Wednesday, February 24, 2016

Saat Bahasa dan Makanan Menyatukan Kami

Foto: FB Kattem Skole


Hari Rabu, 17 Februari 2015 adalah hari yang sibuk buat saya. Bagaimana tidak, hampir seharian saya membuat kue-kue tradisional khas Indonesia. Kue-kue tersebut akan dibawa untuk dimakan bersama-sama pada perayaan Morsmåldagen atau Mother Tounge Day yang diselenggarakan oleh kelasnya putra bungsu saya, Salman, yang duduk di kelas 2 Sekolah Dasar Kattem Skole, Trondheim, Norwegia.

Jujur saja, saya baru pertama kali mendengar istilah itu. Alhamdulillah, ini mungkin salah satu berkah tinggal di luar negeri ya, wawasan saya sedikit banyak bertambah. Rasa penasaran membawa saya mencari apa dan bagaimana Mother Tounge Day itu. Mulailah saya mencari via mbah kesayangan, Mbah Google. Lalu bertemulah dengan link ini. Hmmm...oke, sekarang saya sudah punya gambaran seperti apa acaranya nanti. Nampaknya akan seru, karena pada acara yang biasanya dirayakan secara Internasional setiap tanggal 21 Februari itu, akan dikenalkan berbagai bahasa dan makanan tradisional khas negara masing-masing siswa. Saya pun langsung bersemangat. Exciting banget!

Kami pun berdiskusi makanan apa yang akan dibawa. Lemper langsung menjadi pilihan pertama. Ketan isi ayam dengan bungkus daun pisang, cukup unik kan? Belum pernah saya lihat kue berbungkus daun di sini. Selain lemper apa ya? Saya pun mengecek persediaan bahan makanan di dapur. Ternyata saya punya 2 bungkus tepung ketan. Oke, saya bikin onde-onde aja deh. Selain bentuknya yang imut-imut bulat bertabur wijen, onde-onde juga cemilan favoritnya si bungsu waktu kami masih tinggal di Indonesia. Biasanya saya tak pernah repot membuat onde-onde karena yang menjual banyak sekali. Tapi kali ini saya harus membuatnya sendiri. Syukur alhamdulillah teknologi sangat memudahkan kehidupan manusia. Berbekal tutorial via youtube, saya pun bisa membuat onde-onde untuk pertama kali dengan sukses. Saya ikuti betul instuksinya, seperti ukuran gula yang tepat untuk kulit onde. Kandungan gula yang tidak pas akan membuat onde-onde meletus saat digoreng. Alhamdulillah gak ada onde yang meletus, meski ada beberapa yang gosong hehe... Lemper dan onde-onde pun siap diangkut ke sekolah!

Sekitar pukul 17.10 CET, usai menunaikan sholat maghrib kami berangkat ke sekolah si bungsu. Kami sengaja datang lebih awal supaya tidak terlambat dan punya waktu untuk melihat-lihat suasana di sana. Undangan pukul 18.00, kami tiba pukul 17.45. Ternyata sudah banyak yang hadir. Orang Norwegia memang sangat tepat waktu kalo diundang. Lebih baik datang lebih awal dan menunggu daripada terlambat.

Saat tiba di sekolah, kami disambut oleh seorang guru dengan ramah. Agak surprise juga karena ia memakai turban dan syal yang menutupi lehernya. Sebelumnya saya belum pernah bertemu guru itu. Namun saya yakin ia seorang Muslim. Bu guru itu, yang belakangan saya ketahui bernama Khayla, menyampaikan informasi dalam bahasa Bøkmål (bahasa nasional Norwegia) agar kami ke ruang kelas untuk meletakkan makanan yang dibawa. Seperti biasa, dengan kalimat pamungkas saya menjawab "I'm sorry but I can not speak Norwegian". Lalu ia pun menjelaskan dalam bahasa Inggris. Bahkan kami sampai diantar ke dekat kelas karena saya lupa lokasi kelas si bungsu.

