagi musim berikutnya ya, Dini!

Sunday, June 19, 2016

Banyak Memberi, Banyak Menerima



Tulisan ini sambungan dari artikel sebelumnya.

Perut lapar sementara perbekalan habis membuat kami memutuskan untuk mampir ke Flakk Pizza and Grill. Posisinya tepat di samping dermaga. Sekedar duduk dan ngemil saja niatnya. Ternyata kegiatan hampir setengah hari memancing cukup menguras energi. Bergegas, kami menuju ke restoran itu.

Dari luar restoran ini terlihat menyenangkan. Auranya mengundang orang untuk mampir. Bercat putih, beraksen lis merah dan hijau, matching sekali. Poster iklan turut menghiasi dinding luar. Menampilkan makanan apa saja yang mereka jual. Ada pizza, kebab, hamburger, kjøttretter dan salad. Semua itu seperti magnet yang menarik para pengendara mobil untuk mampir sejenak. Poster memang sarana iklan yang cukup efektif. Kursi-kursi dari kayu berjejeran di depan dan samping toko. Sinar matahari menyinari tempat itu. Hangat. Orang-orang lebih memilih duduk di luar daripada di dalam. Suasana summer begini memang sangat dinikmati orang-orang Norwegia. Bagaimana tidak, suhu 19°C adalah suhu yang sempurna. Meski matahari bersinar terik, tapi tidak terasa panas. Tapi jangan salah, tau-tau kulit jadi gosong. Justru itu yang mereka incar. Kulit gelap adalah dambaan para bule heuheu

Interior dalam toko tak kalah menarik. Lantai bermotif papan catur, kotak-kotak hitam putih, mengingatkan saya kepada Bali. Etalase rak makanan menyuguhkan berbagai cemilan seperti coklat, permen, roti dan kue. Di meja pemesanan terpampang berbagai menu berikut harganya. Di sana berdiri penjaga kasir (mungkin juga pemilik toko) dengan seragam berwarna merah. Dari rupa wajahnya, agaknya ia orang Turki. Dengan senyum hangat dan ucapan assalamu'alaikum, ia menyapa kami. Senangnya bertemu sesama Muslim di negara ini. Alhamdulillah, jadi yakin juga kalau makanan yang dijualnya pasti halal.

Kami mulai memilih menu. Kebetulan ada kebab, favoritnya anak-anak. Sepertinya memesan 2 porsi untuk berempat cukup, karena biasanya porsinya besar. Eh, si penjaga kasir malah bilang, cukup 1 porsi aja karena kebab yang kami pilih porsinya besar. Ya sudahlah kami menurut aja. Jadi cuma dipesan 1 porsi kebab dan 2 botol minuman soft drink.

Sambil menunggu pesanan datang, kami berbincang, membahas kegiatan memancing tadi. Tertawa -tawa mengingat peristiwa Si Sulung yang berhasil "mengalahkan" 3 orang pemancing dewasa bertubuh kekar. Tak lama pesanan datang. Diantar oleh gadis Turki yang cantik. Dan ternyata kebabnya besar sekali. Sebesar tampah! Ini kebab terbesar yang pernah kami temui. Dimakan berempat pun tidak mungkin habis.  Kejutannya masih ada lagi. Sang pelayann cantik memberi bonus sekotak besar kentang goreng. "Ini bonus dari kami", katanya. Alhamdulillah, rejeki munggahan hari ini banyak sekali. 

Sambil menyantap kebab yang lezat itu, kami mengira-ngira gerangan apa yang membuat kami diberi bonus. Sebagai sesama Muslim kah? Sebagai hadiah menjelang Ramadhan kah?Ah, apapun itu kami mensyukuri saja. Tapi hati ini meyakini bahwa rejeki yang diberikan kepada orang lain, pasti akan kembali pada si pemberi

Tak lama, sekitar 10 menit kami menyantap hidangan, restoran mulai ramai. Sebelumnya, cuma kami pengunjung yang ada di dalam. Sekelompok remaja tanggung, pasangan muda-mudi, sampai keluarga dengan anak-anak kecil mengantri menunggu giliran memesan makanan. Antriannya cukup panjang. Dimulai dari meja pesanan sampai ke pintu masuk. Ramai!

MasyaAllah, saya langsung meyakini ramainya pengunjung ini adalah salah satu efek bonus yang penjual berikan kepada kami. Semakin banyak berbagi, semakin banyak menerima. Semakin banyak berbagi, semakin kaya akan rejeki. Semua itu bukanlah sekedar teori. Meski sulit dijelaskan secara ilmiah, tapi kenyataannya sudah banyak bukti orang yang gemar berbagi tidak akan menjadi miskin, justru ia semakin kaya. Saat berbagi, apa yang dibagikan tidak akan berkurang. Justru akan bertambah. Minimal tumbuh rasa bahagia di dalam hati, efek paling cepat, paling egois dari berbagi.

