Tuesday, February 16, 2016

Emak-Emak Modis

Lokasi foto: Supermarket Kiwi Moholt, Trondheim, Norwegia


Saat mendengar kata modis, seringkali yang terbayang di benak kita adalah seseorang yang berpenampilan mengikuti mode masa kini. Gaya yang sedang in. Berpakaian selalu matching, antara pakaian atas, pakaian bawah, sepatu, tas dan aksessoris, semuanya serasi. Padahal modis yang saya maksud di atas bukan itu. Kata modis disini adalah singkatan dari MOdal DISkon. Ya saya adalah salah satu dari emak-emak modis yang suka sekali dengan barang-barang yang sedang diskon. Emak-emak yang selalu mencari tau ada diskon apa yang lagi happening saat ini. Pokoknya emak-emak banget deh hehe

Suka dengan sesuatu yang didiskon bukan hanya saat saya bermukim di negeri para viking Norwegia saja, tapi sudah sejak lama, sejak saya masih tinggal di Indonesia. Beberapa negara yang pernah saya kunjungi dan tentu saja Norwegia, selalu saja mengadakan program diskon dalam menjual produk mereka. Kesimpulan sementara saya, hampir semua negara suka mengadakan program diskon. Ya memang, menjual barang dengan harga jauh di bawah harga pasar adalah salah satu strategi marketing paling ampuh di dunia.

Pernah suatu ketika  ada teman yang berkata seperti ini "Ngapain beli barang diskonan? barang yang dijual kan barang yang udah jelek". Hmm... gak sepenuhnya benar. Di sini saya pernah menemukan buah rambutan yang kondisinya sudah jelek tapi tidak didiskon. Atau sebaliknya, barang yang didiskon adalah barang yang kualitasnya masih sangat baik. Jadi ya lebih jeli aja dalam memilih produk diskon.

Setelah mencermati berbagai fenomena barang diskon ini, menurut saya setidaknya ada dua hal kenapa suatu barang itu diberi diskon. Pertama, menghabiskan stok. Sementara stok baru sudah datang, stok lama masih ada. Daripada kondisi semakin buruk (terutama untuk sayuran/buah segar), lebih baik dijual murah. Tak apa tak untung besar, yang penting tak rugi. Kedua, diskon menjadi sarana promosi bagi produk lain. Misalnya, karena tertarik dengan harga jeruk, terkadang saya bela-belain belanja di supermarket A. Di sana gak mungkin saya hanya membeli jeruk saja kan? Yang kemudian terjadi adalah belanja barang-barang lain yang semula tidak ada dalam rencana, Lha wong rencananya cuma beli jeruk, kok jadi beli melon, anggur dan kiwi sih hikss...

Soal diskon ini, Norwegia, bisa dibilang surganya diskon. Hampir setiap hari ada diskon. Belum lagi jika ada momen spesial seperti Natal, Tahun Baru atau pergantian musim. Ada saja nama diskonnya. Seperti Crazy Day yang diselenggarakan setiap 2 kali dalam setahun, bulan Maret dan Oktober. Jauh-jauh hari sebelum hari H, iklan sudah bertebaran dimana-mana. Dan begitu tiba waktunya, jangan tanya penuhnya mall-mall tempat Crazy Day berlangsung. Benar-benar crazy deh :D

Ada lagi istilah Black Friday. Ini adalah pesta diskon yang cuma berlangsung setahun sekali, yaitu setiap hari jumat minggu terakhir di bulan November. Black Friday ini berlangsung sehari setelah hari Thanksgiving. Diskonnya bisa mencapai 80%. Maka jangan heran, kalau pas hari itu banyak orang yang sudah mengantri sedari pagi atau bahkan menginap dari sehari sebelumnya. Miriplah dengan keadaan di Indonesia kan?

Berbagai brosur promosi yang saya terima setiap minggu

Strategi diskon dalam mendongkrak penjualan suatu produk, salah satunya melalui berbagai brosur, pamflet dan iklan di berbagai media, sungguh gencar dilakukan para pebisnis di negeri ini. Seminggu dua kali saya menerima kiriman brosur promosi dari berbagai supermarket, hypermarket, outlet, dan masih banyak lagi. Sebagai emak-emak modis, tentu saya tak melewatkan kesempatan menyapu bersih seluruh isi brosur. Rasanya senang melihat barang-barang yang sedang diskon. Apalagi jika ada barang yangsedang saya cari, wah pasti langsung dicatat dan didatangi tokonya heuheu

Lambat laun, menusia pun bisa mencapai titik jenuhnya. Lama-lama saya bosan juga dengan berbagai promosi. Apalagi kemudian kesadaran mulai menyelinap ke dalam jiwa saya. Betapa selama ini saya sering bersikap boros, serakah dan tidak ada puasnya. Membeli barang yang tidak terlalu saya butuhkan dan sering kali tidak terpakai. Membuang makanan sementara di belahan bumi lain masih banyak saudara saya yang kelaparan. Sungguh berdosanya saya!

Pelan-pelan saya mulai merubah kebiaasaan buruk itu. Tidak semua brosur saya lihat. Setiap akan belanja ke supermarket, saya perhatikan betul barang yang saya beli adalah barang yanhg benar-benar saya butuhkan. Jika ada sisa makanan, sebisa mungkin saya olah kembali menjadi hidangan dengan resep baru yang masih enak dan layak untuk disantap. Alhamdulillah, saya mulai merasakan kenyaman dengan gaya hidup seperti ini. Kemarin itu kemana aja yaa? Ya setidaknya better late than never lah...

Dengan perubahan ini, masih pantaskah saya menyebut diri saya emak-emak modis? Ya, masih aja. Kan setiap belanja membeli barang yang dibutuhkan, saya tetap berusaha mencari produk yang sedang diskon. Ya namanya juga emak-emak hihi...


10 comments:

  1. Wiih dah berubah jadi emak2 minimalis nih ga kalap diskon lagi wkwkkw...
    Coba buka-buka blog bemorewithless dot com Mak. Blogger cewek oke..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe sedang dalam masa terapi ini, om. Thanks link-nya segera meluncurr ;)

      Delete
  2. Ternyata.....
    Trondheim telah menyadarkanmu ×_×

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menyadarkan dari kalap belanja barang diskon :D

      Delete
    2. Ntar balik jakarta kalap lagi pa nggak ya mbak :D Secara harga2 jadi terasa murah nantinya hihi...

      Delete
    3. Hihi sepertinya akan begitu mbak Ev. :D

      Delete
  3. Mbak dini, bagus tulisannya. Koreksi satu aja, itu yg merubah, diganti mengubah. Setau saya kayak gitu. Soale kata dasare ubah bukan rubah. Hehe... Cmiiw ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih koreksinya mbak Hana...iya ya seharusya ubah. Kalo merubah jadi rubah yak hihi...

      Delete
  4. Wuihhh diskonnya 80%? 😱😱
    Ciieeee yang dah enggak kalap belanja. Hehe... 🎉�🎉🎉�🎉

    ReplyDelete