Friday, February 19, 2016

Kembali Ke Dalam Pelukan Islam


Foto: Håkon Elliasen/NRK

Beberapa hari yang lalu guru mengaji saya memposting sebuah link yang menceritakan kisah seorang wanita muda berkewarganegaraan Norwegia yang menemukan cahaya Islam. Link ini milik sebuah stasiun televisi pemerintah Norwegia, NRK. Artikel di link tersebut merupakan hasil wawancara Jurnalis NRK, Elise Rønnevig Andersen, dengan Marita Johnsen (21 tahun) yang secara terbuka mengungkapkan kisah hijrahnya. Link yang ditulis dalam bahasa Norwegia ini langsung menarik perhatian saya. Stasiun televisi milik pemerintah yang mayoritas warganya beragama kristen tapi menayangkan berita tentang hijrahnya mantan penganut agama Kristen ke Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Norwegia menganut sistem demokratis, tidak mendiskreditkan suatu agama minoritas di negerinya. Melalui bantuan Google Translate, pelan-pelan saya mulai memahami isi artikel. Berikut ini saya sarikan kisahnya ya.

Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan Islam di kalangan pemuda Norwegia menunjukkan hal yang siginifikan. Menurut Ketua Muslimsk Union Adger (Perhimpunan Perguruan Tinggi Muslim), Akmal Ali, setidaknya ada sekitar 30 orang dari daerah Selatan Norwegia yang telah masuk Islam. Peneliti Islam Norwegia, Kari Vogt memperkirakan ada sekitar 1500 orang masuk Islam sekitar 5-6 tahun belakangan. Peningkatan ini paling kelihatan di kalangan pemuda. Namun untuk kisah Marita, Kari melihat sesuatu yang unik dan berbeda dari banyak mualaf lainnya. Ia tahu ada banyak pemeluk Kristen yang berpindah keyakinan, namun bukan dari kalangan gereja tertutup seperti Marita.

Marita dibesarkan di Menigheten Samfundet (masyarakat gereja) di Kristiansand, kota terbesar ke-5 di Norwegia. Menigheten Samfundet sering disebut sebagai salah satu gerakan Kristen yang paling tertutup. Gerakan Evangelical - Lutheran ini didirikan pada tahun 1980 oleh Bemt Lomeland. Anggotanya sering disebut "lomendere" dengan jumlah 1.350 orang. Gereja kelompok ini terletak di Kristiansand dan Egersund. Mereka juga mendirikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah bagi para jemaatnya. Marita mengatakan ia mendapatkan lingkungan yang stabil aman dengan aturan yang ketat. Namun ia merasa tidak pernah menemukan tempatnya di sana. Ia merasa jiwanya tidak di sana. 

Pada usia 16 tahun, Marita berkenalan dengan pemuda Muslim. Kemudian mereka berpacaran. Sejak saat itu muncullah rasa ingin tahunya dan bertanya "Apa itu Islam?". Ia mulai tertarik. Hari-harinya dihabiskan dengan membaca informasi tentang Islam di media online. Semua dilakukan secara sembunyi-sembunyi selama 6 bulan. Hati dan pikirannya mulai terbuka. Ia bisa menerima ajaran ini. Tak lama kemudian ia memutuskan menjadi seorang mualaf. 

Tibalah saatnya ia harus menceritakan keputusannya memeluk Islam kepada keluarganya. Saat yang paling berat. Ia tahu apa yang aka ia sampaikan tidak akan diterima dengan baik. Rasanya seperti menyampaikan masalah besar yang buruk sekali. Keluarganya pasti akan menentang. Mereka pasti akan malu. Keluarganya pasti tidak menerima keputusan ini. Namun bagaimanapun keputusannya tetap harus disampaikan. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Toh, lambat laun semua akan terang benderang. Lalu ia pun bercerita pada ibunya. Di luar dugaan, ibunya bisa menerima. Inilah yang saya suka dari para orang tua di Norwegia, mereka sangat penuh kasih pada anak-anaknya. Orang tua yang menghormati anak-anaknya. Orang tua yang menomor satukan kebahagiaan anak-anaknya.

"Ini adalah hal yang sangat sulit buat saya, namun saya bisa menerima. Tapi bagaimana reaksi orang-orang di lingkungan kami? Bagaimana saya menjawab pertanyaan mereka? Sementara saya adalah orang yang senang bergaul dan sering bertemu banyak orang di kota ini" kata Brynhild Johsen, ibunda Marita yang masa mudanya juga aktif di Menigheten Samfundet.

