Wednesday, June 22, 2016

Menjelajahi Ringve Botaniske Hage

Beautiful RBH. Foto: koleksi pribadi
Hari itu langit mendung sedari pagi. Suhu sekitar 8°C. Cukup dingin untuk ukuran musim panas. Ya, beginilah di daerah utara benua Eropa, musim panas pun terasa dingin. Subhanallah. Meskipun begitu, mendung tak berarti selalu turun hujan. Siapapun masih bisa beraktivitas di luar rumah.

Sebenarnya sih di saat cuaca seperti itu, lebih enak tinggal di dalam rumah saja. Tapi karena ada keperluan harus membeli barang mengejar diskon hari itu (namanya juga emak-emak modis hehe), akhirnya terpaksa keluar rumah juga. Semula tak ada niat mampir ke Ringve Botaniske Hage (RBH), tapi akhirnya kami membelokkan diri juga ke sana. 

Memasuki RBH yang terasa adalah suasana seperti Taman Bunga Nusantara Cipanas. Hanya dalam skala yang lebih kecil. Bedanya, di sini tidak dikenakan harga tiket masuk alias gratis. Trondheim memang kota kecil, tak lebih besar dari Depok Jawa Barat, namun dikelola dengan sangat baik. Warga mendapat pelayanan maksimal dari pemerintah. Semua orang menikmati pajak yang mereka bayarkan.

Memasuki gerbang RBH, kami disuguhkan oleh papan pengumuman yang berisi deskripsi umum taman ini. Di sana tertulis bahwa RBH merupakan kebun raya yang dikelola oleh Norges Teknisk Naturvitenskapilege Universitet (NTNU) atau Norwegian University of Science and Technology. Diresmikan pada tahun 1973, sebagai bagian dari NTNU University Museum. RBH memiliki luas sekitar 13 hektar. Koleksinya digunakan untuk pendidikan dan penelitian serta konservasi spesies tumbuhan yang terancam punah.

Papan Pengumuman ditulis dalam bahasa Norsk dan Inggris. Foto: koleksi pribadi
Di sini pengunjung bisa menikmati berbagai keanekaragaman botani dan mempelajarinya lebih lanjut. Di papan pengumuman itu pula dijelaskan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan pengunjung, seperti bagi yang membawa anjing peliharaan agar menjaga agar anjing tetap dalam posisi terikat, pengunjung diperkenankan menggunakan taman untuk piknik, tidak boleh melakukan kegiatan membakar api unggun atau barbeque, tidak boleh memetik tanaman, tidak boleh naik sepeda di taman, tidak boleh bermain bola atau frisbee di taman.

RBH merupakan taman sistematis. Tanaman dikelompokkan sesuai dengan hubungan familinya. Setiap  famili ditempatkan dalam satu kamar dan dibatasi oleh pagar. Pagarnya dari tanaman Alperips (Ribes Alpinum). Bagian bawah dari taman menyajikan tanaman pakis dan tanaman penghasil spora lainnya. Bagian utama dari koleksi yang dimiliki RBH adalah jenis tanaman yang perkembangbiakannya melalui penyerbukan oleh serangga. Ada sekitar 1.000 spesies yang berbeda yang berada di 50 kamar. Selain aneka variasi bunga, jenis buah-buah juga tersedia di sana.

Taman Renaissance adalah pemandangan pertama yang kami temui setelah membaca papan pengumuman. Semula saya kira ini adalah taman labirin. Kalau benar taman labirin, saya tidak mau masuk, takut susah keluar hehe. Termyata bukan. Ini adalah taman yang memiliki bentuk dan koleksi tanaman seperti yang dianjurkan oleh buku berkebun pertama di Norwegia, buku yang dirilis di Trondheim pada tahun 1694. Wow cukup lama juga ya!

Bentuk Taman Renaissance terdiri dari satu permukaan persegi yang terbagi dari beberapa kolom tempat bunga tumbuh. Kolom bunga itu berbentuk geometris, dibingkai oleh tepi rumput sempit dan dipisahkan oleh jalan kerikil. Hal ini mencerminkan kebangkitan masa depan model taman, dimana struktur hiasan harus mencerminkan kontrol manusia atas alam. Di tempat ini dibudidayakan tanaman hias, sayuran, obat-obatan dan rempah-rempah. Sayang sekali saya tidak mengambil foto di tempat ini, keburu terpesona sama bunga-bunganya heuheu.