Alhamdulillah, hari ini satu lagi pelajaran kami dapatkan. Kejadian di depan mata ini menjadi contoh yang baik sekali buat anak-anak. Semoga selalu terpatri dalam benak dan hati mereka bahwa berbagi tidak akan pernah merugi, justru mendatangkan keuntungan dan kebahagiaan, jika dilakukan dengan ikhlas. InsyaAllah.



                                                                                                    

Wednesday, June 8, 2016

Bukan Munggahan Biasa

Si Sulung beraksi dengan kailnya. Foto: koleksi pribadi
Sudah lama gak menulis, rasanya susah juga. Otot-otot tangan terasa kaku. Mandeg. Banyak kata di pikiran yang gak bisa tertuang. Keadaan ini tak boleh dibiarkan lama. Jadi meski sekenanya, yang penting menulis kan heuheu.

Oke, saya mau cerita aja pengalaman munggahan kami sekeluarga sebelum Ramadhan. Munggahan yang mepet banget. H-1 Ramadhan. Munggahan ini bisa dibilang munggahan yang tak biasa. Munggahan sekalian piknik. Outdoor activity bahasa kerennnya. Outdoor activity sudah lama menjadi kegiatan rutin kami sekeluarga, bahkan semenjak masih tinggal di Indonesia. Apalagi sejak tinggal di Norwegia yang terkenal dengan keindahan alamnya. Kalo gak ber-outdoor activity rasanya rugi banget.

Maka diagendakanlah piknik di alam terbuka ini. Laut menjadi pilihan. Selain anak-anak bisa bermain air -sekedar menuntaskan kangen pada pantai di tanah air-, orang tua pun bisa memancing ikan. Untuk memancing, di Trondheim ada aturan tertulisnya. Memancing di danau dikenai tarif sebesar 70 Kr atau hampir setara  Rp. 140.000,- per orang. Sementara di laut tidak dikenakan biaya. Tempo hari kami pernah memancing di danau dengan hasil nihil alias tidak membawa ikan seekor pun. Rugi banget hikss... Selidik punya selidik, ternyata kesalahannya ada pada umpan yang tidak tepat.

Area yang menjadi pilihan  untuk munggahan kali ini bernama Flakk. Cukup jauh juga dari tempat tinggal kami di Nardo, jaraknya sekitar 18 Km. Selain lokasi dermaga ada di sini, Flakk juga dikenal sebagai tempat kemping. Wah, asyiknya, sudah lama kami berencana kemping di alam terbuka, namun belum juga terealisasi. Maka diniatkan tujuan ke sana sekalian survey juga.

Perjalanan menuju Flakk sangat menyenangkan. Menyusuri pinggir fjord (laut yang menjorok ke darat), meluncur di jalanan mulus, melewati lereng tebing bebatuan alami, pohon dan bunga yang mulai tumbuh subur, burung camar beterbangan dan saling bersahutan, membuat saya sepenuh hati menikmatinya. Dari semua pemandangan yang paling berkesan adalah saat menyusuri pinggir fjord. Indah sekali! Paduan view kecantikan alam dan kota metropolitan yang modern membuat siapa pun betah berada di sini.

Memasuki Flakk lagi-lagi pemandangan indah terhampar di depan kami. Hijaunya ladang gandum, rumah-rumah bergaya khas Eropa, ditambah laut berwarna biru yang terlihat dari kejauhan. Duh, pemandagan yang sering saya lihat di kalender nih hehe...Bunga-bunga liar bertebaran di mana-mana. Dandelion, si bunga gigi singa yang paling awal hadir di musim semi, segera tergantikan oleh Yellow Poppy. Sama-sama berwarna kuning memikat. Pergantian bunga menjadi keunikan tersendiri di musim ini. Tak sabar ingin tau, setelah Poppy bunga apa lagikah yang akan muncul?

Pemandangan yang "simple" tapi indah ya? Foto: koleksi pribadi

Sampai di dermaga, demi melihat kapal besar yang bagus, anak-anak kepingin naik. Walah, niat semula kan cuma hendak memancing, ini kok malah minta naik kapal! Namanya sayang anak, Pak Suami lalu mencari informasi. Ternyata naik kapal itu gratis! Wah, senangnya. Lumayan kan, pengalaman berharga naik kapal bagus walau cuma untuk menyeberang saja. Kapal ini tidak cuma bagus, tapi juga bersih. Dilengkapi dengan sarana bermain anak-anak, kursi yang nyaman, TV dan fasilitas lain. Salman, Si Bungsu yang paling terlihat menikmati dengan antusias. Dia duduk sambil tertawa-tawa senang. Matanya memandang keluar jendela. Saat bosan, bersama kakak dan ayahnya, mereka bermain di dek kapal. Sementara ibunya apdet status di Faceboook hehe

Suasana kapal yang nyaman. Foto: koleksi pribadi
Dandelion yang siap terganti dengan bunga lain. Foto: koleksi pribadi
30 menit kemudian kapal sampai di Rørvik, Nord Trøndelag, Provinsi tetangga kami, Sor Trøndelag. Pemandangannya juga sama indahnya. Semakin hari saya semakin memahami kenapa Norway menjargonkam dirinya dengan tagline Powered by Nature. Alam di negara ini memang indah sekali.