Sampai di kelas, saya melihat ada 2 kelompok anak-anak sedang berlatih untuk pementasan. Sebelumnya si bungsu sudah bercerita kalo ada sekitar 2-3 kali mereka berlatih sebelum hari H. Saya melihat gaya berlatihnya santai sekali. Mereka semua duduk mengelilingi sang guru. Padahal waktu pementasan, kegiatannya berdiri semua, gak ada duduknya. Dari penglihatan sekilas saya, terbayangkan sistem pembelajaran dimana guru mengutamakan kenyamanan siswanya.

Saya lalu segera meletakkan makanan di meja yang telah disiapkan. Sudah banyak makanan tersaji. Tapi kebanyakan masih ditutup oleh alumunium foil atau plastik wrap. Saya pun foto-foto sebentar. Tak mau terlewatkan momen sedikitpun hehe...Gak lama kok, cuma sekitar 5 menit, lalu saya,suami dan si sulung menuju ruang aula tempat acara berlangsung.

Makanan yang masih tertutup

Pukul 18.00 tepat acara dimulai. Dua orang siswa perempuan menjadi hostnya. Keseluruhan acara dibawakan dalam bahasa Norwegia. Saya bisa menangkap sedikit saja. Diantaranya ucapan selamat datang. Kemudian iring-iringan siswa kelas 2 memasuki ruangan. Tangan mereka melambai-lambai ke atas diiringi lagu film Frozen, Let It Go, yang dinyanyikan dalam 25 bahasa berbagai negara. Lagunya seperti apa, bisa diklik di sini.

Selanjutnya pementasan lagu dan tarian dari berbagai negara. Ada 12 negara di kelas 2 ini. Indonesia, Norwegia, Vietnam, Polandia, Syria, Somalia, Irak, Italia, Portugal, Maroko, Kurdistan dan Rumania. Ada 3 lagu dan tarian yang dibawakan anak-anak. Lagu "Brother John" diiringi petikan gitar ciamik guru kelas Mr. Trond, lagu "Kepala Pundak Kaki Lutut" yang bikin saya bengong karena ini ternyata lagu internasional berbagai negara, buka lagu asli Indonesia, dan satu lagi saya lupa lagu apa heuheu... Semua lagu dinyanyikan dalam 12 bahasa. Keren ih guru dan siswa kelas ini. Impresif banget!

Pementasan anak-anak dalam 12 bahasa

Keseluruhan pementasan tidak terlalu lama, sekitar 30-45 menit saja. Acara-acara di sekolah ini memang selalu padat, to the point, gak kebanyakan acara seremoninya. Lalu tibalah di akhir acara. Sang host menyampaikan informasi yang saya tidak tahu persisnya seperti apa. Tapi kira-kira seputar makanan karena ada disebut kata "mat" (makanan). Lalu para hadirin pun bubar. Saya dan suami berniat mengikuti saja kemana para hadirin akan pergi. Namun kemudian Khayla menghampiri dan mananyakan apakah kami mengerti apa yang disampaikan pembawa acara. Spontan saya katakan tidak. Mendingan jujur kan, daripada bilang mengerti tapi kenyataannya gak mengerti apa-apa. Lalu ia menjelaskan ada instruksi untuk menuju ruang kelas untuk mencicipi makanan yang dibawa oleh semua siswa. Ah asyik, ini dia saat yang ditunggu-tunggu! Para orang tua diwajibkan untuk bertanggung jawab mengawasi anaknya masing-masing.  Sekalian saja saya bertanya apa boleh saya mengambil gambar makanan dan suasana di kelas nanti. Khayla menjawab boleh, asal tidak mengambil gambar individu. Oke, noted, Khayla^^

Sampai di ruangan kelas, para orang tua murid sudah mengantri mengambil hidangan. Piring, sendok, garpu, pisau plastik disediakan. Kue-kue dan berbagai cemilan cantik pun langsung menyergap mata saya. Bingung memilihnya. Semua tampak lezat. Aduh nyobain yang mana dulu yaaa? Akhirnya saya pun memilih beberapa kue yang manis dulu. Ada cup cakes, roti kering keju, roti bakar, cookies dan sejenis kue bantal kalo di Indonesia. Banyak juga dalam satu piring. Begitu sampai di tempat duduk, agak malu juga karena orang-orang Eropa tampak minimalis piringnya. Cuma ada satu jenis kue saja! Jadi rupanya, orang-orang sini itu terbiasa mengambil seperlunya. Habiskan yang ada di piring, kalau kurang silakan tambah lagi. Hiksss maluuuu.... tapi setidaknya kami dapat ilmu lagi malam itu hehe...