Dari Taman Renaissance, kami menuju Taman Moten. Konon katanya taman ini seperti hamparan karpet bunga pada bulan April. Taman yang terletak di sebelah selatan RBH ini memiliki lanskap padang rumput bergaya Northern Europe. Pohon-pohon besar seperti Beech, Linden, Elm, dan Kastanye menjadi ciri khas taman ini. Tanaman bunga bawang (løk blomstring) tumbuh subur di bawah pohon-pohon besar itu. Tangga batu monumental menghubungkan taman dan bangunan utama RBH. Di depan bangunan utama RBH, ditanam bunga dengan tema berbeda setiap tahun.

Bunga cantik, lupa namanya hehe. Foto: koleksi pribadi
Di tengah jalan, suami saya bercerita bahwa taman ini juga dilengkapi oleh kolam besar. "Wah asyik, ayo kita ke sana", saya berseru riang. Kolam ini ditumbuhi berbagai pepehonan dan semak-semak. Dari jauh saya melihat beberapa keluarga Norwegia sedang ber-piknik di sana. Keluarga muda dengan anak balita bersama kakek nenekya terlihat tertawa-tawa ceria. Si balita berusaha menangkap bebek yang ada di sekitar pinggir kolam. Bebek-bebek itu sengaja diberi roti agar mendekat. Saya suka pemandangan seperti ini dan tak lupa mengambil gambarnya. Saat sedang memotret, seorang kakek Norwegia menghampiri saya. Ia melontarkam idenya agar saya mengambil gambar lebih dekat pada bebek-bebek itu. "Bebeknya jinak kok", katanya. Hihi, tentu saja, Kek. Cekrek, saya memfoto bebek itu.

Bebek hidup tenang di kolam RBH. Foto: koleksi pribadi


Meski mendung, pengunjung tetap ramai. Foto: koleksi pribadi
Jenis tanaman yang hidup di sekitar kolam adalah jenis tanaman yang umum berada di Eropa, Siberia dan Kanada. Jenis tanaman itu adalah Arboretum, yang artinya tanaman berkayu seperti semak dan pepohonan. RBH memiliki sekitar 120 spesies. Konifer Cemara (Picea), Pinus, Cemara (Abies), Larch (Larix), Birch (Betula) dan Willow (Salix). Lebih lanjut tentang koleksi RBH bisa diakses melalui website di sini.

Puas menikmati kolam, kami melanjutkan ke Gamlehagen (Kebun Tua). Kenapa dinamakan Kebun Tua? Rupanya kebun ini berisi koleksi tanaman kebun tradisional Norwegia. Seperti warisan turun temurun, taman ini mengisahkan bagaimana orang jaman dulu memggunakan berbagai jenis tumbuhan dalam kehidupan mereka. Banyak tanaman yang sudah tidak dijual lagi di toko, dapat ditemukan di Kebun Tua ini.

Melalui proyek "Pelestarian Tanaman Kebun di Sentral Norwegia", tercatat ada tiga kabupaten di Norwegia yang telah diteliti koleksi tanamannya. Kebanyakan tanamannya memiliki sejarah dari sebelum tahun 1950-an. Kebun Tua diresmikan pada bulan Agustus 2007. Ini merupakan proyek berkesinambungan yang dilakukan oleh bagian Genetic Resource Centre Norwegia.

Penjelajahan kami berakhir di Kebun Tua. Baru di Kebun Tua inilah, saya kemudian berkeinginan untuk memposting fotonya di media sosial Facebook. Sementara untuk menuliskan dalam bentuk artikel seperti ini adalah ide suami saya. Saya sendiri awalnya malas. Namun suami saya mengingatkan siapa tahu artikel ini berguna bagi orang lain, seperti beberapa artikel saya sebelumnya. Hm...baiklah :)

RBH meninggalkan kesan cukup mendalam bagi saya. Pokoknya harus kembali lagi ke sini, tekad saya. Dari semua kesan itu, ada hal yang membuat gregetan keki. Saat saya melihat kumpulan beraneka bunga tulip yang ditaman dalam satu area berbentuk lingkaran. Cukup besar lingkarannya, berdiameter sekitar 2 meter. Bunga-bunga tulip itu telah mekar (tidak lagi berbentuk kuncup), bahkan ada yang sudah layu. Duh, padahal saya kepingin sekali melihat bunga-bunga tulip dalam bentuk segarnya. Kami memang telat datang ke sana. Seandainya datang sebulan lebih awal, bunga-bunga itu pasti masih cantik dipandang. Bunga tulip memang termasuk yang hadir di awal musim semi. Tapi ya sudah, apa hendak di kata deh :(

Idealnya sih, supaya punya gambaran lengkap tentang taman ini, kami datang di setiap musim yang berbeda. Musim semi pasti beda dengan musim gugur, apalagi dengan musim dingin, saat salju meyelimuti isi taman. Setiap musim dengan keunikannya masing-masing, tentu memiliki keindahannya tersendiri.