Kami lalu mencari tempat untuk membuka bekal makan siang. Alif, Si Sulung sudah kelaparan. Eh tapi bekal gak bisa langsung dimakan nih, harus dibakar dulu. Kami memang berniat barbeque di pinggir pantai. Rasanya enak banget makan sate hangat di udara sejuk begini. Sambil menunggu sate dibakar, anak-anak bermain air di pinggir pantai. Tak bisa lama-lama juga karena airnya dingin. Pantas saja bule-bule Eropa sangat menikmati berenang di pantai Indonesia yang hangat.

Selesai menikmati sate, sholat Dzuhur dan membereskan perlengkapan bakar membakar sate, kami langsung memancing. 3 buah alat pancing sudah dipersiapkan. Untuk Pak Suami, Alif dan Salman (biasanya dilanjutkan dengan ibunya). Kali ini umpan yang sudah disiapkan adalah udang segar. Nasib baik sedang berpihak pada kami. Cuma butuh 20 menit saja, 3 ekor ikan berhasil didapat. Alhamdulillah, rejeki munggahan nih.

Selesai memancing di Rørvik, hari masih siang menenjelang sore. Kami lalu berniat memancing lagi di Flakk. Ingin tau pengalaman memancing di sana. Naik kapal kami menuju Flakk. Lagi-lagi gratis. Kali ini kapal cukup ramai oleh kelurga dejgan anak-amak kecil. Sepertinya mereka baru selesai berakhir pekan di Rørvik. Saya suka suasana seperti ini. Anak-anak bercanda dan tertawa. Ah, indahnya dunia anak yang tanpa beban ya.

Beda tempat, beda peruntungan. Di Flakk, meski sudah menunggu hampir 1 jam, ikan tak jua di dapat. Berpindah-pindah posisi, berganti umpan, hasilnya tetap nihil. Sementara waktu sudah menunjukkan waktu sholat Ashar. Menggelar sajadah, saya sholat di pinggir dermaga. Sempat menjadi tontonan penumpang kapal yang lewat. Hmm...biarlah, sekalian dakwah juga kan.

Karena kail tak juga ditangkap ikan, Si Sulung melontarkan ide agar kami kembali ke Rørvik. Siapa tau bisa dapat ikan lagi di sana. Toh naik kapalnya gratis. Boleh juga idenya, tapi waktu sudah terlalu sore. Lain kali saja ya, Nak. Ia pum menurut. Kami sudah capek dan lapar juga sore itu.

Bersambung ke sini :)











Wednesday, February 24, 2016

Saat Bahasa dan Makanan Menyatukan Kami

Foto: FB Kattem Skole


Hari Rabu, 17 Februari 2015 adalah hari yang sibuk buat saya. Bagaimana tidak, hampir seharian saya membuat kue-kue tradisional khas Indonesia. Kue-kue tersebut akan dibawa untuk dimakan bersama-sama pada perayaan Morsmåldagen atau Mother Tounge Day yang diselenggarakan oleh kelasnya putra bungsu saya, Salman, yang duduk di kelas 2 Sekolah Dasar Kattem Skole, Trondheim, Norwegia.

Jujur saja, saya baru pertama kali mendengar istilah itu. Alhamdulillah, ini mungkin salah satu berkah tinggal di luar negeri ya, wawasan saya sedikit banyak bertambah. Rasa penasaran membawa saya mencari apa dan bagaimana Mother Tounge Day itu. Mulailah saya mencari via mbah kesayangan, Mbah Google. Lalu bertemulah dengan link ini. Hmmm...oke, sekarang saya sudah punya gambaran seperti apa acaranya nanti. Nampaknya akan seru, karena pada acara yang biasanya dirayakan secara Internasional setiap tanggal 21 Februari itu, akan dikenalkan berbagai bahasa dan makanan tradisional khas negara masing-masing siswa. Saya pun langsung bersemangat. Exciting banget!

Kami pun berdiskusi makanan apa yang akan dibawa. Lemper langsung menjadi pilihan pertama. Ketan isi ayam dengan bungkus daun pisang, cukup unik kan? Belum pernah saya lihat kue berbungkus daun di sini. Selain lemper apa ya? Saya pun mengecek persediaan bahan makanan di dapur. Ternyata saya punya 2 bungkus tepung ketan. Oke, saya bikin onde-onde aja deh. Selain bentuknya yang imut-imut bulat bertabur wijen, onde-onde juga cemilan favoritnya si bungsu waktu kami masih tinggal di Indonesia. Biasanya saya tak pernah repot membuat onde-onde karena yang menjual banyak sekali. Tapi kali ini saya harus membuatnya sendiri. Syukur alhamdulillah teknologi sangat memudahkan kehidupan manusia. Berbekal tutorial via youtube, saya pun bisa membuat onde-onde untuk pertama kali dengan sukses. Saya ikuti betul instuksinya, seperti ukuran gula yang tepat untuk kulit onde. Kandungan gula yang tidak pas akan membuat onde-onde meletus saat digoreng. Alhamdulillah gak ada onde yang meletus, meski ada beberapa yang gosong hehe... Lemper dan onde-onde pun siap diangkut ke sekolah!