Suasana mengantri mengambil hidangan

Lalu perburuan makanan saya berlanjut ke yang rasanya asin/gurih. Saya pilih Italian pastasalat, mie goreng, spaghetti, kebab, nasi siram kacang ala Kurdistan, kefta (sejenis perkedel daging tanpa kentang asal Maroko). MasyaAllah, rasa yang berbeda-beda, unik dan enak.  Sayang tidak semua kue ada nama dan asal negaranya, jadi tidak semua kita tau asal makanan itu darimana. Memang sedari awal, instruksi dari sekolah hanya dimohon mencantumkan bahan yang mengandung kacang tanah saja, kuatir ada yang alergi.

Dari berbagai hidangan, ada yang laku keras cepat habis. Ada yang sampai acara selesai, masih banyak saja. Dari pengamatan sekilas saya, kue yang laku keras itu yang manis dan berwarna menarik. Cup cakes paling laris! Ya namanya juga anak-anak ya, sukanya yang manis-manis. Ada juga yang meski berwarna menarik menyegarkan mata, namun tak laku karena mengandung "pork". Ya, sekitar 60% siswa kelas 2 itu Muslim ternyata. Pork, pig, pepperoni, bacon, ham pada makanan tentu saja dihindari.

Semua nampak lezaaat
Kalau ditanya apa favorit hidangan malam itu, saya agak kesulitan menjawab. Saya suka dessert dari Irak (Baghdad). Warnanya oranye karena menggunakan wortel mentah. Manis dan segar. Seperti wajik tapi jenis "raw" nya gitu hehe. Saya juga suka puding asal Norwegia. Disiram saus stroberi, puding dan sausnya tidak terlalu manis. Enak banget, cocok dilidah saya. Kemudian saya juga suka chicken spring roll. Saya juga suka Italian pastasalat. Ada juga makanan asal Rumania yang unik dan enak. Terbuat dari daging sapi yang diblender halus, kental aroma pasta tomat yang asam-asam segar gitu, ada juga rasa rempahnya yang asing buat saya, dibungkus dengan daun tipis dan gak tau namanya. Ah, sayang saya tak sempat mengambil gambarnya. Suami saya sempat bertanya pada pembuatnya, untuk menanyakan apa isinya kuatir meengandung daging babi. Sayang sekali banyak yang tidak tahu karena tidak ada tulisannya.

Sudah dicoba semua nih kayaknya. Waktunya pulang. Sebelum pulang kami sempat berbincang dulu dengan Khayla dan Trunn. Ternyata Khayla berasal dari Palestina. Alhamdulillah, kesampaian juga cita-cita bertemu saudara dari sana. Jadi mengharu biru deh. Apalagi saat Khayla memeluk saya sambil mengatakan "sister" dan menitipkan salam buat teman saya di sini yang ia kenal. Saya titip Salman ya, my sister Khayla. Sampai bertemu lagi di acara menarik selanjutnya^^

Bersama Khayla, guru Salman



2 comments:

  1. Bihihi macam acara maulidan kalo di Indonesia. Bocah2 pada bawa kue dari rumah untuk ditukar-tukar sama temen sekelas.

    Balik ke Indonesia harus bisa menu masakan Norway dong Mak.... :D

    ReplyDelete
  2. Hehe iya juga yak, kayak maulidan. Belajar dikit2 masakan Norway. Sebenernya enak karena tipe masakan mereka gak banyak bumbu, tapi mengandalkan rasa asli bahan bakunya. Siiplah kapan2 ngeshare resep ala Norway deh^^

    ReplyDelete