Ah, pokoknya gak boleh lupa datang ke sini lagi musim berikutnya ya, Dini!

Sunday, June 19, 2016

Banyak Memberi, Banyak Menerima



Tulisan ini sambungan dari artikel sebelumnya.

Perut lapar sementara perbekalan habis membuat kami memutuskan untuk mampir ke Flakk Pizza and Grill. Posisinya tepat di samping dermaga. Sekedar duduk dan ngemil saja niatnya. Ternyata kegiatan hampir setengah hari memancing cukup menguras energi. Bergegas, kami menuju ke restoran itu.

Dari luar restoran ini terlihat menyenangkan. Auranya mengundang orang untuk mampir. Bercat putih, beraksen lis merah dan hijau, matching sekali. Poster iklan turut menghiasi dinding luar. Menampilkan makanan apa saja yang mereka jual. Ada pizza, kebab, hamburger, kjøttretter dan salad. Semua itu seperti magnet yang menarik para pengendara mobil untuk mampir sejenak. Poster memang sarana iklan yang cukup efektif. Kursi-kursi dari kayu berjejeran di depan dan samping toko. Sinar matahari menyinari tempat itu. Hangat. Orang-orang lebih memilih duduk di luar daripada di dalam. Suasana summer begini memang sangat dinikmati orang-orang Norwegia. Bagaimana tidak, suhu 19°C adalah suhu yang sempurna. Meski matahari bersinar terik, tapi tidak terasa panas. Tapi jangan salah, tau-tau kulit jadi gosong. Justru itu yang mereka incar. Kulit gelap adalah dambaan para bule heuheu

Interior dalam toko tak kalah menarik. Lantai bermotif papan catur, kotak-kotak hitam putih, mengingatkan saya kepada Bali. Etalase rak makanan menyuguhkan berbagai cemilan seperti coklat, permen, roti dan kue. Di meja pemesanan terpampang berbagai menu berikut harganya. Di sana berdiri penjaga kasir (mungkin juga pemilik toko) dengan seragam berwarna merah. Dari rupa wajahnya, agaknya ia orang Turki. Dengan senyum hangat dan ucapan assalamu'alaikum, ia menyapa kami. Senangnya bertemu sesama Muslim di negara ini. Alhamdulillah, jadi yakin juga kalau makanan yang dijualnya pasti halal.

Kami mulai memilih menu. Kebetulan ada kebab, favoritnya anak-anak. Sepertinya memesan 2 porsi untuk berempat cukup, karena biasanya porsinya besar. Eh, si penjaga kasir malah bilang, cukup 1 porsi aja karena kebab yang kami pilih porsinya besar. Ya sudahlah kami menurut aja. Jadi cuma dipesan 1 porsi kebab dan 2 botol minuman soft drink.

Sambil menunggu pesanan datang, kami berbincang, membahas kegiatan memancing tadi. Tertawa -tawa mengingat peristiwa Si Sulung yang berhasil "mengalahkan" 3 orang pemancing dewasa bertubuh kekar. Tak lama pesanan datang. Diantar oleh gadis Turki yang cantik. Dan ternyata kebabnya besar sekali. Sebesar tampah! Ini kebab terbesar yang pernah kami temui. Dimakan berempat pun tidak mungkin habis.  Kejutannya masih ada lagi. Sang pelayann cantik memberi bonus sekotak besar kentang goreng. "Ini bonus dari kami", katanya. Alhamdulillah, rejeki munggahan hari ini banyak sekali. 

Sambil menyantap kebab yang lezat itu, kami mengira-ngira gerangan apa yang membuat kami diberi bonus. Sebagai sesama Muslim kah? Sebagai hadiah menjelang Ramadhan kah?Ah, apapun itu kami mensyukuri saja. Tapi hati ini meyakini bahwa rejeki yang diberikan kepada orang lain, pasti akan kembali pada si pemberi

Tak lama, sekitar 10 menit kami menyantap hidangan, restoran mulai ramai. Sebelumnya, cuma kami pengunjung yang ada di dalam. Sekelompok remaja tanggung, pasangan muda-mudi, sampai keluarga dengan anak-anak kecil mengantri menunggu giliran memesan makanan. Antriannya cukup panjang. Dimulai dari meja pesanan sampai ke pintu masuk. Ramai!