Sekitar pukul 17.10 CET, usai menunaikan sholat maghrib kami berangkat ke sekolah si bungsu. Kami sengaja datang lebih awal supaya tidak terlambat dan punya waktu untuk melihat-lihat suasana di sana. Undangan pukul 18.00, kami tiba pukul 17.45. Ternyata sudah banyak yang hadir. Orang Norwegia memang sangat tepat waktu kalo diundang. Lebih baik datang lebih awal dan menunggu daripada terlambat.

Saat tiba di sekolah, kami disambut oleh seorang guru dengan ramah. Agak surprise juga karena ia memakai turban dan syal yang menutupi lehernya. Sebelumnya saya belum pernah bertemu guru itu. Namun saya yakin ia seorang Muslim. Bu guru itu, yang belakangan saya ketahui bernama Khayla, menyampaikan informasi dalam bahasa Bøkmål (bahasa nasional Norwegia) agar kami ke ruang kelas untuk meletakkan makanan yang dibawa. Seperti biasa, dengan kalimat pamungkas saya menjawab "I'm sorry but I can not speak Norwegian". Lalu ia pun menjelaskan dalam bahasa Inggris. Bahkan kami sampai diantar ke dekat kelas karena saya lupa lokasi kelas si bungsu.

Sampai di kelas, saya melihat ada 2 kelompok anak-anak sedang berlatih untuk pementasan. Sebelumnya si bungsu sudah bercerita kalo ada sekitar 2-3 kali mereka berlatih sebelum hari H. Saya melihat gaya berlatihnya santai sekali. Mereka semua duduk mengelilingi sang guru. Padahal waktu pementasan, kegiatannya berdiri semua, gak ada duduknya. Dari penglihatan sekilas saya, terbayangkan sistem pembelajaran dimana guru mengutamakan kenyamanan siswanya.

Saya lalu segera meletakkan makanan di meja yang telah disiapkan. Sudah banyak makanan tersaji. Tapi kebanyakan masih ditutup oleh alumunium foil atau plastik wrap. Saya pun foto-foto sebentar. Tak mau terlewatkan momen sedikitpun hehe...Gak lama kok, cuma sekitar 5 menit, lalu saya,suami dan si sulung menuju ruang aula tempat acara berlangsung.

Makanan yang masih tertutup

Pukul 18.00 tepat acara dimulai. Dua orang siswa perempuan menjadi hostnya. Keseluruhan acara dibawakan dalam bahasa Norwegia. Saya bisa menangkap sedikit saja. Diantaranya ucapan selamat datang. Kemudian iring-iringan siswa kelas 2 memasuki ruangan. Tangan mereka melambai-lambai ke atas diiringi lagu film Frozen, Let It Go, yang dinyanyikan dalam 25 bahasa berbagai negara. Lagunya seperti apa, bisa diklik di sini.

Selanjutnya pementasan lagu dan tarian dari berbagai negara. Ada 12 negara di kelas 2 ini. Indonesia, Norwegia, Vietnam, Polandia, Syria, Somalia, Irak, Italia, Portugal, Maroko, Kurdistan dan Rumania. Ada 3 lagu dan tarian yang dibawakan anak-anak. Lagu "Brother John" diiringi petikan gitar ciamik guru kelas Mr. Trond, lagu "Kepala Pundak Kaki Lutut" yang bikin saya bengong karena ini ternyata lagu internasional berbagai negara, buka lagu asli Indonesia, dan satu lagi saya lupa lagu apa heuheu... Semua lagu dinyanyikan dalam 12 bahasa. Keren ih guru dan siswa kelas ini. Impresif banget!

Pementasan anak-anak dalam 12 bahasa

Keseluruhan pementasan tidak terlalu lama, sekitar 30-45 menit saja. Acara-acara di sekolah ini memang selalu padat, to the point, gak kebanyakan acara seremoninya. Lalu tibalah di akhir acara. Sang host menyampaikan informasi yang saya tidak tahu persisnya seperti apa. Tapi kira-kira seputar makanan karena ada disebut kata "mat" (makanan). Lalu para hadirin pun bubar. Saya dan suami berniat mengikuti saja kemana para hadirin akan pergi. Namun kemudian Khayla menghampiri dan mananyakan apakah kami mengerti apa yang disampaikan pembawa acara. Spontan saya katakan tidak. Mendingan jujur kan, daripada bilang mengerti tapi kenyataannya gak mengerti apa-apa. Lalu ia menjelaskan ada instruksi untuk menuju ruang kelas untuk mencicipi makanan yang dibawa oleh semua siswa. Ah asyik, ini dia saat yang ditunggu-tunggu! Para orang tua diwajibkan untuk bertanggung jawab mengawasi anaknya masing-masing.  Sekalian saja saya bertanya apa boleh saya mengambil gambar makanan dan suasana di kelas nanti. Khayla menjawab boleh, asal tidak mengambil gambar individu. Oke, noted, Khayla^^

