Wednesday, June 8, 2016

Bukan Munggahan Biasa

Si Sulung beraksi dengan kailnya. Foto: koleksi pribadi
Sudah lama gak menulis, rasanya susah juga. Otot-otot tangan terasa kaku. Mandeg. Banyak kata di pikiran yang gak bisa tertuang. Keadaan ini tak boleh dibiarkan lama. Jadi meski sekenanya, yang penting menulis kan heuheu.

Oke, saya mau cerita aja pengalaman munggahan kami sekeluarga sebelum Ramadhan. Munggahan yang mepet banget. H-1 Ramadhan. Munggahan ini bisa dibilang munggahan yang tak biasa. Munggahan sekalian piknik. Outdoor activity bahasa kerennnya. Outdoor activity sudah lama menjadi kegiatan rutin kami sekeluarga, bahkan semenjak masih tinggal di Indonesia. Apalagi sejak tinggal di Norwegia yang terkenal dengan keindahan alamnya. Kalo gak ber-outdoor activity rasanya rugi banget.

Maka diagendakanlah piknik di alam terbuka ini. Laut menjadi pilihan. Selain anak-anak bisa bermain air -sekedar menuntaskan kangen pada pantai di tanah air-, orang tua pun bisa memancing ikan. Untuk memancing, di Trondheim ada aturan tertulisnya. Memancing di danau dikenai tarif sebesar 70 Kr atau hampir setara  Rp. 140.000,- per orang. Sementara di laut tidak dikenakan biaya. Tempo hari kami pernah memancing di danau dengan hasil nihil alias tidak membawa ikan seekor pun. Rugi banget hikss... Selidik punya selidik, ternyata kesalahannya ada pada umpan yang tidak tepat.

Area yang menjadi pilihan  untuk munggahan kali ini bernama Flakk. Cukup jauh juga dari tempat tinggal kami di Nardo, jaraknya sekitar 18 Km. Selain lokasi dermaga ada di sini, Flakk juga dikenal sebagai tempat kemping. Wah, asyiknya, sudah lama kami berencana kemping di alam terbuka, namun belum juga terealisasi. Maka diniatkan tujuan ke sana sekalian survey juga.

Perjalanan menuju Flakk sangat menyenangkan. Menyusuri pinggir fjord (laut yang menjorok ke darat), meluncur di jalanan mulus, melewati lereng tebing bebatuan alami, pohon dan bunga yang mulai tumbuh subur, burung camar beterbangan dan saling bersahutan, membuat saya sepenuh hati menikmatinya. Dari semua pemandangan yang paling berkesan adalah saat menyusuri pinggir fjord. Indah sekali! Paduan view kecantikan alam dan kota metropolitan yang modern membuat siapa pun betah berada di sini.

Memasuki Flakk lagi-lagi pemandangan indah terhampar di depan kami. Hijaunya ladang gandum, rumah-rumah bergaya khas Eropa, ditambah laut berwarna biru yang terlihat dari kejauhan. Duh, pemandagan yang sering saya lihat di kalender nih hehe...Bunga-bunga liar bertebaran di mana-mana. Dandelion, si bunga gigi singa yang paling awal hadir di musim semi, segera tergantikan oleh Yellow Poppy. Sama-sama berwarna kuning memikat. Pergantian bunga menjadi keunikan tersendiri di musim ini. Tak sabar ingin tau, setelah Poppy bunga apa lagikah yang akan muncul?

Pemandangan yang "simple" tapi indah ya? Foto: koleksi pribadi

Sampai di dermaga, demi melihat kapal besar yang bagus, anak-anak kepingin naik. Walah, niat semula kan cuma hendak memancing, ini kok malah minta naik kapal! Namanya sayang anak, Pak Suami lalu mencari informasi. Ternyata naik kapal itu gratis! Wah, senangnya. Lumayan kan, pengalaman berharga naik kapal bagus walau cuma untuk menyeberang saja. Kapal ini tidak cuma bagus, tapi juga bersih. Dilengkapi dengan sarana bermain anak-anak, kursi yang nyaman, TV dan fasilitas lain. Salman, Si Bungsu yang paling terlihat menikmati dengan antusias. Dia duduk sambil tertawa-tawa senang. Matanya memandang keluar jendela. Saat bosan, bersama kakak dan ayahnya, mereka bermain di dek kapal. Sementara ibunya apdet status di Faceboook hehe

Suasana kapal yang nyaman. Foto: koleksi pribadi
Dandelion yang siap terganti dengan bunga lain. Foto: koleksi pribadi
30 menit kemudian kapal sampai di Rørvik, Nord Trøndelag, Provinsi tetangga kami, Sor Trøndelag. Pemandangannya juga sama indahnya. Semakin hari saya semakin memahami kenapa Norway menjargonkam dirinya dengan tagline Powered by Nature. Alam di negara ini memang indah sekali.

Kami lalu mencari tempat untuk membuka bekal makan siang. Alif, Si Sulung sudah kelaparan. Eh tapi bekal gak bisa langsung dimakan nih, harus dibakar dulu. Kami memang berniat barbeque di pinggir pantai. Rasanya enak banget makan sate hangat di udara sejuk begini. Sambil menunggu sate dibakar, anak-anak bermain air di pinggir pantai. Tak bisa lama-lama juga karena airnya dingin. Pantas saja bule-bule Eropa sangat menikmati berenang di pantai Indonesia yang hangat.

Selesai menikmati sate, sholat Dzuhur dan membereskan perlengkapan bakar membakar sate, kami langsung memancing. 3 buah alat pancing sudah dipersiapkan. Untuk Pak Suami, Alif dan Salman (biasanya dilanjutkan dengan ibunya). Kali ini umpan yang sudah disiapkan adalah udang segar. Nasib baik sedang berpihak pada kami. Cuma butuh 20 menit saja, 3 ekor ikan berhasil didapat. Alhamdulillah, rejeki munggahan nih.

Selesai memancing di Rørvik, hari masih siang menenjelang sore. Kami lalu berniat memancing lagi di Flakk. Ingin tau pengalaman memancing di sana. Naik kapal kami menuju Flakk. Lagi-lagi gratis. Kali ini kapal cukup ramai oleh kelurga dejgan anak-amak kecil. Sepertinya mereka baru selesai berakhir pekan di Rørvik. Saya suka suasana seperti ini. Anak-anak bercanda dan tertawa. Ah, indahnya dunia anak yang tanpa beban ya.

Beda tempat, beda peruntungan. Di Flakk, meski sudah menunggu hampir 1 jam, ikan tak jua di dapat. Berpindah-pindah posisi, berganti umpan, hasilnya tetap nihil. Sementara waktu sudah menunjukkan waktu sholat Ashar. Menggelar sajadah, saya sholat di pinggir dermaga. Sempat menjadi tontonan penumpang kapal yang lewat. Hmm...biarlah, sekalian dakwah juga kan.

Karena kail tak juga ditangkap ikan, Si Sulung melontarkan ide agar kami kembali ke Rørvik. Siapa tau bisa dapat ikan lagi di sana. Toh naik kapalnya gratis. Boleh juga idenya, tapi waktu sudah terlalu sore. Lain kali saja ya, Nak. Ia pum menurut. Kami sudah capek dan lapar juga sore itu.

Bersambung ke sini :)











1 comment:

  1. This is your travel blog but the stuff you have posted is in quite a different language and I want you to kindly translate this in simple language.

    ReplyDelete