MasyaAllah, saya langsung meyakini ramainya pengunjung ini adalah salah satu efek bonus yang penjual berikan kepada kami. Semakin banyak berbagi, semakin banyak menerima. Semakin banyak berbagi, semakin kaya akan rejeki. Semua itu bukanlah sekedar teori. Meski sulit dijelaskan secara ilmiah, tapi kenyataannya sudah banyak bukti orang yang gemar berbagi tidak akan menjadi miskin, justru ia semakin kaya. Saat berbagi, apa yang dibagikan tidak akan berkurang. Justru akan bertambah. Minimal tumbuh rasa bahagia di dalam hati, efek paling cepat, paling egois dari berbagi.

Alhamdulillah, hari ini satu lagi pelajaran kami dapatkan. Kejadian di depan mata ini menjadi contoh yang baik sekali buat anak-anak. Semoga selalu terpatri dalam benak dan hati mereka bahwa berbagi tidak akan pernah merugi, justru mendatangkan keuntungan dan kebahagiaan, jika dilakukan dengan ikhlas. InsyaAllah.



                                                                                                    

Wednesday, June 8, 2016

Bukan Munggahan Biasa

Si Sulung beraksi dengan kailnya. Foto: koleksi pribadi
Sudah lama gak menulis, rasanya susah juga. Otot-otot tangan terasa kaku. Mandeg. Banyak kata di pikiran yang gak bisa tertuang. Keadaan ini tak boleh dibiarkan lama. Jadi meski sekenanya, yang penting menulis kan heuheu.

Oke, saya mau cerita aja pengalaman munggahan kami sekeluarga sebelum Ramadhan. Munggahan yang mepet banget. H-1 Ramadhan. Munggahan ini bisa dibilang munggahan yang tak biasa. Munggahan sekalian piknik. Outdoor activity bahasa kerennnya. Outdoor activity sudah lama menjadi kegiatan rutin kami sekeluarga, bahkan semenjak masih tinggal di Indonesia. Apalagi sejak tinggal di Norwegia yang terkenal dengan keindahan alamnya. Kalo gak ber-outdoor activity rasanya rugi banget.

Maka diagendakanlah piknik di alam terbuka ini. Laut menjadi pilihan. Selain anak-anak bisa bermain air -sekedar menuntaskan kangen pada pantai di tanah air-, orang tua pun bisa memancing ikan. Untuk memancing, di Trondheim ada aturan tertulisnya. Memancing di danau dikenai tarif sebesar 70 Kr atau hampir setara  Rp. 140.000,- per orang. Sementara di laut tidak dikenakan biaya. Tempo hari kami pernah memancing di danau dengan hasil nihil alias tidak membawa ikan seekor pun. Rugi banget hikss... Selidik punya selidik, ternyata kesalahannya ada pada umpan yang tidak tepat.

Area yang menjadi pilihan  untuk munggahan kali ini bernama Flakk. Cukup jauh juga dari tempat tinggal kami di Nardo, jaraknya sekitar 18 Km. Selain lokasi dermaga ada di sini, Flakk juga dikenal sebagai tempat kemping. Wah, asyiknya, sudah lama kami berencana kemping di alam terbuka, namun belum juga terealisasi. Maka diniatkan tujuan ke sana sekalian survey juga.

Perjalanan menuju Flakk sangat menyenangkan. Menyusuri pinggir fjord (laut yang menjorok ke darat), meluncur di jalanan mulus, melewati lereng tebing bebatuan alami, pohon dan bunga yang mulai tumbuh subur, burung camar beterbangan dan saling bersahutan, membuat saya sepenuh hati menikmatinya. Dari semua pemandangan yang paling berkesan adalah saat menyusuri pinggir fjord. Indah sekali! Paduan view kecantikan alam dan kota metropolitan yang modern membuat siapa pun betah berada di sini.