Sampai di ruangan kelas, para orang tua murid sudah mengantri mengambil hidangan. Piring, sendok, garpu, pisau plastik disediakan. Kue-kue dan berbagai cemilan cantik pun langsung menyergap mata saya. Bingung memilihnya. Semua tampak lezat. Aduh nyobain yang mana dulu yaaa? Akhirnya saya pun memilih beberapa kue yang manis dulu. Ada cup cakes, roti kering keju, roti bakar, cookies dan sejenis kue bantal kalo di Indonesia. Banyak juga dalam satu piring. Begitu sampai di tempat duduk, agak malu juga karena orang-orang Eropa tampak minimalis piringnya. Cuma ada satu jenis kue saja! Jadi rupanya, orang-orang sini itu terbiasa mengambil seperlunya. Habiskan yang ada di piring, kalau kurang silakan tambah lagi. Hiksss maluuuu.... tapi setidaknya kami dapat ilmu lagi malam itu hehe...

Suasana mengantri mengambil hidangan

Lalu perburuan makanan saya berlanjut ke yang rasanya asin/gurih. Saya pilih Italian pastasalat, mie goreng, spaghetti, kebab, nasi siram kacang ala Kurdistan, kefta (sejenis perkedel daging tanpa kentang asal Maroko). MasyaAllah, rasa yang berbeda-beda, unik dan enak.  Sayang tidak semua kue ada nama dan asal negaranya, jadi tidak semua kita tau asal makanan itu darimana. Memang sedari awal, instruksi dari sekolah hanya dimohon mencantumkan bahan yang mengandung kacang tanah saja, kuatir ada yang alergi.

Dari berbagai hidangan, ada yang laku keras cepat habis. Ada yang sampai acara selesai, masih banyak saja. Dari pengamatan sekilas saya, kue yang laku keras itu yang manis dan berwarna menarik. Cup cakes paling laris! Ya namanya juga anak-anak ya, sukanya yang manis-manis. Ada juga yang meski berwarna menarik menyegarkan mata, namun tak laku karena mengandung "pork". Ya, sekitar 60% siswa kelas 2 itu Muslim ternyata. Pork, pig, pepperoni, bacon, ham pada makanan tentu saja dihindari.

Semua nampak lezaaat
Kalau ditanya apa favorit hidangan malam itu, saya agak kesulitan menjawab. Saya suka dessert dari Irak (Baghdad). Warnanya oranye karena menggunakan wortel mentah. Manis dan segar. Seperti wajik tapi jenis "raw" nya gitu hehe. Saya juga suka puding asal Norwegia. Disiram saus stroberi, puding dan sausnya tidak terlalu manis. Enak banget, cocok dilidah saya. Kemudian saya juga suka chicken spring roll. Saya juga suka Italian pastasalat. Ada juga makanan asal Rumania yang unik dan enak. Terbuat dari daging sapi yang diblender halus, kental aroma pasta tomat yang asam-asam segar gitu, ada juga rasa rempahnya yang asing buat saya, dibungkus dengan daun tipis dan gak tau namanya. Ah, sayang saya tak sempat mengambil gambarnya. Suami saya sempat bertanya pada pembuatnya, untuk menanyakan apa isinya kuatir meengandung daging babi. Sayang sekali banyak yang tidak tahu karena tidak ada tulisannya.

Sudah dicoba semua nih kayaknya. Waktunya pulang. Sebelum pulang kami sempat berbincang dulu dengan Khayla dan Trunn. Ternyata Khayla berasal dari Palestina. Alhamdulillah, kesampaian juga cita-cita bertemu saudara dari sana. Jadi mengharu biru deh. Apalagi saat Khayla memeluk saya sambil mengatakan "sister" dan menitipkan salam buat teman saya di sini yang ia kenal. Saya titip Salman ya, my sister Khayla. Sampai bertemu lagi di acara menarik selanjutnya^^

Bersama Khayla, guru Salman



Friday, February 19, 2016

Kembali Ke Dalam Pelukan Islam


Foto: Håkon Elliasen/NRK

Beberapa hari yang lalu guru mengaji saya memposting sebuah link yang menceritakan kisah seorang wanita muda berkewarganegaraan Norwegia yang menemukan cahaya Islam. Link ini milik sebuah stasiun televisi pemerintah Norwegia, NRK. Artikel di link tersebut merupakan hasil wawancara Jurnalis NRK, Elise Rønnevig Andersen, dengan Marita Johnsen (21 tahun) yang secara terbuka mengungkapkan kisah hijrahnya. Link yang ditulis dalam bahasa Norwegia ini langsung menarik perhatian saya. Stasiun televisi milik pemerintah yang mayoritas warganya beragama kristen tapi menayangkan berita tentang hijrahnya mantan penganut agama Kristen ke Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Norwegia menganut sistem demokratis, tidak mendiskreditkan suatu agama minoritas di negerinya. Melalui bantuan Google Translate, pelan-pelan saya mulai memahami isi artikel. Berikut ini saya sarikan kisahnya ya.

Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan Islam di kalangan pemuda Norwegia menunjukkan hal yang siginifikan. Menurut Ketua Muslimsk Union Adger (Perhimpunan Perguruan Tinggi Muslim), Akmal Ali, setidaknya ada sekitar 30 orang dari daerah Selatan Norwegia yang telah masuk Islam. Peneliti Islam Norwegia, Kari Vogt memperkirakan ada sekitar 1500 orang masuk Islam sekitar 5-6 tahun belakangan. Peningkatan ini paling kelihatan di kalangan pemuda. Namun untuk kisah Marita, Kari melihat sesuatu yang unik dan berbeda dari banyak mualaf lainnya. Ia tahu ada banyak pemeluk Kristen yang berpindah keyakinan, namun bukan dari kalangan gereja tertutup seperti Marita.

Marita dibesarkan di Menigheten Samfundet (masyarakat gereja) di Kristiansand, kota terbesar ke-5 di Norwegia. Menigheten Samfundet sering disebut sebagai salah satu gerakan Kristen yang paling tertutup. Gerakan Evangelical - Lutheran ini didirikan pada tahun 1980 oleh Bemt Lomeland. Anggotanya sering disebut "lomendere" dengan jumlah 1.350 orang. Gereja kelompok ini terletak di Kristiansand dan Egersund. Mereka juga mendirikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah bagi para jemaatnya. Marita mengatakan ia mendapatkan lingkungan yang stabil aman dengan aturan yang ketat. Namun ia merasa tidak pernah menemukan tempatnya di sana. Ia merasa jiwanya tidak di sana. 

Pada usia 16 tahun, Marita berkenalan dengan pemuda Muslim. Kemudian mereka berpacaran. Sejak saat itu muncullah rasa ingin tahunya dan bertanya "Apa itu Islam?". Ia mulai tertarik. Hari-harinya dihabiskan dengan membaca informasi tentang Islam di media online. Semua dilakukan secara sembunyi-sembunyi selama 6 bulan. Hati dan pikirannya mulai terbuka. Ia bisa menerima ajaran ini. Tak lama kemudian ia memutuskan menjadi seorang mualaf. 

Tibalah saatnya ia harus menceritakan keputusannya memeluk Islam kepada keluarganya. Saat yang paling berat. Ia tahu apa yang aka ia sampaikan tidak akan diterima dengan baik. Rasanya seperti menyampaikan masalah besar yang buruk sekali. Keluarganya pasti akan menentang. Mereka pasti akan malu. Keluarganya pasti tidak menerima keputusan ini. Namun bagaimanapun keputusannya tetap harus disampaikan. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Toh, lambat laun semua akan terang benderang. Lalu ia pun bercerita pada ibunya. Di luar dugaan, ibunya bisa menerima. Inilah yang saya suka dari para orang tua di Norwegia, mereka sangat penuh kasih pada anak-anaknya. Orang tua yang menghormati anak-anaknya. Orang tua yang menomor satukan kebahagiaan anak-anaknya.

"Ini adalah hal yang sangat sulit buat saya, namun saya bisa menerima. Tapi bagaimana reaksi orang-orang di lingkungan kami? Bagaimana saya menjawab pertanyaan mereka? Sementara saya adalah orang yang senang bergaul dan sering bertemu banyak orang di kota ini" kata Brynhild Johsen, ibunda Marita yang masa mudanya juga aktif di Menigheten Samfundet.

Berita hijrahnya Marita kembali kepada Islam segera menyebar dengan cepat di kalangan Meningheten Samfundet. Mereka berusaha menbujuk Marita agar kembali memeluk Kristen, namun Marita menolak. Keputusannya sudah bulat. Tekadnya sudah kuat untuk terus memeluk Islam. Anggota dewan Meningheten Samfundet, Sigmund Aamodt, yang tahu sejarah Marita sejak kecil merasa sedih. Tapi akhirnya ia mengatakan bahwa hal itu merupakan pilihan masing-masing individu. Tidak ada yang berhak mengintervensi.

"Orang-orang mungkin mengira bahwa hidup saya banyak berubah. Tapi bagi saya, ini tak lebih dari proses menemukan diri saya sebenarnya. Perbedaan yang paling menyolok saat ini adalah saat ini saya beribadah 5 kali sehari. Berbagai aturan Islam harus saya jalankan. Namun yang terpenting dari menjadi seorang muslim adalah fokus menjadi orang yang lebih baik bagi diri sendiri dan orang lain." begitu kata Marita.