Berita hijrahnya Marita kembali kepada Islam segera menyebar dengan cepat di kalangan Meningheten Samfundet. Mereka berusaha menbujuk Marita agar kembali memeluk Kristen, namun Marita menolak. Keputusannya sudah bulat. Tekadnya sudah kuat untuk terus memeluk Islam. Anggota dewan Meningheten Samfundet, Sigmund Aamodt, yang tahu sejarah Marita sejak kecil merasa sedih. Tapi akhirnya ia mengatakan bahwa hal itu merupakan pilihan masing-masing individu. Tidak ada yang berhak mengintervensi.

"Orang-orang mungkin mengira bahwa hidup saya banyak berubah. Tapi bagi saya, ini tak lebih dari proses menemukan diri saya sebenarnya. Perbedaan yang paling menyolok saat ini adalah saat ini saya beribadah 5 kali sehari. Berbagai aturan Islam harus saya jalankan. Namun yang terpenting dari menjadi seorang muslim adalah fokus menjadi orang yang lebih baik bagi diri sendiri dan orang lain." begitu kata Marita.

Marita banyak mengungkapkan perihal dirinya di blog pribadi. Melalui blog itu, ia kerap berbagi pengalaman tentang kehidupannya sebagai seorang Muslim. Ia pun sering menerima respon dari pembaca blognya. Banyak pemuda yang ingin tahu tentang Islam. Namun tak sedikit yang memberi kecaman. Beberapa orang diantara mereka menyebut dirinya telah gagal. Saat ia keluar rumah mengenakan jilbab, orang-orang lagi-lagi memberi komentar miring tentangnya. Akhirnya empat bulan yang lalu ia memilih untuk menanggalkan jilbabnya. Ia merasa tidak menemukan alasan yang tepat untuk memakai jilbab, selain memamerkan bahwa ia adalah Muslim yang taat. Menurutnya, adalah salah jika memakai jilbab karena faktor penilaian orang lain.

Seorang pemuda Norwegia yang dikenal lewat media karena pemikirannya dalam berbagai diskusi memerangi ekstremisme, Yousef Assidiq (23 tahun), mengatakan bahwa hampir setiap hari ia melakukan kontak dengan para pemuda. Menurutnya Islam saat ini tengah berkembang pesat di Norwegia. Banyak orang yang penasaran dengan Islam dan bertanya kepadanya. Kebanyakan dari mereka adalah anak muda yang masuk Islam disebabkan pertanyaan esensial dalam hidupnya.

Yousef Assidiq berasal dari Notteroy. Ia masuk Islam pada tahun 2009 dan mengubah namanya dari Per Bartho Hansen. Assidiq menyebut dirinya seorang komentator sosial. Ia sering berbicara masalah fundamentalis Islam. Ia bisa memahami keputusan Marita melepas jilbabnya. Menurutnya, berpakaian selayaknya seorang Muslim tidak lantas menjadikan dirinya lebih baik dari Muslim lainnya.

Keputusan Marita menanggalkan jilbab ini mendapat respon dari Imam Besar di kotanya. Melalui berita di link NRK, Imam telah memanggilnya dan menjelaskan tentang ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadist tentang kewajiban mengenakan jilbab bagi Muslimah. Banyaknya respon, salah satunya dengan menelpon dan terkesan ngotot, membuat Marita tidak nyaman. Ia pun bersikukuh belum akan memakai jilbab lagi. Mengenai sikap Marita, salah satu dari 3 Imam di Mesjid Posebyen di Kristiansand, Abdikadir Mohamed Yussuf (49 tahun) mengatakan tidak ada orang yang bisa memaksa orang lain. Setiap orang bebas memilih jalan hidupnya masing-masing. Ia mengerti bahwa banyak orang memiliki pendapat berbeda tentang jilbab. Namun jelas dalam Al-Qur'an disebutkan tentang perintah mengenakan jilbab bagi Muslimah.

Marita menyampaikan pemikirannya bahwa geliat anak muda Norwwegia dalam mengenal Islam patut diapresiasi. Sayangnya belum banyak afiliasi keislaman di Norwegia. Semoga ke depannya akan bermunculan afiliasi yang akan memancarkan cahaya Islam di negeri para viking ini.

Saat ini Marita menjadi orang tunggal untuk dua anak perempuannya, Sofia (2 tahun) dan Sumaya (11 bulan). Tidak dijelaskan kapan dan dengan siapa ia menikah. Semoga ia segera menemukan pendamping seorang Muslim yang akan membimbingnya lebih mengenal Islam. Membantunya mendekap erat hidayah Allah. Menjadi jalan baginya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin ya rabba'alamiin...



Referensi:
- http://www.nrk.no/sorlandet/xl/fra-kristen-bevegelse-til-islam-1.12732044
- http://www.nrk.no/sorlandet/far-hijab-refs-av-imamer-1.12749417
- http://lykkeligsommamma.blogg.no/
- Wikipedia




0 comments:

Post a Comment