Memasuki Flakk lagi-lagi pemandangan indah terhampar di depan kami. Hijaunya ladang gandum, rumah-rumah bergaya khas Eropa, ditambah laut berwarna biru yang terlihat dari kejauhan. Duh, pemandagan yang sering saya lihat di kalender nih hehe...Bunga-bunga liar bertebaran di mana-mana. Dandelion, si bunga gigi singa yang paling awal hadir di musim semi, segera tergantikan oleh Yellow Poppy. Sama-sama berwarna kuning memikat. Pergantian bunga menjadi keunikan tersendiri di musim ini. Tak sabar ingin tau, setelah Poppy bunga apa lagikah yang akan muncul?

Pemandangan yang "simple" tapi indah ya? Foto: koleksi pribadi

Sampai di dermaga, demi melihat kapal besar yang bagus, anak-anak kepingin naik. Walah, niat semula kan cuma hendak memancing, ini kok malah minta naik kapal! Namanya sayang anak, Pak Suami lalu mencari informasi. Ternyata naik kapal itu gratis! Wah, senangnya. Lumayan kan, pengalaman berharga naik kapal bagus walau cuma untuk menyeberang saja. Kapal ini tidak cuma bagus, tapi juga bersih. Dilengkapi dengan sarana bermain anak-anak, kursi yang nyaman, TV dan fasilitas lain. Salman, Si Bungsu yang paling terlihat menikmati dengan antusias. Dia duduk sambil tertawa-tawa senang. Matanya memandang keluar jendela. Saat bosan, bersama kakak dan ayahnya, mereka bermain di dek kapal. Sementara ibunya apdet status di Faceboook hehe

Suasana kapal yang nyaman. Foto: koleksi pribadi
Dandelion yang siap terganti dengan bunga lain. Foto: koleksi pribadi
30 menit kemudian kapal sampai di Rørvik, Nord Trøndelag, Provinsi tetangga kami, Sor Trøndelag. Pemandangannya juga sama indahnya. Semakin hari saya semakin memahami kenapa Norway menjargonkam dirinya dengan tagline Powered by Nature. Alam di negara ini memang indah sekali.

Kami lalu mencari tempat untuk membuka bekal makan siang. Alif, Si Sulung sudah kelaparan. Eh tapi bekal gak bisa langsung dimakan nih, harus dibakar dulu. Kami memang berniat barbeque di pinggir pantai. Rasanya enak banget makan sate hangat di udara sejuk begini. Sambil menunggu sate dibakar, anak-anak bermain air di pinggir pantai. Tak bisa lama-lama juga karena airnya dingin. Pantas saja bule-bule Eropa sangat menikmati berenang di pantai Indonesia yang hangat.

Selesai menikmati sate, sholat Dzuhur dan membereskan perlengkapan bakar membakar sate, kami langsung memancing. 3 buah alat pancing sudah dipersiapkan. Untuk Pak Suami, Alif dan Salman (biasanya dilanjutkan dengan ibunya). Kali ini umpan yang sudah disiapkan adalah udang segar. Nasib baik sedang berpihak pada kami. Cuma butuh 20 menit saja, 3 ekor ikan berhasil didapat. Alhamdulillah, rejeki munggahan nih.

Selesai memancing di Rørvik, hari masih siang menenjelang sore. Kami lalu berniat memancing lagi di Flakk. Ingin tau pengalaman memancing di sana. Naik kapal kami menuju Flakk. Lagi-lagi gratis. Kali ini kapal cukup ramai oleh kelurga dejgan anak-amak kecil. Sepertinya mereka baru selesai berakhir pekan di Rørvik. Saya suka suasana seperti ini. Anak-anak bercanda dan tertawa. Ah, indahnya dunia anak yang tanpa beban ya.

Beda tempat, beda peruntungan. Di Flakk, meski sudah menunggu hampir 1 jam, ikan tak jua di dapat. Berpindah-pindah posisi, berganti umpan, hasilnya tetap nihil. Sementara waktu sudah menunjukkan waktu sholat Ashar. Menggelar sajadah, saya sholat di pinggir dermaga. Sempat menjadi tontonan penumpang kapal yang lewat. Hmm...biarlah, sekalian dakwah juga kan.

Karena kail tak juga ditangkap ikan, Si Sulung melontarkan ide agar kami kembali ke Rørvik. Siapa tau bisa dapat ikan lagi di sana. Toh naik kapalnya gratis. Boleh juga idenya, tapi waktu sudah terlalu sore. Lain kali saja ya, Nak. Ia pum menurut. Kami sudah capek dan lapar juga sore itu.

Bersambung ke sini :)