Marita banyak mengungkapkan perihal dirinya di blog pribadi. Melalui blog itu, ia kerap berbagi pengalaman tentang kehidupannya sebagai seorang Muslim. Ia pun sering menerima respon dari pembaca blognya. Banyak pemuda yang ingin tahu tentang Islam. Namun tak sedikit yang memberi kecaman. Beberapa orang diantara mereka menyebut dirinya telah gagal. Saat ia keluar rumah mengenakan jilbab, orang-orang lagi-lagi memberi komentar miring tentangnya. Akhirnya empat bulan yang lalu ia memilih untuk menanggalkan jilbabnya. Ia merasa tidak menemukan alasan yang tepat untuk memakai jilbab, selain memamerkan bahwa ia adalah Muslim yang taat. Menurutnya, adalah salah jika memakai jilbab karena faktor penilaian orang lain.

Seorang pemuda Norwegia yang dikenal lewat media karena pemikirannya dalam berbagai diskusi memerangi ekstremisme, Yousef Assidiq (23 tahun), mengatakan bahwa hampir setiap hari ia melakukan kontak dengan para pemuda. Menurutnya Islam saat ini tengah berkembang pesat di Norwegia. Banyak orang yang penasaran dengan Islam dan bertanya kepadanya. Kebanyakan dari mereka adalah anak muda yang masuk Islam disebabkan pertanyaan esensial dalam hidupnya.

Yousef Assidiq berasal dari Notteroy. Ia masuk Islam pada tahun 2009 dan mengubah namanya dari Per Bartho Hansen. Assidiq menyebut dirinya seorang komentator sosial. Ia sering berbicara masalah fundamentalis Islam. Ia bisa memahami keputusan Marita melepas jilbabnya. Menurutnya, berpakaian selayaknya seorang Muslim tidak lantas menjadikan dirinya lebih baik dari Muslim lainnya.

Keputusan Marita menanggalkan jilbab ini mendapat respon dari Imam Besar di kotanya. Melalui berita di link NRK, Imam telah memanggilnya dan menjelaskan tentang ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadist tentang kewajiban mengenakan jilbab bagi Muslimah. Banyaknya respon, salah satunya dengan menelpon dan terkesan ngotot, membuat Marita tidak nyaman. Ia pun bersikukuh belum akan memakai jilbab lagi. Mengenai sikap Marita, salah satu dari 3 Imam di Mesjid Posebyen di Kristiansand, Abdikadir Mohamed Yussuf (49 tahun) mengatakan tidak ada orang yang bisa memaksa orang lain. Setiap orang bebas memilih jalan hidupnya masing-masing. Ia mengerti bahwa banyak orang memiliki pendapat berbeda tentang jilbab. Namun jelas dalam Al-Qur'an disebutkan tentang perintah mengenakan jilbab bagi Muslimah.

Marita menyampaikan pemikirannya bahwa geliat anak muda Norwwegia dalam mengenal Islam patut diapresiasi. Sayangnya belum banyak afiliasi keislaman di Norwegia. Semoga ke depannya akan bermunculan afiliasi yang akan memancarkan cahaya Islam di negeri para viking ini.

Saat ini Marita menjadi orang tunggal untuk dua anak perempuannya, Sofia (2 tahun) dan Sumaya (11 bulan). Tidak dijelaskan kapan dan dengan siapa ia menikah. Semoga ia segera menemukan pendamping seorang Muslim yang akan membimbingnya lebih mengenal Islam. Membantunya mendekap erat hidayah Allah. Menjadi jalan baginya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin ya rabba'alamiin...



Referensi:
- http://www.nrk.no/sorlandet/xl/fra-kristen-bevegelse-til-islam-1.12732044
- http://www.nrk.no/sorlandet/far-hijab-refs-av-imamer-1.12749417
- http://lykkeligsommamma.blogg.no/
- Wikipedia




Tuesday, February 16, 2016

Emak-Emak Modis

Lokasi foto: Supermarket Kiwi Moholt, Trondheim, Norwegia


Saat mendengar kata modis, seringkali yang terbayang di benak kita adalah seseorang yang berpenampilan mengikuti mode masa kini. Gaya yang sedang in. Berpakaian selalu matching, antara pakaian atas, pakaian bawah, sepatu, tas dan aksessoris, semuanya serasi. Padahal modis yang saya maksud di atas bukan itu. Kata modis disini adalah singkatan dari MOdal DISkon. Ya saya adalah salah satu dari emak-emak modis yang suka sekali dengan barang-barang yang sedang diskon. Emak-emak yang selalu mencari tau ada diskon apa yang lagi happening saat ini. Pokoknya emak-emak banget deh hehe

Suka dengan sesuatu yang didiskon bukan hanya saat saya bermukim di negeri para viking Norwegia saja, tapi sudah sejak lama, sejak saya masih tinggal di Indonesia. Beberapa negara yang pernah saya kunjungi dan tentu saja Norwegia, selalu saja mengadakan program diskon dalam menjual produk mereka. Kesimpulan sementara saya, hampir semua negara suka mengadakan program diskon. Ya memang, menjual barang dengan harga jauh di bawah harga pasar adalah salah satu strategi marketing paling ampuh di dunia.

Pernah suatu ketika  ada teman yang berkata seperti ini "Ngapain beli barang diskonan? barang yang dijual kan barang yang udah jelek". Hmm... gak sepenuhnya benar. Di sini saya pernah menemukan buah rambutan yang kondisinya sudah jelek tapi tidak didiskon. Atau sebaliknya, barang yang didiskon adalah barang yang kualitasnya masih sangat baik. Jadi ya lebih jeli aja dalam memilih produk diskon.

Setelah mencermati berbagai fenomena barang diskon ini, menurut saya setidaknya ada dua hal kenapa suatu barang itu diberi diskon. Pertama, menghabiskan stok. Sementara stok baru sudah datang, stok lama masih ada. Daripada kondisi semakin buruk (terutama untuk sayuran/buah segar), lebih baik dijual murah. Tak apa tak untung besar, yang penting tak rugi. Kedua, diskon menjadi sarana promosi bagi produk lain. Misalnya, karena tertarik dengan harga jeruk, terkadang saya bela-belain belanja di supermarket A. Di sana gak mungkin saya hanya membeli jeruk saja kan? Yang kemudian terjadi adalah belanja barang-barang lain yang semula tidak ada dalam rencana, Lha wong rencananya cuma beli jeruk, kok jadi beli melon, anggur dan kiwi sih hikss...

Soal diskon ini, Norwegia, bisa dibilang surganya diskon. Hampir setiap hari ada diskon. Belum lagi jika ada momen spesial seperti Natal, Tahun Baru atau pergantian musim. Ada saja nama diskonnya. Seperti Crazy Day yang diselenggarakan setiap 2 kali dalam setahun, bulan Maret dan Oktober. Jauh-jauh hari sebelum hari H, iklan sudah bertebaran dimana-mana. Dan begitu tiba waktunya, jangan tanya penuhnya mall-mall tempat Crazy Day berlangsung. Benar-benar crazy deh :D

Ada lagi istilah Black Friday. Ini adalah pesta diskon yang cuma berlangsung setahun sekali, yaitu setiap hari jumat minggu terakhir di bulan November. Black Friday ini berlangsung sehari setelah hari Thanksgiving. Diskonnya bisa mencapai 80%. Maka jangan heran, kalau pas hari itu banyak orang yang sudah mengantri sedari pagi atau bahkan menginap dari sehari sebelumnya. Miriplah dengan keadaan di Indonesia kan?

Berbagai brosur promosi yang saya terima setiap minggu

Strategi diskon dalam mendongkrak penjualan suatu produk, salah satunya melalui berbagai brosur, pamflet dan iklan di berbagai media, sungguh gencar dilakukan para pebisnis di negeri ini. Seminggu dua kali saya menerima kiriman brosur promosi dari berbagai supermarket, hypermarket, outlet, dan masih banyak lagi. Sebagai emak-emak modis, tentu saya tak melewatkan kesempatan menyapu bersih seluruh isi brosur. Rasanya senang melihat barang-barang yang sedang diskon. Apalagi jika ada barang yangsedang saya cari, wah pasti langsung dicatat dan didatangi tokonya heuheu

Lambat laun, menusia pun bisa mencapai titik jenuhnya. Lama-lama saya bosan juga dengan berbagai promosi. Apalagi kemudian kesadaran mulai menyelinap ke dalam jiwa saya. Betapa selama ini saya sering bersikap boros, serakah dan tidak ada puasnya. Membeli barang yang tidak terlalu saya butuhkan dan sering kali tidak terpakai. Membuang makanan sementara di belahan bumi lain masih banyak saudara saya yang kelaparan. Sungguh berdosanya saya!

Pelan-pelan saya mulai merubah kebiaasaan buruk itu. Tidak semua brosur saya lihat. Setiap akan belanja ke supermarket, saya perhatikan betul barang yang saya beli adalah barang yanhg benar-benar saya butuhkan. Jika ada sisa makanan, sebisa mungkin saya olah kembali menjadi hidangan dengan resep baru yang masih enak dan layak untuk disantap. Alhamdulillah, saya mulai merasakan kenyaman dengan gaya hidup seperti ini. Kemarin itu kemana aja yaa? Ya setidaknya better late than never lah...

Dengan perubahan ini, masih pantaskah saya menyebut diri saya emak-emak modis? Ya, masih aja. Kan setiap belanja membeli barang yang dibutuhkan, saya tetap berusaha mencari produk yang sedang diskon. Ya namanya juga emak-emak hihi...